Selasa, 09 Desember 2014

Taman Mini Indonesia Indah

Taman Mini Indonesia Indah

Di Jakarta, atau tepatnya lagi di daerah Jakarta Timur anda bisa menemukan sebuah objek wisatabertema budaya Indonesia.Nama objek wisata itu adalah Taman Mini Indonesia Indah (TMII),dimana tempat ini merupakan rangkuman kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia pada tahun 1975 yang ditampilkan dalam anjungan daerah berarsitektur tradisional,juga menghadirkan aneka busana, tarian dan tradisi daerah.

Objek wisata yang memiliki luas areal sekitar 150 hektar ini dibangun tahun 1972 dan diresmikan pada tanggal 20 April 1975.Berbagai aspek kekayaan alam dan budaya Indonesia sampai pemanfaatan teknologi modern ditampilkan di taman ini.



Aslinya topografi Taman Mini Indonesia Indah sedikit berbukit, namun ini sesuai dengan keinginan perancangnya. Tim perancang memanfaatkan ketinggian tanah yang tidak rata ini untuk menciptakan bentang alam dan lansekap yang kaya, menggambarkan berbagai jenis lingkungan hidup di Indonesia.

Taman
Di Taman ini terdapat 10 macam taman yang menunjukkan keindahan flora dan fauna Indonesia,Dan berikut dibawah ini adalah taman yang wajib anda kunjungi ketika anda berkunjung di ke Taman Mini Indonesia Indah.

  • Taman Ria Atmaja Park, panggung pagelaran musik
  • Taman Budaya Tionghoa Indonesia (tengah dibangun)
  • Taman Anggrek
  • Taman Bunga Keong Emas
  • Akuarium Ikan Air Tawar
  • Taman Bekisar
  • Taman Burung
  • Taman Apotek Hidup
  • Taman Kaktus
  • Taman Melati

Sarana rekreasi
  • Taman Among Putro
  • Istana Anak-anak Indonesia
  • Kereta gantung
  • Taman Ria Atmaja
  • Desa Wisata
  • Kolam renang Snow Bay
  • Perahu Angsa Arsipel Indonesia

Bangunan keagamaan
  • Masjid Pangeran Diponegoro
  • Pura Penataran Agung Kertabhumi
  • Sasana Adirasa Pangeran Samber Nyawa
  • Kuil Konghucu Kong Miao
  • Wihara Arya Dwipa Arama
  • Gereja Katolik Santa Catharina
  • Gereja Protestan Haleluya

Dimanakah Yesus selama tiga hari

Pertanyaan:Pernah kah terfikirkan  Di manakah Yesus dalam tiga hari antara kematian dan kebangkitanNya? Jawaban: 1 Petrus 3:18-19 memaparkan, “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara.” Frasa “menurut Roh” dalam ayat 18 memiliki konstruksi yang persis sama dengan frasa “dalam keadaannya sebagai manusia.” Karena itu nampaknya paling tepat kalau menempatkan kata “roh” dalam lingkup yang sama dengan kata “manusia (daging).” Roh dan daging adalah tubuh dan Roh Kristus. Kata “dibangkitkan menurut Roh” menunjuk pada fakta bahwa karena Dia menanggung dosa kita dan mati maka rohnya sebagai manusia terpisah dari Bapa (Matius 27:46). Kontrasnya adalah antara daging dan roh, sebagaimana dalam Matius 27:41 dan Roma 1:3-4, dan bukan antara tubuh Kristus dan Roh Kudus. Ketika Kristus telah selesai menebus dosa, rohNya kembali kepada persekutuan yang tadinya terputus itu. 1 Petrus 3:18-22 menggambarkan pentingnya kaitan antara penderitaan Kristus (ayat 18) dan kemuliaanNya (ayat 22). Hanya Petrus yang memberi informasi yang spesifik mengenai apa yang terjadi di antara kedua peristiwa itu. Kata “memberitakan” dalam ayat 19 bukan kata yang biasa dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menjelaskan pemberitaan Injil. Secara harafiah kata tsb, berarti membawa berita. Yesus menderita dan mati di salib, tubuhNya menderita kematian, dan rohNya mati ketika Dia dibuat menjadi dosa. Namun rohNya dihidupkan kembali dan Dia serahkan itu kepada sang Bapa. Menurut Petrus, dalam saat-saat antara kematian dan kebangkitanNya, Yesus melakukan pemberitaan khusus kepada “roh-roh yang di dalam penjara.” Dalam merujuk pada orang, Petrus menggunakan istilah “jiwa” dan bukannya “roh” (3:200. Dalam Perjanjian Baru, kata “roh-roh” digunakan untuk menggambarkan para malaikat atau roh-roh jahat, bukan manusia; dan ayat 22 kelihatannya memiliki makna ini. Dalam Alkitab, Yesus tidak pernah dikatakan berkunjung ke neraka. Kata “Hades” menunjuk kepada alam maut, sebuah tempat sementara untuk menantikan kebangkitan. Wahyu 20:11-13, dalam versi Alkitab New American Standard Bible (NASB) dan New International Version (NIV), membedakan keduanya dengan jelas. Neraka adalah tempat yang permanen dan merupakan tempat di mana orang-orang yang tidak percaya dihakimi. Hades adalah tempat yang sementara. Tuhan kita menyerahkan nyawanya kepada Bapa, mati, dan suatu ketika, di antara kematian dan kebangkitanNya, mengunjungi dunia orang mati di mana Dia membawa berita kepada roh-roh (kemungkinan para malaikat yang jatuh; lihat Yudas 6) yang entah bagaimana ada hubungannya dengan zaman sebelum banjir di zaman Nuh. Ayat 20 menyatakan hal ini dengan jelas. Petrus tidak mengatakan apa yang Yesus beritakan kepada roh-roh yang dipenjarakan ini, tapi jelas bukan berita penebusan karena malaikat tidak diselamatkan (Ibrani 2:16). Kemungkinan ini adalah pernyataan kemenangan atas Iblis dan pengikut-pengikutnya (1 Petrus 3:22; Kolose 2:15). Efesus 4:8-10 juga mengindikasikan bahwa Yesus pergi ke “Firdaus” (Lukas 16:20; 23:43) dan membawa ke surga mereka yang percaya kepadaNya sebelum Dia mati. Bagian Alkitab ini tidak memberi banyak detil mengenai apa yang terjadi, namun kebanyakan para sarjana Alkitab sepakat bahwa inilah artinya “Ia membawa tawanan-tawanan.” Jadi, yang dapat dikatakan adalah bahwa Alkitab tidak memberitahukan dengan jelas apa yang Yesus lakukan dalam tiga hari antara kematian dan kebangkitanNya. KelihatanNya, Dia memberitakan berita kemenangan kepada para malaikat yang jatuh dan/atau mereka yang tidak percaya. Apa yang kita tahu dengan pasti adalah bahwa Yesus tidak memberi kesempatan kedua untuk diselamatkan. Alkitab memberitahukan kita bahwa setelah mati kita dihakimi (Ibrani 9:27) dan bukan mendapat kesempatan kedua. Tidak ada jawaban yang jelas apa yang Yesus lakukan di antara saat kematian dan kebangkitanNya. Barangkali ini adalah salah satu misteri yang kita baru dapat mengerti saat kita masuk ke dalam kemuliaan. Baca lebih lanjut: http://www.gotquestions.org/Indonesia/Yesus-tiga-hari.html#ixzz3E3u19kem

Apakah itu Guskompindo?

                                           sebar iklan dengan memasang iklan disini

Pernyataan  guskompido yang ,menjawab  Misi dari  GABUNGAN KOMUNIKASI PEMBERITAAN FIRMAN INDONESIA

“ GUSKOMPIDO  Sangat  berusaha memuliakan Tuhan Yesus Kristus dengan menyediakan jawaban-jawaban  pertanyaan yang berdasarkan Alkitab, dapat diterapkan dan dijawab secara cepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hal-hal kerohanian  melalui Internet.”

 Guskmpindo  adalah pelayanan  dengan sukarela dari orang-orang yang berdedikasi dan terlatih yang memiliki keinginan untuk membantu orang-orang lain didalam pengertian mereka akan Allah, Alkitab, keselamatan dan topik-topik rohani lainnya. Kami adalah orang-orang Kristen Protestan, konservatif, injili, fundamental dan bukan berdasarkan denominasi. Kami memandang semua itu  diri kami sebagai lembaga bukan gerejawi, yang bersama-sama dengan gereja menolong orang menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan sekitar ke rohanian .

Dengan berdoa  kepaada Allah dan dengan riset yang menyeluruh, kami berusaha sebaik-baiknya menjawab pertanyaan-pertanyaan tsb dengan cara yang berdasarkan Alkitab. Tujuan kami bukanlah membuat Anda setuju dengan kami, namun untuk menunjukkan pada Anda apa yang Alkitab katakan sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan Anda.

