![]() |
| guskompindo |
RAHASIA KISAH CINTA RAJA SULAIMAN
( The Secret of King Solomon’s Love Story )
DAFTAR ISI
1. Perjumpaan Pertama yang Mengejutkan
2. Rapat tertutup keluarga Raja
3. Persiapan Penobatan
4. Hari Kedukaan Jadi Pengalaman Pertama
5. Cinta yang Menghantarkan Maut
6. Pesta Pernikahan Raja Sulaiman
7. Gaya Hidup Perkawinan Majemuk
Pengantar
Raja Sulaiman terkenal sebagai seorang raja yang dikaruniai kepintaran, hikmat dan kebijaksanaan melebihi semua manusia di muka bumi. Dia menjadi seorang raja sangat kaya dan kerajaannya mengalami kejayaan dan kedamaian, tak pernah terjadi peperangan dalam kepemimpinannya selama 40 tahun. Bisnis perdagangan dengan kerajaan lain terjalin sangat baik, nilai ekspor-impor hasil bumi dan kerajinan tangan menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Rumah Ibadah berupa BAIT-ALLAH yang sangat indah, mewah dan megah dibangunnya dengan sukses selama tujuh tahun, kemudian istana kerajaan yang dibangunnya bagaikan hotel berbintang lima pada saat ini, masa keemasan kerajaan sudah diakui oleh banyak pihak.
Dalam hal cinta, sejarah mencatat Raja Sulaiman telah memperistri 700 wanitadan memiliki 300 gundik. Jadi ada seribu wanita yang hidup di seputar kehidupan cinta raja yang sangat mengagumi keindahan alam serta keelokan bentuk dan kecantikan wanita, namun yang sangat mengherankan adalah tidak ada satu namapun dari para kekasihnya yang ditulis dalam semua syair juga amsalnya, Bahkan Putri Firaun yang dipersuntingnya menjadi Permaisuri juga tidak disebutkan namanya, ada satu nama seorang perempuan bernama Na’ama, seorang wanita bangsa Amon yang bukan dari suku Israel, dia adalah ibu dari anak pertamanya yaitu Rehabiam, kelak menjadi Raja menggantikannya, cukup mengherankan bukan ? …….. Sedangkan Cinta sejati Sulaiman sebenarnya jatuh pada seorang gadis-sederhana namun tidak pernah bisa dinikahinya, siapakah dia ? dan apa penyebabnya ? Marilah kita ikuti rahasia kisah cinta raja Sulaiman dalam buku ini yang ditulis dan dikembangkan berdasarkan penafsiran ayat-ayat cinta Raja Sulaiman (Kidung Agung), Kitab Amsal Sulaiman dan Kitab Perjanjian Lama yaitu: kisah tentang Raja-raja Kerajaan Israel. (Kitab I Raja-raja & Mazmur Daud).
Selamat mengikuti dan menghayati Rahasia Kisah Cinta Raja Sulaiman, semoga pengalamannya yang diuraikan dalam kisah ini bisa menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi para pembaca yang budiman, tulisan ini diisi oleh banyak konsep pemikiran manusia yang bisa kita bandingkan dengan kehidupan kita pada masa kini dan dilengkapi juga dengan bunga-cerita yang disajikan secara unik agar imajinasi pembaca bisa berkembang selama menikmati kisah ini, Opini penulis berkenaan dengan peristiwa yang terjadi dalam cerita ini bertujuan untuk membandingkannya dengan peristiwa yang bisa terjadi pada saat kini. Cerita ini dilengkapi pula dengan pengetahuan umum tentang banyak hal yang mungkin untuk beberapa kalangan masih terasa asing, namum demikian bisa menjadi masukan tambahan bagi para pembaca sekalian, Semoga dapat menambah inspirasi dalam kehidupan pembaca yang budiman,
1. Perjumpaan Pertama yang Mengejutkan
Semalaman tertidur di atas meja kerja membuat tubuhnya terasa begitu pegal, tidak biasanya Putra mahkota kerajaan Israel bekerja lembur seperti itu. Pemuda ganteng dan cerdas bernama Sulaiman kali ini sedang memusatkan seluruh pikirannya kepada rencana proyek pembangunan “BAIT ALLAH” yang saat itu masih dalam tahap perencanaan model miniatur berupa sebuah maket yang dibuat secara detail dengan ketelitian yang tinggi, semua ini atas perintah ayahanda Baginda Raja Daud yang sangat mendambakan pembangunan tempat ibadah bagi kemuliaan ALLAH Yang Maha Tinggi.
Sambil merentangkan tangannya Sulaiman memutar-kan tubuhnya ke kiri dan ke kanan di koridor depan ruang kerjanya ketika sekonyong-konyong “plak !”tangannya menyambar keras sesuatu dan kemudian terdengar jeritan halus suara seorang gadis “… Auuw !” disertai suara nyaring akibat terlemparnya baskom perak yang terjatuh dan airnya tumpah-ruah ke lantai koridor. Sepasang insan muda itu terkejut dan sejenak mereka sama-sama tertegun dengan kejadian yang tak terduga itu. Sulaiman memandang gadis itu yang sedang merasa ketakutan, lalu seperti ada kekuatan magnet, keduanya serempak membungkukkan tubuh mereka untuk memungut baskom air yang tertumpah itu, hampir saja muka mereka bersinggungan, lalu dengan lugu gadis itu berkata lembut: “Oh,… maaf,… ampunihamba ini ya Tuan.” Sulaiman menatap mata gadis asing itu lalu katanya : ”Siapa kamu? …. Kamu cantik sekali *….. “ gadis itu tersipu-malu dan menundukan kepalanya katanya perlahan : “Ah, … kulitku hitam,** tuan.” “Siapa yang bilang kulitmu putih ? “ tegas Sulaiman sambil kedua tangannya memegang lembut bahu gadis itu dan mengajaknya bangkit berdiri. Gadis si-hitam manis itu jadi semakin kikuk dibuatnya, dia tetap menundukan mukanya, tidak berani membalas tatapan tajam mata seorang pemuda ganteng yang berdiri tepat di depannya.
*)Kitab I Raja-raja pasal 1 ayat 3-4 **) Kidung Agung pasal 1 ayat 5
Lalu ia merasakan dagunya disentuh dan ada tenaga kuat yang memaksa dia harus mendongakkan wajahnya. Sorot mata yang tajam kembali membuat hatinya berdebar, terdengar lagi suara : “Hai, gadis hitam manis, siapa kamu ini ?… apa yang kamu lakukankan di sini ? “ sambil dikecupnya kening gadis itu,…………. Oooh, romantis sekali.