Anda dapat yakin bahwa pertanyaan-pertanyaan Anda dijawab oleh orang-orang Kristen yang terlatih dan berdedikasi, yang mencintai Tuhan serta berkeinginan untuk menolong Anda dalam berjalan denganNya. Para staf penulis kami meliputi pada pendeta, pembina pemuda, misionari, konselor Alkitab, mahasiswa seminari/sekolah Alkitab, dosen seminari dan orang-orang awam yang mempelajari Firman Tuhan. Semua jawaban diteliti kembali oleh Presiden dan Pendiri kami untuk memastikan kebenaran dan ketepatannya secara Alkitabiah. Dia memiliki gelar Master dalam bidang Teologia Kristen dan gelar Sarjana dalam bidang Studi Biblika.

Semoga Allah memberkati Anda dengan limpahnya saat Anda berusaha untuk mempelajari FirmanNya dan bertumbuh dalam berjalan denganNya! (Roma 11:36).

Kebijakan Privasi:Kami tidak akan pernah memberikan alamat email Anda atau informasi pribadi Anda pada situs, pelayanan ataupun perusahaan manapun.


 

Rabu, 12 November 2014

Menangislah dengan orang yang menangis...”


silahkan mampir di toko on line kami

“Menangislah dengan orang yang menangis...”

Kita menemukan perkataan ini dalam Roma 12:15. Di mulai dari ayat ke-14, kita membaca:
Roma 12:14-15
“Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”
“Menangislah dengan orang yang menangis”, kata Firman Allah. Orang-orang di sekitar kita atau kita sendiri seringkali mengalami keadaan-keadaan yang sulit; keadaan yang menimbulkan kesedihan serta tangisan. Apa yang harus kita lakukan ketika diperhadapkan dengan keadaan seperti itu? Kita seharusnya memiliki belas kasihan dan pengertian, “Menangislah dengan orang yang menangis”. Ketika ketiga sahabat Ayub menjenguk Ayub, mereka mengoyak jubah mereka serta menangis bersama-sama dengan Ayub (Ayub 2:11-13). Ketika Yesus pergi untuk menjenguk keluarga Lazarus, ia pun menangis (Yohanes 11:35). Sebagaimana 1 Korintus 12:25-26 katakan kepada kita:
1 Korintus 12:24-26
“Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” 
Seringkali ada seorang anggota tubuh yang memperoleh penghormatan khusus. Marilah kita turut bersukacita bersamanya. Dan, seringkali ada seorang anggota tubuh yang menderita. Marilah kita turut menderita bersamanya. Sebagaimana dikatakan oleh Yakobus tentang orang-orang yang menderita, seperti para janda dan anak yatim piatu:
Yakobus 1:27
“Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”
Adakah seorang saudara kita yang berada dalam kesusahan? Janganlah kita menghindarinya. Menderitalah bersama-sama dengannya. Firman Tuhan berkata bahwa ada waktu untuk menangis dan ada waktu untuk tertawa (Pengkhotbah 3:4). Ini bukan berlaku hanya untuk beberapa orang dari antara kita tetapi untuk kita semua. Jadi, ketika seorang saudara mengalami waktu di mana ia menangis, janganlah kita bersikap acuh tak acuh terhadapnya, tetapi marilah kita menderita bersamanya. Sebaliknya, ketika ada seorang saudara yang mengalami waktu penuh tawa dan sukacita, janganlah kita cemburu terhadapnya, tetapi bersukacitalah bersamanya.



Roh Kudus: “Penolong yang lain”

silahkan mampir





Roh Kudus: “Penolong yang lain”

Di dalam Yohanes pasal 14-16, tak lama sebelum penangkapan-Nya oleh orang Yahudi, kita membaca bagaimana Yesus memberikan instruksi dan penghiburan terakhir-Nya kepada para murid. Ia tidak akan ada lagi bersama-sama dengan mereka. Memang mereka masih akan melihat-Nya lagi setelah kebangkitan-Nya tetapi hanya untuk sementara waktu, sampai kenaikan-Nya kepada Bapa. Fakta bahwa Yesus akan pergi kepada Bapa bisa berarti para murid akan ditinggalkan-Nya sendiri … kecuali bila Ia mengirimkan seorang pengganti, seorang yang akan menggantikan tempat-Nya, atau Ia akan datang dalam “bentuk yang lain.” Dan, seperti yang akan kita lihat, tepat seperti itulah yang terjadi! Sekalipun secara fisik Yesus tidak lagi hadir, Ia sesungguhnya jauh lebih hadir dari sebelumnya! Bagaimana caranya? Melalui Penolong, yaitu Roh Kudus. Penolong ini mengambil tempat Yesus sepenuhnya, melakukan apa yang akan Yesus lakukan apabila Ia hadir secara fisik bagi setiap murid-Nya. Mengenai murid, yang saya maksud bukan hanya mereka yang hadir di Taman Getsemani pada malam hari itu. Selain mereka, saya terlebih lagi merujuk kepada kita! Tidak ada seorang pun dari kita yang pernah bertemu langsung dengan Yesus, dalam darah dan daging, sebagaimana para murid bertemu dengan-Nya. Namun, oleh karena Sang Penolong, oleh karena Roh Kudus, kita tidak ditinggalkan tanpa Dia. Yohanes 14:15-18 mengatakan kepada kita:

Yohanes 14:15-18
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”

Di sini, Yesus Kristus sedang berbicara mengenai Roh Kudus dan Ia mengambarkan-Nya sebagai seorang Penolong yang lain. Meskipun Yesus akan pergi, Ia sebenarnya tidak meninggalkan mereka sendirian. Ia akan mengirimkan seorang Penolong YANG LAIN atau seorang yang akan menggantikan tempat-Nya, seorang yang akan melakukan apa yang akan Ia lakukan apabila Ia berada bersama dengan mereka, seorang yang menjadi pengganti kehadiran-Nya secara fisik. Meskipun Ia tidak lagi hadir secara fisik bersama dengan mereka, Ia hadir secara spiritual, melalui Sang Penolong. Dengan kata lain, memiliki Roh Kudus sama seperti memiliki Yesus. Dan bagi mereka yang mengikuti Yesus, Roh Kudus melakukan apa yang Yesus lakukan kepada murid-murid-Nya ketika Ia hadir secara fisik yaitu mengajar mereka, membimbing mereka, dan menghibur mereka. Itulah sebabnya Ia disebut Penolong YANG LAIN. Penolong pertama adalah Yesus dalam kehadiran-Nya secara fisik. Selang beberapa hari setelah kenaikan Yesus, Roh Kudus, Penolong kedua atau “Penolong yang lain,” yang menggantikan tempat Yesus sebagai Penolong yang Pertama, datang. Sebagaimana Barnes katakan dalam penafsirannya:

“Tatkala Yesus hidup bersama-sama dengan mereka, Ia telah menjadi penasihat, pembimbing, dan sahabat bagi mereka. Ia mengajar mereka, menanggung prasangka mereka dan ketidakmengertian mereka, serta memberikan penghiburan di saat mereka berputus asa. Tetapi, Ia akan segera meninggalkan mereka… Penolong yang lain akan diberikan sebagai ganti ketidakhadiran-Nya, atau untuk melakukan tugas-tugas-Nya terhadap mereka yang akan Ia lakukan apabila Ia tetap tinggal bersama dengan mereka. Dari sini kita dapat belajar sebagian dari tugas Roh Kudus, yaitu untuk mengajar dan menghibur semua orang Kristiani, tugas yang dilakukan oleh Yesus dalam kehadiran-Nya secara fisik…” (Albert Barnes’ Notes on the Bible).

Oleh karena itu saudara saudari yang terkasih di dalam Kristus: Anda tidak dibiarkan sendirian. Yesus tidak tinggal jauh dari Anda. Ia sangat dekat dengan Anda, melalui Penolong, yang ada di dalam Anda! Sebagaimana Kolose 1:26-27 katakan:

“yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!”

Kristus ADA DI DALAM ANDA saudara saudariku. Penolong itu ada di dalam Anda! Mengapa Ia ada di sana? Untuk melakukan apa yang Kristus lakukan apabila Ia hadir secara fisik. Inilah pelayanan Roh Kudus sebagaimana yang digambarkan oleh Yesus:

Yohanes 14:26
“tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku,Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Yohanes 15:26
“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.”

Yohanes 16:7
“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”

Kehadiran Roh Kudus di dalam hati kita jauh lebih bermanfaat daripada kehadiran Yesus secara fisik di bumi!

Yohanes 16:8-15
“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”

Inilah pelayanan luar biasa dan realitas yang indah mengenai Roh Kudus.
Banyak orang tidak benar-benar percaya akan peran aktif Roh Kudus dalam kehidupan para murid Kristus. Mereka pada dasarnya percaya bahwa mereka telah ditinggalkan sendirian sebagai yatim piatu dan berusaha bagaimana agar dapat hidup bagi-Nya! Tetapi Yesus berkata bahwa kita TIDAK ditinggalkan sebagai yatim piatu! Roh Kudus menggantikan tempat-Nya, dengan menjadi “Penolong yang lain,” atau seorang Penolong yang menggantikan tempat Penolong pertama, yaitu Yesus.
Sebagian orang beranggapan Roh Kuduslah yang bekerja ketika mereka melihat hal-hal yang belum pernah dilakukan oleh Yesus, hal-hal yang tidak selaras dengan Firman Tuhan. Apakah hal-hal ini benar-benar dilakukan oleh Roh Kudus? Jawabannya BUKAN. Apa yang Roh Kudus lakukan selalu selaras dengan Firman Allah. Sesuatu yang tidak selaras dengan Firman pastilah bukan dilakukan oleh Roh Kudus.
Untuk menutup artikel ini: Yesus yang pergi kepada Bapa-Nya tidak membiarkan kita sendirian. Ia mengirimkan seorang Pengganti yang melakukan apa yang akan Yesus lakukan apabila Ia hadir secara fisik kepada setiap kita. Pengganti ini adalah Roh Kudus dan beberapa dari misi Roh Kudus adalah mengajar dan mengingatkan (Yohanes 14:26), mengarahkan dan membimbing (Kisah Para Rasul 16:6-10) dan menghibur (Kisah Para Rasul 9:31). Ia bukanlah “roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2 Timotius 1:7). Sungguh anugerah yang luar biasa dari Bapa yang karena kasih-Nya telah mengaruniakan Roh Kudus kepada mereka yang percaya kepada Anak-Nya serta kebangkitan-Nya dari kematian.

Roma 5:5
kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.


guskompindo share pertobatan

belanja on line

Pertobatan

Dalam kitab Hakim-hakim pasal 10, kita mendapati catatan tentang orang-orang Israel yang berperang melawan bani Amon. Ayat 6 menggambarkan keadaan rohani orang Israel pada zaman itu:

Hakim-hakim 10:6
“Orang Israel itu melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; mereka beribadah kepada para Baal dan para Asytoret, kepada para allah orang Aram, para allah orang Sidon, para allah orang Moab, para allah bani Amon dan para allah orang Filistin,tetapi TUHAN ditinggalkan mereka dan kepada Dia mereka tidak beribadah.”

Seperti yang sudah sering mereka lakukan sebelumnya, kembali orang Israel meninggalkan Tuhan serta beribadah kepada para allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Tuhan tidak bersikap acuh dengan kejahatan mereka. Ayat 7-9 mengatakan kepada kita:

Hakim-hakim 10:7-9
“Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel, dan Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin dan bani Amon. Dalam tahun itu juga orang Israel ditindas dan diinjak mereka; delapan belas tahun lamanya mereka memperlakukan demikian semua orang Israel yang di seberang sungai Yordan di tanah orang Amori yang di Gilead. Dan bani Amonpun menyeberangi sungai Yordan untuk berperang melawan suku Yehuda, suku Benyamin dan keturunan Efraim, sehingga orang Israel sangat terdesak

Buah dari perilaku bangsa Israel adalah penindasan yang kejam. Pada akhirnya, orang-orang yang allahnya mereka sembah telah menjadi penindas mereka. Untunglah dalam keadaan yang sangat terdesak itu, mereka kembali kepada Tuhan. Ayat 10 mengatakan:

Hakim-hakim 10:10
“Lalu berserulah orang Israel kepada TUHAN, katanya: "Kami telah berbuat dosa terhadap Engkau, sebab kami telah meninggalkan Allah kami lalu beribadah kepada para Baal."

Sebagaimana anak yang hilang dalam Injil Lukas memutuskan untuk pulang – mengakui dosanya – setelah daerah yang tadinya kaya dilanda bencana kelaparan, demikian pula bangsa Israel, dalam keadaan sangat terdesak, mereka kembali kepada Tuhan serta mengakui dosa-dosa mereka terhadap-Nya. Ayat 11-14 mencatat bagaimana jawaban Allah:

Hakim-hakim 10:11-14
“Tetapi firman TUHAN kepada orang Israel: "Bukankah Aku yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir, orang Amori, bani Amon, orang Filistin, orang Sidon, suku Amalek dan suku Maon yang menindas kamu, ketika kamu berseru kepada-Ku? Tetapi kamu telah meninggalkan Aku dan beribadah kepada allah lain; sebab itu Aku tidak akan menyelamatkan kamu lagi. Pergi sajalah berseru kepada para allah yang telah kamu pilih itu; biar merekalah yang menyelamatkan kamu, pada waktu kamu terdesak."

Israel adalah umat pilihan Allah. Dia telah menyelamatkan mereka berkali-kali, namun kembali mereka mengkhianati-Nya. Apakah Tuhan masih mau mengampuni mereka? Apakah pengampunan-Nya sudah habis dan Ia akan menolak orang Israel untuk selama-lamanya? Ayat 15-16a mengatakan apa yang orang Israel lakukan setelah mendengar jawaban dari Tuhan:

Hakim-hakim 10:15-16a
“Kata orang Israel kepada TUHAN: "Kami telah berbuat dosa. Lakukanlah kepada kami segala yang baik di mata-Mu. Hanya tolonglah kiranya kami sekarang ini!" Dan mereka menjauhkan para allah asing dari tengah-tengah mereka, lalu mereka beribadah kepada TUHAN.”

Kali pertama orang Israel datang kepada Tuhan, para allah asing masih tetap ada di tengah mereka. Mereka mengakui dosa mereka. Namun, apakah mereka sungguh-sungguh bertobat sementara mereka masih tetap memegang allah asing mereka? Pengakuan dosa tidak selalu berarti pertobatan dari dosa. Pertobatan yang sejati berasal dari hati yang terdalam, dan disertai dengan perubahan hati. Dalam ayat ke-10, orang-orang Israel mengaku bahwa mereka telah berdosa namun para allah asing mereka tidak mereka tinggalkan! Saya percaya inilah sebabnya Allah berkata kepada mereka, “Pergi sajalah berseru kepada para allah yang telah kamu pilih itu”. Para allah itu masih ada di tengah mereka!! Baru kemudian dalam ayat 16, orang Israel menjauhkan para allah itu dan mulai beribadah kepada Tuhan. Segera sesudah itu, kita membaca bagaimana reaksi Tuhan:

Hakim-hakim 10:16
“Maka TUHAN tidak dapat lagi menahan hati-Nya melihat kesukaran mereka.”

Begitu orang Israel sungguh-sungguh bertobat – dan pertobatan ini sekarang jelas terlihat melalui tindakan mereka – Allah pun kembali membebaskan mereka. Begitu mereka bertobat, Tuhan tidak dapat lagi menahan hati-Nya melihat kesukaran mereka. Hakim-hakim 11-12 menceritakan bagaimana Ia membebaskan mereka dari tangan bani Amon. Dia tidak melakukannya karena kebenaran mereka atau karena Ia yakin bahwa mereka tidak akan menyimpang lagi kelak. Faktanya, dalam pasal 13 kita melihat bagaimana mereka ternyata kembali menyimpang. Allah mau membebaskan mereka hanya karena Ia mengasihi mereka, dan begitu mereka kembali kepada-Nya dengan hati yang jujur, Dia pun mau mengampuni, terlepas dari apa yang telah mereka kerjakan di masa lalu, terlepas dari apa yang akan mereka lakukan di masa depan.

Pertobatan – dalam kasus Ahab
Saya senang membaca kitab-kitab sejarah dalam Perjanjian Lama. Isinya bagaikan biografi-biografi singkat yang menunjukkan bagaimana Tuhan bekerja dengan berbagai macam orang, baik yang jahat maupun yang baik. Dalam 1 Raja-raja, kita mendapati catatan tentang seorang raja yang sangat jahat bernama Ahab. 1 Raja-raja 16:30-33 dan 21:25 memberikan kepada kita catatan tentang “riwayat hidup” dan ……..”prestasi” raja ini:

1 Raja-raja 16:30-33
“Ahab bin Omri melakukan apa yang jahat di mata TUHAN lebih dari pada semua orang yang mendahuluinya. Seakan-akan belum cukup ia hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, maka ia mengambil pula Izebel, anak Etbaal, raja orang Sidon, menjadi isterinya, sehingga ia pergi beribadah kepada Baal dan sujud menyembah kepadanya. Kemudian ia membuat mezbah untuk Baal itu di kuil Baal yang didirikannya di Samaria. Sesudah itu Ahab membuat patung Asyera, dan Ahab melanjutkan bertindak demikian, sehingga ia menimbulkan sakit hati TUHAN, Allah Israel, lebih dari semua raja-raja Israel

Dan 1 Raja-raja 21:25
Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya. Bahkan ia telah berlaku sangat keji dengan mengikuti berhala-berhala, tepat seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel.”

Ahab digambarkan sebagai raja Israel yang paling jahat. Tidak ada seorang pun yang dapat menandingi kejahatannya. Elia datang menemui raja ini dalam 1 Raja-raja 21. Di sana kita membaca:

1 Raja-raja 21:20-22
“Kata Ahab kepada Elia: "Sekarang engkau mendapat aku, hai musuhku?" Jawabnya: "Memang sekarang aku mendapat engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel. Dan Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan seperti keluarga Baesa bin Ahia, oleh karena engkau menimbulkan sakit hati-Ku, dan oleh karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa.”