Tapi tiba-tiba terdengar suara dari jauh : “Abisay ! .. ada apa denganmu ? ….. apa kamu terjatuh ? “ segera gadis hitam manis itu melepaskan diri dari genggaman tangan Sulaiman sambil berkata : “maaf tuanku,… hamba harus segera bekerja kembali.”
Sulaiman melepas Abisay pergi tetapi pandangannya tetap tertuju pada gadis itu yang menghampiri ibunda Sulaiman Bethsyeba, sambil bersujud sapanya “ Maaf bu, hamba baru saja menumpahkan air pembasuh untuk tuanku Raja. “ Hati-hati kalau bekerja, sekarang kamu ambil lagi air yang baru, biarkan lantai yang basah itu, nanti petugas kebersihan yang akan mengeringkannya.” Perintah sang ibunda. “ Dia itu Absay, gadis Sulam dari daerah Sunem, pamanmu yang membawanya dari Utara tanah Kanaan*, untuk merawat ayahanda-mu Raja Daud. Baru semalam dia bertugas dan kelihatannya cocok. Ibu belum sempat memberitahukan padamu karena ibu lihat kamu sibuk sekali. .… bagaimana menurut pendapatmu?“ Sulaiman tidak berkomentar dengan kata-kata, dia hanya menganggukan kepalanya saja tanda mengerti padahal pikirannya masih terbayang peristiwa menit-menit sebelumnya yang sungguh memberi kesan sangat mendalam bagi hati dan pikirannya. “Ibu, saya permisi dulu ya, karena harus segera mandi dan kembali bertugas hari ini.” Seraya mencium punggung jari tangan ibunya sebagai rasa hormat. “Baiklah anakku. ALLAH memberkatimu.” Bethsyeba membalasnya disertai dengan senyuman bangga seiring Sulaiman pergi menjauh dari pandangannya.
Ada sesuatu yang aneh mengganggu pikiran Sulaiman, tatapan polos mata gadis yang baru dijumpainya itu begitu mempesona hatinya …… seolah ada suatu daya tarik yang begitu kuat sehingga mengganggu pikirannya sampai dia tidak sadar bahwa tiba-tiba sudah berada di depan pintu kamar-mandi padahal dia belum membawa perlengkapan pakaian pengganti. ….. ya, kehadiran seorang gadis memang bisa membuat tingkah-laku aneh bagi seorang pemuda yang telah dibuatnya terpesona.
*) KItab I Raja-raja pasal 1 ayat 1 s/d 4 - PERJANJIAN LAMA
2. Rapat Tertutup Keluarga Raja
Hari berganti hari, Sulaiman dengan tekun melanjutkan tugas mulia dari ayahanda merampungkan detail-detail perencanaan gambar dan model miniatur dibantu oleh sekelompok team khusus, mereka mengerjakannya dengan sangat teliti, karena “Bait-ALLAH” yang akan dibangun itu dibuat sedemikian rupa sehingga semua komponen harus bisa disusun tanpa menggunakan paku, pasak dan memukulkan palu, jadi dibuat saling berkaitan bagai puzzle yang berpasangan satu dengan yang lainnya. Jadi semua komponen dibangun dengan system “Knock-down” * Jadwal Pelaksanaan Pembangunan memakan waktu sampai dengan 7 tahun, hampir semuanya harus dilapisi dengan emas murni.
*) Kitab I Raja-raja pasal 6 – Kitab PERJANJIAN LAMA
Seminggu sekali Sulaiman melaporkan perkembangan pekerjaan perencanaan ini kepada ayahnya Raja Daud. Raja sangat terkesan dan bangga pada keseriusan putra kesayangannya ini. Sulaiman selalu penuh semangat mempresentasikan rancangannya dengan inovasi rancang-bangun yang sangat kreatif. Bethsyeba, sang ibu juga selalu mendukungnya, dia senang sekali turut mendengarkan presentasi dari putranya di hadapan raja. Setiap kali Sulaiman berbicara dalam kamar pribadi raja, karena kondisi tubuh Raja Daud yang sudah lemah dan disampingnya Abisay selalu hadir. Abisay duduk bersimpuh. Dalam Pikiran Sulaiman sering timbul keinginan untuk saling bertatap mata dengan gadis sihitam-manis itu seperti yang pernah dialami waktu pertemuan pertama di selasar Istana, tapi hal itu tidak pernah terulangi di dalam kamar raja karena sikap Abisay yang selalu memandang dan memperhatikan sang raja, dia selalu membasuh peluh raja pada dahi dan leher atau memberi minum bila kelihatan raja mulai haus dan tangannya yang mungil dan lentik selalu memijat bahu, tangan dan kaki raja supaya tetap terasa nyaman dan hangat sampai selesai presentasi, Sulaiman melihat bahwa mata Abisay tidak pernah berpaling dari ayahandanya. Hal ini sedikit membuat hatinya menjadi penasaran, dia ingin sekali lagi atau bahkan selalu bisa mengambil kesempatan bertatapan mata lagi dengannya.
“Selamat malam gadis Sulam” demikian sapaan Sulaiman dari belakang, ketika Abisay baru saja keluar dari kamar pribadi raja. Abisay kaget dan membalikan tubuhnya, “Selamat malam juga Tuan Putra Raja…. “ sambutnya sambil menggigit bibir bawah dan menundukan mukanya. “Ampun tuan,… hamba harus membawa tempayan ini ke belakang.”
“Sebentar Abisay, Aku mau bicara padamu.” Kata Sulaiman penuh wibawa. “Aku mau tanya keadaan ayahku Raja Daud, …. Apakah beliau Sekarang sudah bisa tidur nyenyak ?” sebuah pertanyaan yang bisa bermakna banyak untuk ditafsirkan oleh orang yang mendengarnya.
“ Ngg..… saya rasa demikianlah keadaannya tuan, saya dengar dahulu beliau sulit tidur, tapi syukurlah sekarang beliau sudah bisa tidur nyenyak, hamba selalu menggosok dengan minyak penghangat dan memberikan sedikit pijatan supaya terasa nyaman menghantar tidurnya.” “Baguslah…. Kalau begitu silakan kamu lanjutkan pekerjaanmu Abisay.” Kata Sulaiman sambil pikirannya kembali berputar, apa gerangan alasan Abisay begitu fokus pada ayahnya, mengapa sampai sanggup tidak berpaling pada dirinya selama dia melaksanakan presentasi di hadapan ayahnya?.... Ya jawabannya adalah supaya mencapai keberhasilan. Gadis hitam-manis itu telah berhasil memberikan penghiburan dan ketenangan sehingga ayahnya bisa tidur dengan nyenyak. Diapun harus fokus kepada pekerjaannya untuk mencapai keberhasilan dalam Perencanaan Pembangunan “Bait-ALLAH” dan juga melanjutkan Pemerintahan Kerajaan Israel.