Inilah keputusan Allah terhadap Ahab. Dia dan keluarganya akan mengalami akhir yang sangat mengerikan. Namun, jangan berpikir bahwa hal ini menyenangkan hati Allah. Sebagaimana dikatakan dalam Yehezkiel 18:23:

Yehezkiel 18:23
“Apakah kaupikir Aku TUHAN Yang Mahatinggi senang kalau orang yang jahat mati? Sama sekali tidak! Aku ingin ia meninggalkan dosa-dosanya supaya ia tetap hidup.” (IBIS)

Yang membuat Allah senang bukanlah menghakimi orang jahat, melainkan melihat mereka bertobat. Siapa pun yang sungguh-sungguh bertobat dapat diterima oleh-Nya. Namun, apakah hal yang sama berlaku untuk Ahab, seorang raja Israel yang paling jahat? Ayat 27-29 mengatakan:

1 Raja-raja 21:27-29
“Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban. Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu: "Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya."

Penghakiman Tuhan adalah atas seluruh keluarga Ahab. Namun, fakta bahwa Ahab merendahkan dirinya di hadapan Tuhan sudah cukup untuk menunda pelaksanaan hukuman atas kejahatan besar yang telah ia dan keluarganya lakukan. Sayangnya, di kemudian hari, ia dan keluarganya terus saja melakukan kejahatan mereka – seperti yang tercatat dalam 1 Raja-raja 22 dan 2 Raja-raja 3:1-3 – dan keputusan Tuhan yang telah diumumkan oleh Elia sebelumnya, terjadi di zaman Yoram, anak laki-laki Ahab (lihat 2 Raja-raja 9-10). Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa Tuhan siap untuk menunda datangnya penghakiman begitu Ahab, si raja yang sangat jahat ini, mulai merendahkan dirinya di hadapan Tuhan serta berduka atas kejahatan yang telah ia lakukan. Allah memang tidak menginginkan kematian orang jahat. Yang Ia inginkan adalah agar mereka bertobat dengan sungguh-sungguh dan kembali kepada-Nya.

Pertobatan: Dalam kasus Manasye
Ahab bukan satu-satunya raja Israel yang jahat. Sesungguhnya, ada banyak raja lain yang bertingkah laku seperti Ahab. Salah satunya adalah Manasye anak raja Hizkia. Kita membaca ringkasan tentang kerajaannya dalam 2 Tawarikh 33:2,9:

2 Tawarikh 33:2
“Ia [Manasye] melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalaukan TUHAN dari depan orang Israel.”

dan 2 Tawarikh 33:9
“Tetapi Manasye menyesatkan Yehuda dan penduduk Yerusalem, sehingga mereka melakukan yang jahat lebih dari pada bangsa-bangsa yang telah dipunahkan TUHAN dari depan orang Israel.”

Tampaknya, kejahatan Manasye raja Yehuda sebanding dengan kejahatan Ahab. Kejahatan keduanya melebihi kejahatan bangsa-bangsa yang pernah mendiami tanah itu sebelumnya! Atas kejahatannya, Tuhan telah menegur Manasye dan rakyatnya namun mereka tidak menghiraukan teguran itu: mereka TIDAK MAU BERTOBAT. Ayat 10-11 menceritakan kepada kita:

2 Tawarikh 33:10-11
“Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Manasye dan rakyatnya, tetapi mereka tidak menghiraukannya. Oleh sebab itu [hasil dari respons mereka] TUHAN mendatangkan kepada mereka panglima-panglima tentara raja Asyur yang menangkap Manasye dengan kaitan, membelenggunya dengan rantai tembaga dan membawanya ke Babel.”

Tuhan mencoba menegur raja dan rakyatnya. Dia tidak ingin melihat Manasye mengalami keadaannya yang mengerikan tersebut. Namun, tanpa pertobatan, hal ini tidak bisa dihindari. Untunglah, sebagaimana yang terjadi dengan orang-orang Israel dalam Hakim-hakim 10, penindasan yang dialami Manasye menjadi sebuah titik balik baginya, karena ia kemudian mulai mencari Tuhan!

2 Tawarikh 33:12-13a
“Dalam keadaan yang terdesak ini, ia [Manasye] berusaha melunakkan hati TUHAN, Allahnya; ia sangat merendahkan diri di hadapan Allah nenek moyangnya, dan berdoa kepada-Nya.”

Ketika Manasye masih hidup dalam keadaan damai di Yerusalem, dia tidak menghiraukan teguran Allah. Sekarang saat dibelenggu, giliran Manasye yang mulai berbicara kepada Allah, yaitu dengan sangat merendahkan dirinya di hadapan Allah. Mari kita lihat apakah Allah mendengarkan permohonannya:

2 Tawarikh 33:13
“[Setelah Manasye sangat merendahkan dirinya di hadapan Allah] Maka TUHAN mengabulkan doanya, dan mendengarkan permohonannya. Ia membawanya kembali ke Yerusalem dan memulihkan kedudukannya sebagai raja. Dan Manasye mengakui, bahwa TUHAN itu Allah.”

Di Yerusalem, Manasye adalah juara dalam hal kejahatan. Namun, ketika dalam keadaan terdesak ia kembali kepada Tuhan, Tuhan tidak memperhitungkan kejahatannya di masa lalu. Sebaliknya “Tuhan mengabulkan doanya” bahkan memulihkan kedudukannya sebagai raja.

Pertobatan: Dalam kasus Niniwe
Kasus ini adalah topik utama dalam kitab Yunus yang pendek. Tuhan berbicara kepada Yunus dan memberinya sebuah tugas yang spesifik. Ayat 1 dan 2 berkata:

Yunus 1:1-2
“Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."

Mungkin kita semua telah mengetahui apa yang dilakukan Yunus pada awalnya serta bagaimana ia tidak menaati perintah Tuhan. Namun, dalam pasal ke-3 kita melihat bahwa pada akhirnya ia pergi juga ke Niniwe:

Yunus 3:1-4
“Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu." Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan."

Melalui Yunus, Allah ingin memperingatkan orang-orang Niniwe tentang penghakiman yang akan terjadi apabila mereka tidak bertobat. Ayat 5-9 menceritakan bagaimana reaksi orang-orang Niniwe setelah menerima peringatan dari Tuhan tersebut.

Yunus 3:5-9
“Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.”

Kebalikan dari Manasye, orang-orang Niniwe memperhatikan apa yang Allah katakan, bahkan raja dan para pembesarnya memerintahkan kepada semua orang untuk berpuasa dan berdoa. Kemudian ayat 10 menceritakan apa yang Allah lakukan:

Yunus 3:10
“Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu [bukan cuma kata-kata mereka], yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.”

Allah tidak jadi melakukan apa yang telah dirancangkan-Nya terhadap Niniwe, dan ini dikarenakan orang-orang Niniwe bertobat. Apa yang menunjukkan bahwa mereka sungguh-sungguh bertobat? Perbuatan mereka, serta fakta bahwa mereka berbalik dari tingkah laku mereka yang jahat. Pertobatan yang sejati bukan hanya merasa menyesal atas apa yang telah kita perbuat, tetapi harus disertai dengan tindakan, disertai dengan perbuatan yang merupakan hasil dari pertobatan itu (yaitu tidak lagi melakukan apa yang menyakiti hati Tuhan dan melakukan apa yang menyenangkan hati-Nya).

Pertobatan: Kesimpulan
Meskipun dosa menjadi penghalang jalan manusia kepada Allah, pertobatan akan membuka jalan itu. Bahkan dalam kasus-kasus seberat kasus Ahab dan Manasye, jalan itu terbuka lebar ketika mereka merendahkan diri mereka di hadapan Allah. Oleh karena itu pertanyaannya bukan apakah Tuhan akan mengampuni kita. Ia akan mengampuni kita, jika kita bertobat. Oleh karena itu, jikalau kita berdosa, sudahkah kita bertobat? Bukan hanya bertobat di mulut saja tetapi bertobat dengan sungguh-sungguh di dalam hati kita. Apakah kita berduka dan menangis atas dosa-dosa kita, ataukah dengan hati yang tetap keras kita menipu diri sendiri dengan menganggapnya tidak masalah, dengan melakukan pembenaran atas dosa kita, alih-alih bertobat dari dosa-dosa itu? Inilah yang dinasihatkan oleh Yakobus:

Yakobus 4:8-10
“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”

Dalam semua kasus yang telah kita lihat di atas, pertobatan selalu disertai dengan perubahan hati, dengan perasaan berduka atas dosa, dan dengan merendahkan diri di hadapan Allah.

Biarlah Tuhan membukakan mata kita dan kita membukakan hati kita kepada-Nya, menjadikannya transparan, tanpa ada apa pun yang tersembunyi di dalamnya. Biarlah kita berhenti membenarkan dosa kita. Biarlah kita mendekat kepada-Nya serta bertobat dan Ia pun akan mendekat kepada kita.