Sulaiman kembali ke kamar pribadinya, di sana masih tersebar beberapa lembar kertas papyrus yang penuh dengan goresan-goresan tangannya. Dia segera membereskannya, malam sudah larut lalu dia segera beristirahat.
Di tempat pembaringannya Sulaiman sering mencoba membayangkan wajah Abisay, gadis sihitam-manis itu tapi anehnya sulit sekali baginya. Padahal wajah gadis cantik lain mudah saja ia munculkan dalam imajinasinya. Ia termenung sendirian,…. Heran mengapa bisa begitu ya ? Terkadang memang ada raut wajah wanita yang sangat sulit diimajinasikan dalam khayalan otak-lelaki, model wajah cantik wanita demikian biasanya selalu bisa tampil berbeda-beda setiap kali kita jumpai, bahkan bila melihat fotonya pada berbagai variasi dia bisa menampilkan keunikan wajah yang beraneka ragam, demikianlah kira-kira wajah Abisay, gadis sihitam-manis yang memikat hati sang pemuda Sulaiman.
Tiga hari kemudian ketika sarapan pagi bersama ibunda Bethsyeba, Sulaiman duduk di kursi makan yang selalu dia tempati. Dia sudah bercukur rapih dan mengenakan pakaian indah berwarna biru-muda dengan hiasan gelang emas pada bahunya dililit oleh kain biru tua menambah kegagahan dan wibawa yang sangat mengagumkan.
Sebelum duduk, Sulaiman selalu menyempatkan diri menghadap ibunda dan mengecup punggung tangan sang ibu sambil menyapa “Selamat pagi ibunda sayang”. “Diberkatilah engkau, anakku Sulaiman” sambut ibunda dengan penuh kasih dan bangga atas sikap anaknya yang sangat hormat dan mengagumkan itu, dia selalu ingat kepada kelembutan ayahanda Sulaiman yaitu Raja Daud yang 22 tahun yang lalu sempat menjatuhkan benteng pertahanan cintanya padahal waktu ia itu sudah bersuamikan Uria, seorang perwira perang yang sedang bertugas dalam suatu pertempuran melawan musuh dan Raja Daud sudah setengah-baya berusia 50 tahun lebih, tapi memiliki pesona serta kharisma yang hebat sehingga dia bisa jatuh terlena dalam pelukan sang raja dan menuruti keinginan hasrat lelaki yang bukan suaminya hingga terjadilah perselingkuhan yang menyeretnya ke dalam dosa pembunuhan terhadap suaminya sendiri yaitu Uria dan kematian bayinya yang merupakan akibat dari dosa yang dilakukannya. Bethsyeba tersentak dari lamunan ketika Sulaiman menyapa kembali : ”Mmmm, Ibu melamun lagi ya ?” Betsyeba agak kaget lalu katanya :“Oh, anakku …. Ah, aku cuma jadi selalu terkenang kepada ayahmu ketika beliau mempersunting aku dulu. Dia sangat mengagumkan, pantaslah kamu sekarang juga gagah dan ganteng seperti beliau.” sambil tersenyum.
“Ehm, ibu tentu sangat mengaguminya ketika bapak masih…” kata Sulaiman hati-hati. “Cukup anakku.” Perintah ibunya “Sampai saat inipun ibu tetap mengaguminya, tapi kondisi dan keadaannya sudah berubah… waktu 22 tahun bisa merubah keadaan kita, merubah sikap kita dan merubah cara kita bertindak dan mengambil keputusan, kelak kalau kamu sudah menjadi lebih dewasa apa lagi menjadi lebih tua, maka baru bisa lebih merasakan perubahan itu. Oke sekarang waktunya kita sarapan pagi, sebentar setelah sarapan kita akan mengadakan rapat keluarga penting demi kelangsungan Kerajaan Israel.” Sambil menyilakan hidangan di depan meja makan kerajaan yang penuh dengan buah-buahan segar, madu dan beberapa roti bundar.
Selesai sarapan, Bethsyeba mengajak Sulaiman ke ruang tamu dan ternyata di sana telah menanti seorang tamu, seorang yang sudah cukup tua dengan janggut putih yang tebal dan sorot matanya menyempit tapi terlihat sangat tajam. Dialah Natan, seorang nabi Tuhan yang 22 tahun silam pernah menegor keras Raja Daud tentang perselingkuhan dan pembunuhan berencana terhadap perwira yang bernama Uria, suami Bethsyeba saat itu. Tapi semuanya sudah berlalu. Konsekuensi dan resiko akibat dosa sudah menimpa keluarga kerajaan dengan matinya anak hasil perzinahan, Pemerkosaan antar anggota keluarga yaitu Amnon terhadap Tamar, adik Absalom. Pembunuhan saudara karena balas dendam yaitu Absalom membunuh Amnon dalam suatu acara makan bersama keluarga raja, lalu pengungsian keluarga kerajaan akibat pemberontakan anak kesayangan bernama Absalom, juga diperkosanya kesepuluh selir raja oleh Absalom di hadapan rakyat dan terakhir adalah matinya Absalom atas perintah Panglima Perang Yoab orang kepercayaan raja Daud sendiri padahal raja menghendaki Absalom jangan dibunuh. Semua itu memang sudah berlalu dan ALLAH Yang Maha Pemurah dan Pengampun sudah melupakan semuanya, karena ALLAH sudah melihat dan menerima pengakuan, penyesalan dan pertobatan Raja Daud. Nabi Natanpun menaruh simpatik kepada keluarga raja, terutama Bethsyeba dan anaknya Sulaiman yang diyakininya akan menjadi pewaris Tahta Kerajaan Israel.
“Oh, …….rupanya ibu dan bapak Natan sedang merencanakan sesuatu ya?”dengan cepat dan cerdas Sulaiman menganalisa penyebab kehadiran Nabi Natan, karena ibunda terlihat sudah tahu tentang kehadiran Nabi Natan di ruang tamu.“Benar, anakku.” Kata ibunya sambil tersenyum. “Pikiranmu memang sangat tajam”lanjutnya sambil mengangukan kepala kepada tamunya. Bethsyeba mempersilakan Nabi Natan mencicipi hidangan yang tersedia di meja tamu.
“Sulaiman, anakku…… hari ini mungkin akan menjadi hari yang sangat menentukan bagi kita keluarga kerajaan dan seluruh bangsa Israel. Kamu tahu Sulaiman bahwa hanya kamu sendiri hari ini yang berada dalam Istana ini, karena semua saudaramu yang lain sedang diundang oleh Adonia abangmu dari ibu Hagit untuk pesta bersama di Batu-zohelet yang terletak disamping En-Rogel *) Kitab I Raja-raja 1:9
“Ya , ya, saya dengar itu…. Tapi bagi saya pesta semacam itu bukanlah suatu yang penting, saya lebih senang meneliti Pengetahun dan menyiapkan rencana Proyek Pembangunan Bait-ALLAH yang suatu saat pasti direalisasikan pembangunannya dan pasti bisa menjadi kebanggaan bangsa kita.” kata Sulaiman dengan penuh kepastian akan prinsip hidupnya. Memang dia bukan type pemuda yang senang dengan pesta-pora dan foya-foya selayaknya kebiasaan para anak-anak bangsawan yang bergelimang harta, meskipun dia berhak menggunakan fasilitas kerajaan, tetapi hidup Sulaiman difokuskan pada pendalaman Ilmu Pengetahun, Hukum-hukum Tuhan, Tradisi-tradisi kedaerahan dan keindahan alam ciptaan ALLAH.
“Kami sangat memahami sikap dan karaktermu Sulaiman” komentar Nabi Natan, katanya lagi : ”Untuk itulah sekarang aku datang ke sini dan telah berunding dan sepakat dengan ibumu untuk merencanakan sesuatu yang kami yakini adalah kehendak ALLAH.” kemudian katanya pada Bethsyeba “Oke Bethsyeba, sekarang tibalah saatnya engkau masuk menghadap raja dan katakanlah apa yang harus dan pantas kamu katakan pada Baginda. Aku yakin kamu sanggup melakukannya, sementara aku di sini dulu bersama Sulaiman dan akan kujelaskan rencana hari ini juga dan semoga ALLAH yang maha tinggi menyertai setiap langkah untuk menuju kepada hari esok yang penuh harapan …. AMIN.”
Segera setelah Bethsyeba meninggalkan ruang tamu dan dia pergi menghadap raja di dalam kamarnya, raja pada waktu itu sudah sangat renta dan Abisay, gadis Sunem si hitam-manis sedang melayaninya, tangan yang mungil dan jari lentik cekatan memijit bahu raja. Dia berusaha menghentikan sementara pijitannya tapi raja melarangnya dan dengan isyarat agar Abisay tetap pada posisinya.
*) Bethsyeba sujud di depan raja lalu raja bertanya :”Kamu ingin apa Bethsyeba?”sebuah pertanyaan yang singkat dan sederhana tapi menjadi sedikit janggal bila dikatakan oleh seorang suami kepada istrinya, tapi memang lelaki ini adalah seorang raja yang berkuasa dan Bethsyeba memang salah seorang istrinya yang sangat dicintainya dan dekat dengan Raja Daud tapi pertanyaan ini menjadi agak canggung apalagi saat itu Raja sedang tidak sendirian, dia sedang didampingi oleh Abisay, memang Abisay hanya seorang pelayan atau suster upahan namun sekarang Abisaylah yang menjadi pendampingnya sehari-hari, seorang gadis cantik, muda, sederhana dari sebuah desa terpencil tapi terpilih, mengapa bukan para istri atau selir yang menjaga dan menemani Raja Daud ? Ya itulah kenyataan yang terjadi dalam kehidupan manusia, memiliki banyak istri bukan berarti bisa merasakan banyak kesenangan, tapi pada hari tua sering kali para istri dan selir malah saling menghindar dari tugas dan tanggung jawab yang sesungguhnya, istri-istri raja Daud hanya mau menggunakan fasilitas kerajaan saja tapi ketika dihadapkan pada kewajiban sebagai pendamping pribadi suaminya yang sudah tua renta dan sakit-sakitan, mereka saling melempar tanggung-jawab, tidak ada seorangpun yang mau tidur bersamanya, mungkin dengan alasan tidak tahan mendengar suara dengkur yang keras dari tidurnya, atau bau nafas yang tidak sedap. Tidak terkecuali istri kesayangannya Bethsyeba, sekarang ini ia menghadap rajapun karena ada maksud dan kepentingan tertentu. Raja tahu persis hati orang-orang dekatnya.
Bethsyeba menjawab pertanyaan raja Daud : “Paduka yang Mulia, Baginda telah bersumpah kepadaku demi nama TUHAN ALLAH Baginda bahwa putraku Sulaiman akan menjadi raja menggantikan Baginda. Tapi sekarang dengan tidak diketahui oleh Baginda, Adonia sudah memaklumkan dirinya sendiri menjadi raja. Ia saat ini sedang mempersembahkan banyak domba, sapi jantan dan anak sapi yang gemuk-gemuk. Ia juga mengundang putra-putra Baginda ke pesta itu, Imam Abyatar serta panglima Yoab turut mendukungnya, tapi Sulaiman putra Mahkota yang sesungguhnya tidak diundangnya…….. Paduka yang Mulia, seluruh rakyat Israel sekarang sedang merasa resah, mereka menanti-nantikan keputusan dari Baginda tentang siapa yang akan menggantikan Baginda menjadi raja Israel baru, kalau Baginda menunda-nunda keputusan penting ini dan rakyat menjadi terpecah, maka aku dan Sulaiman putra Baginda pastilah akan disingkirkan setelah Baginda menghadap Yang Maha Kuasa.”
Sementara Bethsyeba masih berbicara, seorang pengawal datang membawa berita bahwa ada seorang nabi Tuhan bernama Natan bermaksud menjenguk Raja Daud. Raja Daud yang masih merenungkan kata-kata dari Bethsyeba dan pikirannya belum bisa mencerna apalagi memutuskan sesuatu, berkatalah ia pada pengawalnya: “Persilakanlah Nabi itu masuk.” Lalu dengan bahasa isyarat Raja Daud meminta Bethsyeba meninggalkannya sejenak karena akan datang Nabi Natan. Bethsyeba yang sebenarnya sudah tahu akan kehadiran Nabi Natan segera membungkukan diri mohon pamit ke luar ruangan. *) Kitab I Raja-raja 1 : 15 - 21
Hati Abisay sedikit geli melihat dan merasakan sikap orang-orang seputar Raja Daud, memang akan ada banyak orang yang bersikap manis di hadapan orang yang memiliki kekuasaan tapi dibalik sikap manis tidak sedikit tersimpan maksud-maksud tertentu: perebutan kekuasaan akan selalu terjadi di manapun dalam dunia ini, dalam sebuah kerajaan, perusahaan, masyarakat bahkan dalam keluarga kerap kali terjadi antar individu. Senjata yang biasa digunakan untuk perebutan kekuasaan bisa berupa pengaruh atau hasutan, harta, materi, kecerdikan, cinta dan kadang-kadang paksaan dengan tindak kekerasan.