Senin, 27 Oktober 2014

Alkitab dan Susunannya

Alkitab dan Susunannya Makna dan Asal Usulnya Sebelum memulai studi masing-masing kitab dalam Alkitab, mari kita memahami Alkitab itu sendiri secara keseluruhan. Mengapa Alkitab disebut demikian, dan mengapa Alkitab juga sering disebut “Kitab Suci”? Kata “Alkitab” berasal dari kata “biblia” yang merupakan bentuk jamak dari kata “kitab” dalam bahasa Latin. Jadi “Alkitab” berarti “koleksi kitab” – tepatnya, enam puluh enam kitab. Kata suci berarti “sesuatu kepunyaan Allah” atau “sesuatu yang berasal dari Allah.” Jadi Kitab Suci, secara harafiah berarti “Kitab-kitab suci dari Allah,” atau “koleksi kitab kepunyaan Allah dan berasal dari Allah.” Alkitab juga disebut sebagai Firman Allah. Mengapa? Karena pernyataan yang dibuat oleh para rasul seperti Petrus dan Paulus. 2 Timotius 3:16-17 adalah contoh yang baik: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Berulang-ulang, kita diyakinkan bahwa Alkitab
bukanlah sekadar koleksi tulisan manusia tentang Allah.
Melainkan, Alkitab memuat Firman Allah sendiri, yang
ditulis melalui pena manusia, mungkin hingga empat puluh
orang atau lebih, dalam kurun waktu antara 1500 hingga
1600 tahun. Proses dengan mana Allah menggerakkan
orang-orang ini untuk menulis kitab-kitab ini disebut
inspirasi, yang secara harafiah berarti “mengilhamkan.”
Dalam 2 Petrus 1:21 Petrus menggambarkannya begini: “…
tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia,
tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas
nama Allah.”
Kata “didorong” di sini memberikan gambaran yang
indah dalam bahasa Yunaninya, yaitu “phero.” Coba Anda
membayangkan berada di sebuah perahu yang didorong
oleh gelombang atau layarnya ditiup angin, maka Anda
menangkap ide inspirasi seperti yang digambarkan oleh
Petrus di sini.
Susunan Alkitab
Setelah membahas apa sebenarnya Alkitab itu, mari
sekarang kita mempelajari bagaimana susunannya.
Bertentangan dengan apa yang mungkin Anda perkirakan,
kitab-kitab ini bukan ditulis secara kronologis, dan juga
bukan dikelompokkan menurut penulisnya. Melainkan,
disusun menurut jenis dan pesannya. Dua kelompok utama
kitab adalah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dulunya
tidak demikian, untuk alasan yang sudah jelas. Di zaman
Yesus misalnya, belum ada pembagian menjadi Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Baru belum ditulis,
jadi kitab-kitab yang ada di zaman Yesus hanya disebut
“Firman Allah” atau “Kitab Suci.” Setelah Perjanjian Baru
ditulis dan dijadikan koleksi kitab-kitab, baru diadakan
pembagian antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru.
Pesan inti Perjanjian Lama adalah bahwa Yesus akan
datang. Pada mulanya, menurut Kitab Suci, Allah dan
manusia hidup harmonis satu dengan yang lain. Akan
tetapi Allah menjadikan manusia makhluk yang dapat
memilih, dan manusia memilih untuk berpaling dari Allah.
Karena Allah tidak mungkin mentolerir pemberontakan
(dosa), Allah berpaling dari manusia. Demikianlah terjadi
semacam “perceraian” antara Allah dengan manusia.
Perceraian di antara Allah dengan manusia inilah masalah
mendasar yang dibahas Kitab Suci.
Dalam Perjanjian Lama, Allah mengatakan kepada
kita, “Apakah engkau akan percaya kepada-Ku, kalau Aku
mengatakan bahwa Aku akan melakukan sesuatu tentang
perceraian itu?” Dalam Perjanjian Baru Allah mengatakan
kepada kita, “Apakah engkau akan percaya kepada-Ku,
kalau Aku mengatakan bahwa Aku telah melakukan

sesuatu tentang perceraian itu?” Sebab Perjanjian Lama
mengatakan, “Yesus akan datang untuk memperdamaikan
perceraian di antara Allah dengan ciptaan-Nya.” Perjanjian
Baru memberitahukan kabar baik ini: Yesus telah datang,
dan ketika Yesus datang, Ia telah memperdamaikan
perceraian di antara Allah dengan manusia.”
Selain pembagian utama antara Perjanjian Lama
dengan Perjanjian Baru, ada pembagian lebih lanjut dari
masing-masing Perjanjian. Kitab-kitab
dalam Perjanjian
Lama terbagi menjadi lima kelompok.
Pertama, ada lima kitab Hukum. Dalam kelima kitab
Hukum ini, Allah menjelaskan apa yang benar dan apa
yang salah, memberi kita standar kebenaran-Nya.
Berikutnya, sepuluh kitab Sejarah, yang pada intinya
menjelaskan bahwa terkadang umat Allah mematuhi
kitab Hukum tersebut dan terkadang tidak. Kisah mereka
menjadi teladan dan peringatan bagi kita. Ayat kunci bagi
seluruh sejarah yang dicatat dalam Alkitab ditemukan
dalam Perjanjian Baru. Paulus mengatakan bahwa segala
yang terjadi pada orang yang kita baca kisahnya dalam
Alkitab adalah untuk menjadi teladan dan peringatan.
Ketika mereka mematuhi Firman yang Allah berikan kepada
mereka, mereka menjadi teladan bagi kita. Ketika mereka
mengikuti kehendak mereka sendiri, mereka menjadi
peringatan bagi kita

Rabu, 24 September 2014

Yesus anak Allah

Pertanyaan: Apa artinya Yesus adalah Anak Allah? Jawaban: Yesus bukan Anak Allah dalam pengertian sebagaimana kita mengerti tentang ayah dan anak. Allah tidak menikah dan kemudian mendapatkan seorang anak. Yesus adalah Anak Allah dalam pengertian Dia adalah Allah yang menjadi manusia (Yohanes 1:1, 14). Yesus adalah Anak Allah dalam pengertian Dia dikandung oleh Roh Kudus. Lukas 1:35 mengatakan, “Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35). Dalam zaman Alkitab, frasa ”anak manusia” digunakan untuk menggambarkan seorang manusia. Anak manusia adalah manusia. Contoh lain dapat dilihat dalam Yohanes 17:12 di mana Yudas dilukiskan sebagai ”anak kebinasaan.” Yohanes 6:71 memberitahu kita bahwa Yudas adalah anak Simon. Apa yang dimaksudkan oleh Yohanes 17:12 waktu menggambarkan Yudas sebagai ”anak kebinasaan?” Kata ”kebinasaan” berarti ”kehancuran, kesia-siaan.” Yudas bukan secara harafiah anak dari ”kehancuran, kesia-siaan” – tetapi hal-hal itu adalah ciri-ciri dari kehidupan Yudas. Yudas adalah manifestasi dari kebinasaan. Demikian pula, Yesus adalah Anak Allah. Anak dari Allah adalah Allah. Yesus adalah Allah yang menyatakan diri (Yohanes 1:1, 14). -------------------------------------------------------------------------------- Kembali ke halaman utama dalam Bahasa Indonesia Baca lebih lanjut: http://www.gotquestions.org/Indonesia/Yesus-Anak-Allah.html#ixzz3EEsLcSIK

Selasa, 23 September 2014

SANTAI DULU YA MAIN GAME

MARI MEMILIH GAME YANG ANDA SUKA

Lalui liku-liku air peluncuran, berbalik di sepeda aksi, dan kalahkan lawan Anda mencapai garis akhir! Ini semua tentang gaya dan kecepatan; semakin keren penampilan Anda, semakin banyak uang yang Anda dapat. Tantang komputer, atau tetapkan rekor Anda sendiri dalam uji waktu mendebarkan!Uphill Rush 4 merupakan salah satu permainan balab mobilpilihan kami. Cobalah salah satu dari 423 permainan motor kami yang lain, yang diberi peringkat rata-rata 86% oleh 48.500 pemain. SepertiUphill Rush 6, yang berperingkat 86% dan SuperBike Racer, yang berperingkat 85%. Juga yang sekarang ini sangat populer di situs web ini adalah Kingdom Rush Frontiers dan Earn to Die 2012: Part 2.

Apa itu karunia berbahasa lidah?

        Kita harus memili keyakinan dalam hidup Bahwa Allah selalu         bersama kita dan menolong kita kisah Yakub  luar biasa


Pertanyaan: Apa itu karunia berbahasa lidah?

Jawaban:
Bahasa lidah pertama kali terjadi pada Hari Pentakosta dalam Kisah Rasul 2:1-4. Para rasul keluar dan membagikan Injil dengan orang banyak dan berbicara kepada mereka dalam bahasa mereka masing-masing, “kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah!” (Kisah Rasul 2:11). Kata Bahasa Yunani yang dalam Bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “lidah” secara harafiah berarti “bahasa” sebagaimana diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Karena itu, karunia berbahasa lidah adalah karunia untuk berbicara dalam bahasa yang si pembicara tidak kuasai supaya orang yang mengerti bahasa tsb dapat dilayani. Dalam 1 Korinuts 12-14 di mana Paulus mendiskusikan karunia-karunia yang ajaib, dia berkomentar bahwa “Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran?” Menurut Rasul Paulus, dan sesuai dengan bahasa lidah dalam kitab Kisah Rasul, bahasa lidah berguna bagi orang yang mendengar berita dari Tuhan dalam bahasa mereka sendiri, namun tidak ada artinya bagi orang lain, kecuali kalau dijelaskan/diterjemahkan.