Sejenak Raja Daud mengarahkan pandangannya kepada Abysah di sisinya yang sedang asyik memijat-mijat tangan kanannya lalu katanya: “Abisay ….apakah kamu mengerti apa yang sedang terjadi dalam keluargaku ?........ dalam istana ini ?”Abisay tersenyum lalu menjawab dengan lembut : “Ampuni hambamu ini Baginda, seharusnya hamba tidak usah mendengar semuanya ini, apalagi harus mengerti keadaan keluarga dan kerajaan Baginda.” Sesaat kemudian masuklah nabi Natan, seorang kakek yang sebaya dengan Raja Daud, namun masih terlihat tegap, mungkin dia bisa lebih sehat karena sering olah-raga berjalan kaki, tidak seperti seorang raja yang lebih terbiasa naik kereta kuda kerajaan. Dengan penuh hormat Nabi Natan menghampiri raja lalu sujud dengan muka sampai ke tanah katanya : “Apakah benar Baginda Raja telah mengangkat Adonia putra ketiga bapak menjadi raja menggantikan Baginda ? Sebab pada hari ini dia telah membuat pesta besar dan mengundang semua keluarga raja, para panglima dan imam Abyatar, mereka semua sekarang sedang bersuka-ria sambil bersorak-sorak Hidup Raja Adonia! tetapi hambamu ini, beserta imam Zadok, Benaya bin Yoyada dan juga Sulaiman tidak diundangnya. Apakah ini semua merupakan keinginan dan keputusan Baginda ?” kata nabi Natan mencoba mengingatkan raja, lalu katanya lagi : “ Sekarang Yoab mengangkat Adonia menjadi raja, tetapi rakyat merasa ragu dan menjadi cemas, karena menunggu keputusan pasti Baginda tentang siapa yang sebenarnya yang akan duduk di atas tahta tuanku raja sesudah tuanku.” Raja Daud menjawab, katanya :”Panggillah Bethsyeba !” Setelah Bethsyeba datang menghadap raja lalu raja mendeklarasikan suatu pernyataan resmi katanya: “Demi Tuhan yang hidup, yang telah membebaskan nyawaku dari segala kesesakan, pada hari ini juga aku akan melaksanakan apa yang telah kujanjikan kepadamu demi nama Tuhan ALLAH Israel dengan sumpah ini : Anakku Sulaiman akan menjadi raja sesudah aku, dan dialah yang akan duduk di atas tahtaku menggantikan aku.” Lalu Betsyeba sujud berlutut dengan muka sampai ke lantai, ia sujud menyembah kepada raja sambil berkata : “ Hiduplah tuanku Raja Daud untuk selama-lamanya’” * titah raja Daud :“Panggillah imam Zadok. Nabi Natan dan Benaya bin Yoyada” Merekapun menghadap raja dan ditugaskan untuk melantik Sulaiman menjadi raja Israel yang baru hari itu juga..
Abisay bisa menyaksikan peristiwa penting ini, bukan karena ia menjabat posisi tinggi di kerajaan, Abisay hanyalah seorang budak, hamba yang sederhana tetapi ia sekarang adalah hamba seorang raja yang sangat berkuasa di Israel, jadi ia memperoleh kesempatan untuk mengetahui dan menyaksikan peristiwa-peristiwa penting dalam tahta kerajaan. Diam-diam Abisay mulai membayangkan dalam benaknya, bagaimana Pemuda Sulaiman yang tampan itu dan kadang-kadang berjumpa dengannya di lorong pembatas kamar-kamar istana dan sesekali suka menyapanya, suatu saat memakai mahkota Raja, pastilah Sulaiman tambah ganteng dan mempesona. …. Ah itu Cuma suatu bayangan belaka, Abisay kembali memusatkan pikirannya pada Baginda Raja Daud.
*) Kitab I Raja-raja pasal 1 ayat 30 - 31 – PERJANJIAN LAMA
3. PERSIAPAN PENOBATAN
Suasana istana kerajaan mendadak berubah setelah instruksi Raja Daud untuk melaksanakan penobatan mendadak itu. Beberapa saat kemudian ketika Abisay membawa kembali baskom berisi air untuk membasuh tangan Raja Daud, dia berpapasan dengan Sulaiman sipemuda tampan yang kelak menjadi raja sedang berdiri menunggu di ruang tamu. Mata mereka saling berpadu, ada sesuatu yang terpancar dari keduanya, pancaran kekaguman yang hanya bisa dinikmati oleh yang bersangkutan saja.
“Abisay,….” Sapa Sulaiman, dan Abisay memberhenti-kan langkahnya di lorong itu, lalu Sulaiman mendekati, katanya : “Hati-hati ya Abisay, jangan sampai tumpah lagi airnya ya.” Katanya mengingatkan peristiwa pertama kali mereka berjumpa, Abysah meliriknya sambil tersenyum manis sahutnya : “Sekarang hamba sudah belajar lebih berhati-hati tuan,…. Ehm, hamba mengucapkan selamat ya tuan… tuanku Raja Bangsa Israel…..” sahut Abisay sambil membungkukan badannya penuh rasa hormat kepada Sulaiman.
“ Hai ! mengapa engkau katakan tuanku raja padaku ? apa maksudmu Abisay ? ” sambil mengerutkan alisnya Sulaiman mendekat dan memegang kedua bahu gadis itu. “Ampun hambamu ini tuan, … hamba telah lancang mendahului Baginda … ampuni hamba” Abisay bergetar sambil ketakutan. “ Jangan takut Abisay,…. Pandanglah aku ! ” tangan Sulaiman mencoba mengangkat dagu gadis itu : “ Katakan padaku apa maksudnya mengatakan tuanku Raja Bangsa Israel ? ” Tapi sebelum Abisay menjawabnya terdengar suara Bethsyeba : “ Sulaiman, … anakku. … “ tepat seperti waktu pertama kali mereka berjumpa, Abisay segera mohon pamit diri dan Sulaiman membiarkan Abisay pergi…..Karena penjelasan atas pertanyaannya dia dapatkan dari sang ibunda, sama seperti waktu yang lalu. Bethsyeba menjelaskan bahwa hari itu juga Sulaiman akan dinobatkan menjadi Raja Kerajaan Israel dan memerintah rakyat menggantikan ayahandanya.
Setelah mendengar penjelasan ibunya, segeralah Sulaiman mempersiapkan diri untuk acara yang sangat penting dalam hidupnya dan juga maha penting bagi bangsanya, karena nasib bangsanya akan sangat dipengaruhi oleh karakter dari pemimpinnya. Seorang pemimpin yang bijaksana bisa membawa rakyat kepada kedamaian dan kemakmuran dan sebaliknya pemimpin yang bebal dan arogan bisa mengacaukan keadaan dan bisa membawa bangsa dan negara menuju kepada kehancuran.