Orang yang memiliki karunia untuk menafsirkan bahasa lidah (1 Korintus 12:30) dapat mengerti apa yang dikatakan orang dalam bahasa lidah sekalipun dia tidak mengerti bahasa itu sendiri. Penafsir bahasa lidah kemudian akan menjelaskan berita yang disampaikan dalam bahasa lidah itu kepada orang-orang lain sehingga semua orang bisa mengerti. “Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya” (1 Korintus 14:13). Konklusi Paulus mengenai bahasa lidah yang tidak ditafsirkan sangat kuat. “Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh” (1 Korintus 14:19).

Apakah karunia berbahasa lidah berlaku untuk zaman sekarang? 1 Korintus 13:8 mengatakan bahwa karunia bahasa lidah sudah berakhir, walaupun berakhirnya itu dihubungkan dengan datangnya “yang sempurna” dalam 1 Korintus 13:10. Sebagian orang melihat berkurangnya nubuat dan berhentinya bahasa lidah sebagai bukti bahwa bahasa lidah akan berakhir sebelum “yang sempurna” itu datang. Walaupun ini mungkin, namun hal ini tidak jelas dalam ayat ini. Sebagian orang menunjuk pada ayat-ayat seperti Yesaya 28:11 dan Yoel 2:28-29 sebagai bukti bahwa bahasa lidah adalah tanda dari datangnya penghakiman Tuhan. 1 Korintus 14:22 menjelaskan bahwa bahasa lidah adalah “tanda bagi yang tidak percaya.” Menurut jalan pikiran ini, karunia bahasa lidah adalah peringatan bagi orang-orang Yahudi bahwa Allah akan menghakimi Israel karena penolakan mereka terhadap Mesias. Karena itu waktu Tuhan betul-betul menghakimi Israel (dengan hancurnya Yerusalem pada tahun 70 AD di tangan Roma), karunia bahasa lidah tidak lagi diperlukan. Walapun pandangan ini mungkin, terpenuhinya maksud utama dari bahasa lidah tidak berarti bahasa lidah harus berakhir. Alkitab tidak pernah secara konklusif menyatakan bahwa karunia berbahasa lidah telah berakhir.

Pada saat yang sama, kalau karunia bahasa lidah masih aktif dalam gereja zaman ini, karunia itu harus dilakukan sesuai dengan Kitab Suci. Bahasa lidah harusnya merupakan bahasa yang sebenarnya dan bisa dimengerti (1 Korintus 14:10). Bahasa lidah dimaksudkan untuk mengkomunikasikan Firman Tuhan dengan orang dari bahasa yang berbeda (Kisah Rasul 2:6-12). Bahasa lidah harus sesuai dengan perintah yang Tuhan berikan melalui Rasul Paulus, “Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah” (1 Korintus 14:27-28). Bahasa lidah juga harus tunduk kepada 1 Korintus 14:33, “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera” (1 Korintus 14:33).

Sudah tentu Allah dapat memberi orang karunia berbahasa lidah untuk memampukan orang tsb berkomunikasi dengan orang yang berbahasa lain. Roh Kudus memiliki kedaulatan dalam membagikan karunia-karunia Roh (1 Korintus 12:11). Bayangkan saja bagaimana produktifnya para missionari kalau mereka tidak perlu ke sekolah bahasa dan dapat secara langsung berbicara kepada orang-orang dalam bahasa-bahasa mereka sendiri. Namun nampaknya Tuhan tidak bekerja seperti ini. Bahasa lidah tidak terjadi pada hari ini dengan cara yang sama dalam Perjanjian Baru sekalipun kalau terjadi itu akan sangat berguna. Kebanyakan orang-orang percaya yang mengaku berbahasa lidah tidak melakukannya sesuai dengan pengajaran Kitab Suci sebagaimana disebutkan di atas. Hal ini menghasilkan kesimpulan bahwa bahasa lidah sudah berakhir atau paling tidak jarang terjadi dalam gereja zaman sekarang.

Mereka yang percaya pada bahasa lidah sebagai “bahasa doa” untuk membangun diri sendiri mendapatkan pandangan itu dari 1 Korintus 14:4 dan/atau 14:28, “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat” (1 Korintus 14:4). Dalam pasal 14, Paulus menekankan pentingnya bahasa lidah ditafsirkan (diterjemahkan), lihat 14:5-12. Apa yang Paulus katakan dalam ayat 4 adalah “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat” (1 Korintus 14:4). Dalam Perjanjian Baru tidak diberikan instruksi untuk “berdoa dalam bahasa lidah.” Perjanjian Baru sama sekali tidak memberikan instruksi yang spesifik mengenai “berdoa dalam bahasa lidah,” atau secara khusus menggambarkan seseorang “berdoa dengan bahasa lidah.” Selanjutnya jika “berdoa dalam bahasa lidah” adalah untuk membangun diri sendiri, bukankah itu tidak adil untuk mereka yang tidak punya karunia itu dan karenanya tidak dapat membangun diri mereka? 1 Korintus 12:29-30 jelas mengindikasikan bahwa tidak semua orang memiliki karunia berbahasa lidah.

JANGAN TERTINGGAL BELAJAR DARI SEKARANG ESOK AKA TERLAMBAT TERLAU BANYA SANGAIGAN  BILA BELAJAR DITUNDA TUNDA
JANGAN TERTINGGAL BELAJAR DARI SEKARANG ESOK AKAN  TERLAMBAT  TERLA LU BANYAK SANGINGAN  NANTINYA    BILA BELAJAR    DI TUNDA – TUNDA 


Baca lebih lanjut:http://www.gotquestions.org/Indonesia/karunia-berbahasa-lidah.html#ixzz3E8J1Tmr4

Siapakah Roh Kudus?


 

Pertanyaan: Siapakah Roh Kudus?
Jawaban:
Ada banyak pengertian yang salah mengenai identitas Roh Kudus. Ada beberapa yang menganggap Roh Kudus sebagai suatu kuasa mistis. Yang lainnya memandang Roh Kudus sebagai semacam kuasa yang Allah berikan kepada para pengikut Kristus. Apa yang Alkitab katakan mengenai identitas Roh Kudus? Secara sederhana – Alkitab mengatakan bahwa Roh Kudus adalah Allah. Alkitab juga mengatakan bahwa Roh Kudus adalah sebuah Pribadi yang memiliki akal budi, perasaan dan kehendak.

Fakta bahwa Roh Kudus adalah Allah dapat dilihat dengan jelas dalam banyak ayat-ayat Alkitab, termasuk Kisah Rasul 5:3-4. Dalam ayat ini Petrus mengkonfrontir Ananias yang berbohong kepada Roh Kudus dan memberitahu dia bahwa Ananias bukan “mendustai manusia tetapi mendustai Allah.” Ini adalah merupakan sebuah pernyataan yang jelas bahwa berbohong kepada Roh Kudus adalah berbohong kepada Allah. Kita juga mengetahui bahwa Roh Kudus adalah Allah karena Dia memiliki atribut-atribut atau karakteristik-karakteristik Allah. Contoh bahwa Roh Kudus mahahadir dapat dilihat dalam Mazmur 139:7-8: “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.” Kemudian di dalam 1 Korintus 2:10 kita menemukan kemahatahuan dari Roh Kudus. “Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.”

Kita mengetahui bahwa Roh Kudus adalah sebuah Pribadi karena Dia memiliki akal budi, perasaan dan kehendak. Roh Kudus berpikir dan mengetahui (1 Korintus 2:10). Roh Kudus dapat berduka (Efesus 4:30). Roh Kudus berdoa syafaat bagi kita (Roma 8:26-27). Roh Kudus membuat keputusan sesuai dengan kehendakNya (1 Korintus 12:7-11). Roh Kudus adalah Allah, “Pribadi” ketiga dari Trinitas. Sebagai Allah, Roh Kudus dapat betul-betul berfungsi sebagai Penghibur dan Penasehat yang Yesus janjikan (Yohanes 14:16, 26; 15:26).




JANGAN TERTINGGAL BELAJAR DARI SEKARANG ESOK AKA TERLAMBAT TERLAU BANYA SANGAIGAN  BILA BELAJAR DITUNDA TUNDA
JANGAN TERTINGGAL BELAJAR DARI SEKARANG ESOK AKAN  TERLAMBAT  TERLA LU BANYAK SANGINGAN  NANTINYA    BILA BELAJAR    DI TUNDA – TUNDA 






Baca lebih lanjut:http://www.gotquestions.org/Indonesia/siapakah-Roh-Kudus.html#ixzz3E8D3PJqG

Sabtu, 20 September 2014

Yesus keilahiannya apalah bersifat Alkitabiah?


DO YOU NEED GOD PRINTER KLIK ME

Jawaban: Selain Yesus secara spesifik mengklaim diriNya sebagai Allah, para muridNya juga mengakui keillahian dari yesus Kristus. Mereka mengklaim bahwa Yesus memiliki kuasa untuk mengampuni dosa, sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh Tuhan karena dosa adalah melawan Tuhan (Kisah Rasul 5:31; Kolose 3:13; bandingkan Mazmur 130:4; Yeremia 31:34). Berhubungan erat dengan klaim yang terakhir ini, Yesus juga disebut sebagai yang akan “menghakimi orang yang hidup dan yang mati” (2 Timotius 4:1). Thomas berseru kepada Yesus, “Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28). Paulus menyebut Yesus, “Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita” dan menunjuk bahwa sebelum Yesus berinkarnasi, Yesus sudah ada dalam “rupa Allah” (Filipi 2:5-8). Penulis Ibrani mengatakan tentang Yesus, "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya” (Ibrani 1:8). Yohanes mengatakan, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman [Yesus] itu adalah Allah” (Yohanes 1:1). Contoh dari ayat-ayat Alkitab yang mengajarkan keillahian Kristus dapat dilipatgandakan (lihat Wahyu 1:17; 2:8; 22:13; 1 Korintus 10:4; 1 Petrus 2:6-8; bandingkan Mazmur 18:2; 95:1; 1 Petrus 5:4; Ibrani 13:20), namun salah satu dari ayat-ayat ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Yesus dipandang sebagai Allah oleh para pengikutNya. Yesus juga diberikan gelar-gelar yang hanya diberikan kepada Yahweh (nama resmi Allah) dalam Perjanjian Lama. Gelar “Penebus” dari Perjanjian Lama (Mazmur 130:7; Hosea 13:14) digunakan untuk Yesus dalam Perjanjian Baru (Titus 2:13; Wahyu 5:9). Yesus disebut Imanuel (“Allah beserta kita” dalam Matius 1). Dalam Zakharia 12:10 Yahweh berkata "dan mereka akan memandang kepada dia [Bahasa Inggris: “kepadaKu”] yang telah mereka tikam.” Namun Perjanjian Baru menerapkan ayat ini kepada penyaliban Yesus (Yohanes 19:37; Wahyu 1:7). Jikalau Yahweh adalah yang ditikam dan dipandang, dan Yesus adalah yang ditikam dan dipandang, maka Yesus adalah Yahweh. Paulus menafsirkan Yesaya 45:22-23 dengan menerapkannya kepada Yesus dalam Filipi 2:10-11. Lebih lanjut, nama Yesus digunakan bersama-sama dengan nama Yahweh dalam doa, “Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus” (Galatia 1:3; Efesus 1:2). Jikalau Kristus tidak bersifat illahi, ini adalah suatu penghujatan. Nama Yesus disandingkan kembali dengan nama Yahweh dalam perintah Yesus untuk membaptis “dalam nama [bentuk tunggal] Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19; ihat pula 2 Korintus 13:14). Dalam Wahyu Yohanes berkata bahwa segenap ciptaan memuji Kristus (sang Anak Domba) – berarti Yesus bukanlah bagian dari ciptaan. Perbuatan-perbuatan yang hanya dapat dilakukan dikerjakan oleh Yesus. Yesus bukan hanya membangkitkan orang mati (Yohanes 5:21; 11:38-44) dan mengampuni dosa (Kisah Rasul 5:31; 13:38), Dia juga menciptakan dan memelihara alam semesta (yohanes 1:2; Kolose 1:16-17). Point ini bahkan menjadi lebih kuat ketika kita mengingat bahwa Yahweh mengatakan bahwa Dia sendirian ketika menciptakan (Yesata 44:24). Selanjutnya, Yesus memiliki atribut-atribut yang hanya dimiliki oleh Allah: kekekalan (Yohanes 8:58), mahahadir (Matius 18:20; 28:20); mahatahu (Matius 16:21), mahakuasa (Yohanes 11:38-44). Mengaku diri sebagai Allah dan membodohi orang untuk percaya bahwa Dia benar-benar adalah Allah sama sekali berbeda dengan membuktikan diri bahwa Dia adalah Allah. Kristus membuktikan klaimNya dengan banyak mujizat dan bahkan dengan bangkit dari antara orang mati. Beberapa dari mujizat Yesus antara lain: mengubah air menjadi anggur (Yohanes 2:7); berjalan di atas air (Matius 14:25); melipatgandakan benda-benda fisik (Yohanes 6:11), menyembuhkan orang buta (Yohanes 9:7), orang lumpuh (Markus 2:3); dan orang yang sakit (Matius 9:35; Markus 1:40-42); bahkan membangkitkan orang mati (Yohanes 11:43-44; Lukas 7:11-15; Markus 5:35). Lebih dari itu, Yesus sendiri bangkit dari antara orang mati. Sangat berbeda dengan mitos-mitos mengenai mati dan bangkitnya dewa-dewa dalam agama-agama kafir, tidak ada yang sebanding dengan kebangkitan dalam agama-agama lain, dan tidak ada klaim lain yang mendapat konfirmasi dari luar Alkitab yang sedemikian banyaknya. Menurut Dr. Gary Habermas paling sedikit ada dua belas fakta sejarah yang harus diakui bahkan oleh sarjana-sarjana bukan Kristen: (1) Yesus mati dengan disalibkan (2) Dia dikuburkan (3) KematianNya menyebabkan murid-muridnya kecewa dan putus asa. (4) Kubur Yesus ditemukan (atau katanya ditemukan) dalam keadaan kosong beberapa hari kemudian. (5) Para murid percaya bahwa mereka melihat Yesus yang bangkit. (6) Setelahnya, para murid berubah dari ragu-ragu menjadi orang-orang percaya yang berani. (7) Berita ini adalah inti pemberitaan dari gereja mula-mula (8) Berita ini diberitakan di Yerusalem. (9) Sebagai hasilnya, gereja lahir dan bertumbuh. (10) Hari kebangkitan (hari Minggu) menggantikan hari Sabat (hari Sabtu) sebagai hari utama untuk beribadah. (11) Yakub, seorang skeptik, bertobat ketika dia percaya bahwa dia melihat Yesus yang bangkit. (12) Paulus, musuh dari keKristenan, bertobat setelah mengalami pengalaman yang dia percayai sebagai penampakan dari Yesus yang bangkit. Bahkan jikalau ada orang yang menolak daftar yang terinci ini, hanya beberapa dari daftar ini yang dibutuhkan untuk membuktikan kebangkitan dan injil: kematian Yesus, penguburan, kebangkitan dan penampakan Yesus (1 Korintus 15:5). Sekalipun ada beberapa teori yang mampu menjelaskan satu atau dua fakta-fakta di atas, hanya kebangkitan yang dapat menjelaskan semuanya. Para kritikus mengakui bahwa para murid mengklaim bahwa mereka melihat Yesus yang bangkit. Baik tipu muslihat maupun halusinasi tidak dapat mengubah orang sebagaimana yang dapat dilakukan oleh kebangkitan. Pertama-tama, apa keuntungannya bagi mereka? KeKristenan bukan hal yang populer pada waktu itu dan mereka tidak akan memperoleh keuntungan secara keuangan. Kedua, pembohong-pembohong tidak akan mau menjadi martir. Tidak ada penjelasan lebih baik mengenai kerelaan para murid untuk mati secara menggenaskan demi iman mereka selain dari kebangkitan. Betul banyak orang yang mati untuk kebohongan yang mereka kira benar, namun tidak ada orang yang bersedia mati untuk apa yang mereka ketahui sebagai tidak benar. Kesimpulan: Kristus mengklaim bahwa Dia adalah Yahweh, Dia adalah Allah, bukan hanya dewa, namun Allah yang sejati), para pengikutNya (orang-orang Yahudi yang takut kepada penyembahan berhala) percaya kepadaNya dan menyebut Dia sebagai Allah. Kristus membuktikan klaimNya bahwa Dia adalah Allah melalui mujizat-mujizat, termasuk kebangkitan yang mengubah dunia. Tidak ada hipotesa lain yang dapat menjelaskan fakta-fakta ini.

Jumat, 19 September 2014

Apakah Yesus Allah? Apakah Yesus pernah mengklaim sebagai Allah?


TOKO on line menyediakan macam-macam Ipad klik kami 
Pertanyaan: Apakah Yesus Allah? Apakah Yesus pernah mengklaim sebagai Allah?

Jawaban:
Alkitab tidak pernah mencatat Yesus secara persis mengucapkan kalimat, “Saya adalah Allah.” Namun ini tidak berarti bahwa Dia tidak memproklamirkan bahwa Dia adalah Allah. Ambil sebagai contoh kata-kata Yesus dalam Yohanes 10:30, “Aku dan Bapa adalah satu." Sekilas sepertinya ini bukan sebuah pengakuan sebagai Allah. Namun coba perhatikan reaksi orang-orang Yahudi terhadap pernyataan Yesus, "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah" (Yohanes 10:33). Orang-orang Yahudi memahami pernyataan Yesus sebagai pengakuan bahwa Dia adalah Allah. Dalam ayat-ayat berikutnya, Yesus tidak pernah mengoreksi apa yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi dengan mengatakan, “Saya tidak mengklaim sebagai Allah.” Ini menunjukkan bahwa Yesus betul-betul berkata bahwa Dia adalah Allah dengan mengatakan, “Aku dan Bapa adalah satu." (Yohanes 10:30). Yohanes 8:58 adalah contoh lainnya. Yesus mengatakan, “Sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Kembali, sebagai responnya, orang-orang Yahudi mengambil batu dan berusaha merajam Yesus (Yohanes 8:59). Mengapa orang-orang Yahudi berusaha merajam Yesus jikalau Dia tidak mengucapkan sesuatu yang mereka percaya sebagai penghujatan, yaitu mengakui diri sebagai Allah?