Sambil mempersiapkan diri, Sulaiman menyempatkan pikirannya tertuju pada gadis mungil sihitam-manis yang berasal dari desa itu, Abisay yang lugu, sederhana, kurang pendidikan formal, namun dia tekun, rendah hati, sabar dan penuh rasa kasih sayang pada keluarga Daud. Dalam pribadi gadis itu tersimpan keberanian untuk berpikir dan berbicara…… secara perlahan tapi pasti itulah suatu potensi yang bisa menumbuhkan rasa kagum serta cinta yang mendalam dari relasinya, dalam hal ini perhatian dari Putera Mahkota yaitu Raja Sulaiman, bahkan rasa simpati itu bisa tumbuh terus menjadi rasa cinta yang membara bila ada pencetusnya. ( Banyak para penafsir Kitab Perjanjian Lama yang menerka Abisay adalah gadis cantik berkulit kehitaman yang berperan dalam kisah KIDUNG-AGUNG. )
Selanjutnya, kesibukan yang luar biasa terjadi disekitar istana. Persiapan penobatan Raja yang sangat mendadak itu menyita tenaga dan pikiran, pada akhirnya Raja Daud cukup puas dengan keputusannya, dan ternyata Adonia merasa takut, dia bersedia menyerah dan tidak jadi memaksakan diri menjadi raja, rakyat mendukung penobatan Sulaiman menjadi Raja Baru bangsa Israel, sehingga Negara menjadi aman dan damai.
Beberapa bulan berlalu sebagaimana biasa, Raja Sulaiman lebih banyak menyibukan diri dengan urusan pemerintaan kerajaan juga menyelesaikan program rencana Proyek Pembangunan Bait-ALLAH yang menguras pikiran dan waktu yang tidak sedikit, dan di pihak lain Abisay menyibukan diri dengan mengurus sang ayahanda raja Daud yang semakin lama semakin menurun kesehatannya dimakan usia yang bertambah lanjut. sampai suatu hari ada teriakan histeris dan tangis yang mengagetkan seluruh isi istana Kerajaan ……………….. Jeritan dari seorang wanita muda ……………………………… siapa dia ? dan ada apakah gerangan yang terjadi dalam Istana ???
4. Hari Kedukaan Jadi Pengalaman Pertama
Tidak seperti biasanya, sehari sebelum peristiwa pagi yang mengejutkan, baginda raja Daud memanggil Putra Mahkota Sulaiman yang sudah beberapa bulan bertugas memegang pimpinan pemerintahan dan mengatur urusan kenegaraan dengan pesan-pesan yang cukup banyak, karena sudah semakin lemah, maka kata-katanyapun hanya sayup-sayup saja terdengar, tapi ada ketegasan dan kepastian tentang tindakan-tindakan yang harus dikerjakan oleh putranya bila beliau harus meninggalkan alam yang fana ini, terutaman pesan untuk rencana pembangunan Bait ALLAH yang harus segera dilaksanakan sesuai dengan denah yang sudah digambar dan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, pembahasan seluruh materi itu menyita waktu cukup lama, dan Abisay menjadi saksi mata dan telinga karena ia selalu mendampingi baginda raja Daud, sambil menyeka keringat yang bercucuran dan terus menggoyangkan kipas agar udara disekitarnya tetap sejuk.
Malam itu menjelang waktu tidur, baginda raja Daud ingin dilantunkan Nyanyian dari Mazmur 23 yang isinya :
“ Tuhan adalah Gembalaku, tak kan kekurangan aku, Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbingku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku, Ia menuntunku di jalan yang benar oleh karena namaNYA. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa……..”
Malam itu baginda agak sulit tidur, sudah lebih dari dua jam dipijat oleh Abisay tapi suara dengkur masih juga belum terdengar, malah dia sendiri yang kecapaian, kalau sejenak saja pijitannya berhenti, terdengar gumanannya : “ayo lagi…….”.memang ini bukan pertama kalinya terjadi demikian, rata-rata dua minggu sekali baginda menjadi agak sukar tidur, mungkin ada kegelisahan hati atau pengaruh fisik lelaki yang meskipun sudah tua namun alat-alat reproduksi masih berfungsi, kalau sudah demikian seperti biasa baginda minta dilakukan pijitan di daerah sensitif yang berefek lelah sehingga akhirnya bisa tertidur pulas.
Pagi hari, waktu Abisay membangunkan baginda raja untuk berseka muka, ternyata baginda tetap tertidur, bahkan kepalanya sudah terjatuh lemah di tepi bantal, ketika disentuh mukanya sudah agak dingin dan denyut nadi di pergelangan tangannyapun sudah tidak terasa lagi, Abysah sangat kaget, sekejap rasa takut menyelimuti hati dan pikirannya tanpa sadar dia menjerit histeris,…………. “Rajaaaa…… !” lalu ia terjatuh pingsan……..
Ketika siuman Abisay sudah berada di tempat yang asing baginya, dia tidak lagi berada dalam kamar tidur baginda raja Daud, sekarang terbaring di sebuah balai dalam ruangan yang asing baginya, sebuah ruang yang tidak luas seperti yang selama berbulan-bulan dia tiduri bersama baginda raja, dia agak bingung untuk menyesuaikan keadaan, dicobanya untuk mengingat apa yang telah terjadi dengan dirinya, mimpikah ini semua, di manakah dia sekarang berada apa masih di istana atau sudah kembali ke desanya….. sejenak kemudian sadarlah bahwa dia baru saja dikagetkan oleh keadaan pahit bahwa baginda raja yang sudah dirawatnya hampir setahun dengan penuh tanggung-jawab dan rasa kasih sayang yang selalu bertumbuh ternyata sekarang dengan tiba-tiba berlalu begitu cepat. Air mata tidak lagi mampu dibendung oleh kelopak mata, dia menangis dan menangis, hari sudah mulai gelap, Abisay sampai tidak bisa menyaksikan upacara pemakaman Jenazah sang baginda raja yang sudah sangat dekat dengannya, dia menyesali dengan apa yang dialaminya, para dayang yang lain tidak mampu menghibur deritanya yang begitu dalam, ketika malam tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya, sambil berkata lembut : “Abisay,……. Dengarlah ini aku datang untukmu…” Abisay ingat betul suara itu, suara pemuda ganteng yang kini sudah menjadi raja Bangsa Israel. Dibuka pintu kamarnya, tapi dia tidak berani menatap wajah sang raja muda itu, dia tetap menunduk sambil tersedu-sedu menangis karena sedih. Tangan kuat tapi dengan gerakan lembut menyentuh kedua bahunya dan Abisay membiarkan dirinya ditarik ke depan masuk dalam dekapan raja muda itu, ada suatu kehangatan dan rasa aman yang dirasakan ketika kepalanya bersandar pada dada Sulaiman, sang wanita yang memang sedang membutuhkan penghiburan, sang lelaki yang ingin sekali memberikan suatu kekuatan dan penghiburan, maka seperti ada kekuatan magnet, sepasang insan berpelukan erat….. semakin lama semakin kuat daya tarik-menarik … kekuatan cinta memang tak ada yang bisa dibendung lagi, …. Air yang banyak-sekalipun, tidak mampu memadamkan api cinta yang sedang berkobar........ tidak perlu lagi kata-kata rayuan, hanya kecupan yang berbalasan membuat mereka lupa pada apapun selain ingin melampiaskan hastrat cinta bagai kobaran api membara yang selama ini terpendam, dan kini meledak untuk berusaha saling memberikan kepuasan cinta bagi pasangannya…………….. Pagi harinya ketika sedang membersihkan diri, ada banyak bekas noda darah kering di seputar bagian bawah perutnya, Sulaiman sejenak membayangkan kejadian semalam bersama Abisay, gadis mungil sihitam manis, mantan perawat ayahandanya, ah kenapa ya dia masih perawan?*) padahal sudah setahun lebih tidur bersama ayahnya, apakah….. ah dia tidak mau berandai-andai, suatu saat akan dia coba tanyakan langsung pada Abisay, dia juga akan berupaya untuk mengangkat Abisay menjadi dayangnya atau sekaligus menjadi istrinya juga mungkin. Sambil memandang cermin dia melihat bahwa dirinya memiliki kemampuan sebagai penakluk wanita, siapapun dapat dia miliki dengan ketampanan dan kejantanannya, …….. benarkah demikian ?