Yohanes 1:1 mengatakan, “Firman itu adalah Allah.” Yohanes 1:14 mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia.” Ini dengan jelas mengindikasikan bahwa Yesus adalah Allah dalam wujud manusia. Kisah Rasul 20:28 memberitahu kita, “… untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri” (Kisah Rasul 20:28). Siapa yang telah membeli gereja dengan darahNya sendiri? Yesus Kristus. Kisah Rasul 20:28 mengatakan bahwa Allah telah membeli gereja dengan darahNya sendiri. Karena itu Yesus adalah Allah!

Mengenai Yesus, Thomas, sang murid berseru, "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28). Yesus tidak mengoreksi dia. Titus 2:13 mendorong kita untuk menantikan kedatangan Allah dan Juruselamat kita – Yesus Kristus (lihat pula 2 Petrus 1:1). Dalam Ibrani 1:8, Bapa berbicara mengenai Yesus, “Tetapi tentang Anak Ia berkata: `Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.’”

Dalam Wahyu, malaikat menginstruksikan Rasul Yohanes untuk hanya menyembah kepada Allah (Wahyu 19:10). Beberapa kali dalam Alkitab Yesus menerima penyembahan (Matius 2:11; 14:33; 28:9, 17; Lukas 24:52; Yohanes 9:38). Dia tidak pernah menegur orang-orang yang menyembah Dia. Kalau Yesus bukan Allah, Dia pasti akan melarang orang-orang menyembah Dia, sama seperti malaikat dalam kitab Wahyu. Masih banyak lagi ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai keillahian Yesus.

Alasan paling utama Yesus haruslah Allah adalah bahwa jikalau Dia bukan Allah, kematianNya tidak cukup untuk membayar hukuman dosa dunia (1 Yohanes 2:2). Hanya Allah yang sanggup membayar hukuman yang begitu besar. Hanya Allah yang dapat menanggung dosa seisi dunia (2 Korintus 5:21), mati dan dibangkitkan – membuktikan kemenanganNya atas dosa dan kematian.




Baca lebih lanjut:http://www.gotquestions.org/Indonesia/Apakah-Yesus-Allah.html#ixzz3DpDntLFN

Pelayanan kami untuk Allah Tahukah siapah Yesus

Silahkan nampir ke toko Lzanda

Jawaban:Siapakah Yesus Kristus itu ? Berbeda dengan pertanyaan, “Apakah ada Allah?” jarang orang mempertanyakan apakah Yesus Kristus ada. Pada umumnya Yesus dipandang sebagai seseorang yang hidup di bumi di Israel 2000 tahun yang lampau. Perdebatan baru dimulai ketika topik mengenai identitas Yesus didiskusikan. Hampir setiap agama besar mengajarkan bahwa Yesus adalah seorang nabi, atau guru yang baik atau seorang manusia yang saleh. Masalahnya Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Yesus lebih dari sekedar seorang nabi, guru yang baik atau orang yang saleh.

C.S. Lewis dalam bukunya Mere Christianity menulis: “Saya berusaha mencegah orang dari mengatakan hal-hal yang bodoh yang biasanya orang katakan mengenai Dia [Yesus Kristus]: “Saya siap untuk menerima Dia sebagai seorang pengajar moral yang agung, tapi saya tidak menerima klaim bahwa Dia adalah Allah.” Ini adalah sesuatu yang kita tidak boleh katakan. Seorang manusia biasa dan mengucapkan apa yang dikatakan oleh Yesus tidak mungkin merupakan seoarng pengajar moral yang agung. Kalau orang itu bukan orang gila – yang setara dengan orang yang mengatakan bahwa dia adalah telur rebus – atau dia adalah si Iblis dari neraka. Engkau harus menentukan pilihanmu. Apakah orang ini adalah Anak Allah, atau orang gila atau lebih parah…. Engkau bisa menutup telinga dan menganggap Dia orang bodoh, engkau bisa meludahi Dia dan membunuh Dia sebagai iblis, atau engkau bisa tersungkur di kakiNya dan menyebut Dia Tuhan dan Allah. Tapi jangan mencari alasan yang tidak-tidak dengan mengatakan bahwa Dia hanyalah seorang pengajar yang agung. Dia tidak memberikan opsi itu kepada kita. Dia tidak bermaksud untuk melakukan itu.

Jadi siapakah Yesus? Apa kata Alkitab mengenai Dia? Pertama-tama, mari kita lihat kata-kata Tuhan Yesus dalam Yohanes 10:30, “Aku dan Bapa adalah satu.” Sekilas, ini kelihatannya bukan merupakan sebuah klaim bahwa Dia adalah Allah. Namun kalau dilihat dari reaksi orang-orang Yahudi terhadap pernyataan ini "Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah." (Yohanes 10:33). Orang-orang Yahudi mengerti pernyataan Yesus sebagai sebuah klaim bahwa Dia adalah Allah. Dalam ayat-ayat berikutnya Yesus tidak pernah mengoreksi orang-orang Yahudi dengan mengatakan, “Saya tidak mengaku diri sebagai Allah.” Hal ini menunjukkan bahwa Yesus betul-betul mengatakan bahwa Dia adalah Allah dengan mengumumkan, “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:30). Yohanes 8:58 adalah contoh lainnya. Yesus memproklamirkan, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Kembali orang-orang Yahudi berespon dengan mengambil batu dan berusaha melempari Yesus (Yohanes 8:59). Yesus mengumumkan identitasnya dengan menggunakan “Aku adalah” yang adalah merupakan penerapan langsung dari nama Allah dalam Perjanjian Lama (Keluaran 3:14). Mengapa orang-orang Yahudi mau melempari Yesus dengan batu kalau bukan karena Dia mengatakan sesuatu yang mereka anggap menghujat Allah, yaitu dengan mengaku diri sebagai Allah?

Yohanes 1:1 mengatakan, “Firman itu adalah Allah.” Yohanes 1:14 mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia.” Ini jelas mengindikasikan bahwa Yesus adalah Allah dalam wujud manusia. Thomas sang murid mengungkapkan pada Yesus, "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yohanes 20:28). Yesus tidak mengoreksi dia. Rasul Paulus menggambarkan Dia sebagai, “…Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus” (Titus 2:13). Rasul Petrus mengatakan hal yang sama, “…Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.” (2 Petrus 1:1). Allah Bapa adalah Saksi dari identitas Yesus yang sepenuhnya, “Tetapi tentang Anak Ia berkata: "Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran.” Nubuat-nubuat mengenai Kristus dalam Perjanjian Lama menyatakan keillahianNya, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”

Jadi, sebagaimana dikatakan oleh C.S. Lewis, percaya kepada Yesus sebagai seorang guru yang baik bukanlah sebuah pilihan. Yesus dengan jelas dan tak dapat disangkali mengakui diriNya sebagai Allah. Kalau Dia bukan Allah, Dia adalah seorang pendusta dan bukanlah seorang nabi, guru yang baik atau manusia yang beribadah. Dalam usaha untuk menjelaskan apa yang dikatakan oleh Yesus, para “sarjana-sarjana” modern mengatakan bahwa “Yesus sejarah yang sejati” tidak mengucapkan banyak hal yang Alkitab katakan sebagai diucapkan oleh Yesus. Siapakah kita yang dapat berdebat dengan Firman Tuhan mengenai apa yang Yesus katakan atau tidak katakan? Bagaimana seorang “sarjana” yang dua ribu tahun terpisah dari Yesus dapat lebih mengerti apa yang Yesus katakan dan tidak katakan dibanding dengan mereka yang hidup bersama Dia, melayani bersama Dia dan diajar langsung oleh Yesus sendiri (Yohanes 14:26)?

Mengapa pertanyaan mengenai identitas Yesus yang sebenarnya begitu penting? Mengapa penting kalau Yesus itu Allah atau bukan? Alasan yang paling penting bahwa Yesus haruslah Allah adalah bahwa jikalau Dia bukan Allah, kematianNya tidaklah cukup untuk membayar hutang dosa seluruh dunia (1 Yohanes 2:2). Hanya Allah yang dapat membayar hutang sebesar itu (Roma 5:8; 2 Korintus 5:21). Yesus haruslah Allah sehingga Dia dapat membayar hutang kita. Yesus haruslah manusia supaya Dia bisa mati. Keselamatan hanya tersedia melalui iman di dalam Yesus Kristus! Keillahian Yesus adalah alasan mengapa Dia adalah satu-satunya jalan keselamatan. Keillahian Yesus adalah penyebab mengapa Dia mengumumkan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).