*) Kitab IRaja-raja pasal 1 ayat 4 B
5. Cinta yang menghantarkan Maut
Di tempat lain, Zilam seorang bawahan Adonia, kakak Sulaiman yang tidak se-ibu datang membawa kabar yang cukup bisa menghebohkan seisi istana katanya :“Tuanku Adonia, hamba….. Raja ….Sulaiman……” katanya terbata-bata “Ah, jangan bikin aku penasaran, cepat saja lanjutkan katamu itu.” bentak Adonia tak sabar.
“Begini tuan, saya dapat info bahwa, semalam tuanku raja Sulaiman bermalam di kamarnya Abisay, suster almarhum baginda Raja Daud.” Katanya penuh semangat : “Nah, bukankah ini suatu berita yang bisa menghebohkan bila kita publikasikan, dan bisa menurunkan kredibilitas raja, dan kemudian bila sudah begitu tuanku Adonia bisa punya kesempatan untuk menarik hati rakyat, lalu suatu saat bisa menjadi raja, menggantikan raja Sulaiman, begitu asyik kan ?”
“Ah, ternyata otak bodohmu itu selalu ada dalam kepalamu Zilam, kalau mau mendakwa orang, kita harus punya cukup bukti dan saksi, bila tidak maka kita bisa dituduh balik menjadi penfitnah, lalu siapa juga yang mau jadi raja, mengurus hal-hal yang rumit, apalagi nanti harus membangun Bait-ALLAH, semua itu hanya bikin repot saja. Tapi…. Tunggu ada sesuatu yang bisa aku manfaatkan untuk membalas sakit hatiku pada Sulaiman yang sudah membuat malu kedudukanku.”Sahut Adonia hati-hati.
“Apa itu tuanku ?” kembali kata Zilam penuh tanda tanya.
”Ternyata Sulaiman itu diam-diam menyukai dan mencintai gadis sunem itu, oke-lah selama ini dia telah merebut tahta Daud dari tanganku, sekarang giliran aku yang akan merebut dengan tanganku sendiri gadis yang dicintainya dengan taktikku sendiri, lalu di depan matanya akan ku campakan gadis yang dicintainya itu setelah kupakai semauku sepuasnya, sehingga dia dapat merasakan kepedasan hati yang selama ini kurasakan.” Kata Adonia dengan penuh rasa dendam.
Sementara itu Sulaiman mencari kesempatan untuk dapat bertemu lagi dengan Abisay secara pribadi, tentu sebagai raja dia berkuasa memanggil siapa saja untuk menghadap padanya, tapi dia sadar bahwa posisi yang sangat berbeda membuat dia tidak mudah bertemu kembali, tidak seperti waktu menjadi suster perawat ayahandanya. Kemudian raja Sulaiman menetapkan Abisay menjadi pengurus peralatan kerja pribadinya, maksudnya supaya dengan mudah dia bisa bertemu dengan gadis hitam manis yang menggoda hatinya. Pada suatu kesempatan Sulaiman mencoba ingin menyelidiki hati Abisay katanya : “Abisay, saya mohon maaf tentang kejadian malam itu, sebenarnya aku tidak bermaksud melakukannya,…”
“Ampun, tuanku hambalah yang merasa bersalah telah lancang berhubungan dengan tuanku, hamba sepatutnya menerima hukuman.” Sahut Abisay sambil menundukan kepala, dia merasa malu tapi ada sedikit keinginan untuk mengenang kejadian malam duka itu yang tiba-tiba berubah menjadi malam kenangan indahnya yang pertama dan pastilah tak akan bisa terlupakan.
“Abisay, aku ingin tanya sesuatu padamu, aku harap kamu jangan tersinggung ya,…. Aku heran ternyata kamu masih gadis suci, padahal sudah lebih dari satu tahun tidur bersama-sama dengan almarhum ayahandaku, bagaimana sebenarnya hal itu bisa terjadi ?” Tanya Sulaiman menyelidiki.
Sambil mengigit bibirnya Abisay tersipu malu katanya : “Ampun tuan, hamba sekarang sudah tidak lagi,….. “ “Ya, tentulah Abisay, semalam memang telah kau serahkan itu padaku bukan, ….. tapi maksudku mengapa bisa tetap terjaga selama kamu melayani almarhum ayahandaku, bagaimana caranya beliau bisa tertidur pulas dalam pelukanmu tanpa melakukan sesuatu yang membuat kamu tetap suci ? Apa almarhum ayahandaku sudah tidak mampu ..” “Tidak seperti yang tuanku pikirkan” potong Abisay. “Jadi,.. kalau begitu bagaimana caranya kamu dapat membuat almarhum tertidur nyenyak ?” Tanya Sulaiman lebih penasaran. “Ampuni hamba, hamba tidak bisa menyatakannya dengan kata-kata, tapi kalau tuan berkenan, tuanku raja Sulaiman juga bisa mencobanya bila kebetulan susah tidur, biarlah hamba ini yang melayani tuan sama seperti hamba melayani almarhum dahulu.” Jawab Abisay sambil mencoba memberanikan diri mengajukan usulannya. Sulaiman tersenyum puas, karena usulan semacam inilah yang dinanti-nantikannya selama ini :”Oke, kalau begitu kita coba malam ini ya.” Perintah Sulaiman mantap.
Malam itu praktek Abisay didemonstrasikan kepada Sulaiman, pijatan dimulai dari kaki, punggung, tangan sampai kepala, hampir dua jam tapi Sulaiman masih tetap belum tertidur juga, lalu Abisay mohon izin untuk melaksanakan seperti yang biasa dilakukan apabila almarhum ayahanda tidak bisa tidur, “Ya, bagaimana kamu saja asal saya bisa menikmatinya.” Kata Sulaiman penuh pasrah, “Tapi mohon tuan menutup mata ya “ mohon Abisay “Kok harus tutup mata ? memangnya aku tidak boleh melihat ? “ Tanya Sulaiman agak heran. “Aduh tuan, nanti hamba jadi malu nih… “ desak Abisay, : “ Bukankah Tuanku Raja ingin tertidur seperti almarhum baginda.” “Baiklah, sekarang aku mau tutup mata, sambil menikmati pijitanmu selanjutnya. “ Benarlah setelah Abisay beraksi sepuluh menit, Sulaiman merasakan sesuatu sensasi yang luar-biasa, tetapi tetap belum bisa membuat dia tertidur maklum Sulaiman masih muda bukan seperti Daud yang sudah uzur, jurus terakhir Abisay adalah merawat wajah Sulaiman dengan ramuan tradisional asli dari desanya, dan setelah lewat 30 menit maka hilanglah kesadaran Sulaiman, persis seperti apa yang dikatakan Abisay, Sulaiman bisa terlena tidur pulas setelah merasakan pijitan-pijitan yang membuat tubuhnya lemas dan tidak sadarkan diri sampai tiba fajar, tapi kali ini Abisay membungkus tubuh Sulaiman dengan selimut dan membiarkan sang raja tertidur sendirian.
Di pihak lain, Adonia terus memantau gerak-gerik adik tirinya itu, terutama juga Abisay tidak luput dari pemantauannya, dia mengatur strategi untuk membuat Sulaiman jadi jengkel dan serba-salah. Adonia tahu betul bahwa hubungan cinta antara Sulaiman dan Abysah masih suatu rahasia, bahkan ibundanya sendiri Bethsyeba masih belum menyadari bahwa Sulaiman sudah menaruh benih cinta pada Abisay.
Dengan liciknya Adonia berpura-pura jatuh-cinta pada Abisay, gadis sunem itu dan mencoba memintanya melalui Bethsyeba, ibu Sulaiman. Maka masuklah Adonia menghadap Bethsyeba, ibu Sulaiman, lalu Bethsyeba berkata : “Apakah engkau datang dengan maksud damai?” Jawabnya :”Ya, damai !” kemudian katanya : “Ada sesuatu yang hendak kukatakan kepadamu.” Jawab Bethsyeba katanya :“Katakanlah !” Lalu katanya : “Engkau sendiri tahu bahwa akulah yang berhak atas kedudukan raja, dan bahwa seluruh Israel mengharapkan, supaya aku menjadi raja: tetapi sebaliknya kedudukan raja jatuh kepada adikku, sebab dari TUHAN-lah ia mendapatkannya. Dan sekarang satu permintaan saja kusampaikan kepadamu; jangan tolak permintaanku.” Jawab Bethsyeba kepadanya : “Katakanlah !” Maka katanya : “Bicarakanlah kiranya dengan raja Sulaiman, sebab ia tidak akan menolak permintaanmu, supaya Abisay, gadis Sunem itu, diberikannya kepadaku menjadi istriku.” Jawab Bethsyeba: “Baik, aku akan membicarakan hal itu untuk engkau dengan raja.”
Bethsyeba masuk menghadap raja Sulaiman untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas tahtanya dan menyuruh meletakan kursi untuk bunda raja, lalu Bethsyeba duduk di sebelah kanannya. Berkatalah Bethsyeba itu: “Suatu permintaan kecil saja yang kusampaikan kepadamu, janganlah tolak permintaanku ya.” Jawab raja kepadanya : “Mintalah, ya ibu, sebab aku tidak akan menolak permintaan ibu.” Lalu kata ibunya : “Biarlah Abisay, gadis Sunem itu diberikan kepada kakakmu Adonia menjadi istrinya.“
Tetapi di luar dugaan, mendadak Sulaiman menarik nafas dalam-dalam sambil berdiri dengan penuh emosi dijawabnya: “Mengapa ibunda hanya meminta Abisay, gadis Sunem itu untuk Adonia ? Minta jugalah untuknya kedudukan raja ! Bukankah dia saudaraku yang lebih tua, dan di pihaknya ada imam Abyatar dan Yoab, anak Zeruya menjadi panglimanya? “ Wajah Sulaiman menjadi merah padam, ibunda sangat kaget dengan reaksi yang sangat tidak disangkanya, apa gerangan terjadi dengan putranya, bukankah Abisay itu hanya seorang mantan suster raja yang saat ini sudah bebas tugas dan sewaktu-waktu bisa saja dipulangkan ke desa untuk kembali kepada keluarganya, dan sekarang kalau dipinang oleh Adonia menjadi istrinya, ya apa salahnya ? kecuali kalau sebenarnya ada suatu persaingan cinta diantara mereka bersaudara, jangan-jangan Sulaimanpun diam-diam menaruh hati kepada Abisay, mantan suster almarhum raja Daud……. Bethsyeba mencoba berdiam menenangkan diri, membiarkan apa yang akan diputuskan oleh putranya untuk mengatasi permasalahan ini.
Lalu bersumpahlah raja Sulaiman demi nama TUHAN : “Beginilah kiranya ALLAH menghukum aku, bahkan lebih dari pada itu, jika Adonia tidak membayarkan nyawanya dengan permintaan ini. Oleh sebab itu, demi TUHAN yang hidup, yang menegakkan dan mendudukkan aku di atas tahta Daud, ayahku, dan yang membuat bagiku suatu keluarga seperti yang dijanjikan-NYA; pada hari ini juga Adonia harus dihukum mati.”
Lalu raja menitahkan Benaya bin Yoyada untuk segara menangkap Adonia, dan menjatuhkan hukuman pancung hingga dilaksanakan pada hari itu juga.
Akibat dari penghukuman keras itu, seluruh istana kaget dengan keputusan keras raja Sulaiman, namun sebagian besar pemuka rakyat bisa memaklumi tindakan keras ini karena dibutuhkan ketegasan dalam membangun kekuasaan yang kuat dan berwibawa, banyak para pemimpin yang melakukan permainan politik kotor pada akhirnya, apa-bila tidak ada ketegasan dari sang pemimpin.
Malam harinya ketika Sulaiman bertemu dengan Abisay, ia membahas tentang permintaan Adonia yang sangat membuat dia panas hati karena ingin merebut Abisay dari hidupnya, katanya : “Abisay, selama ini apakah Adonia suka mengganggu kamu ?” Abisay menjawab dengan nada agak bingung : “Saya merasa, hanya tuanku raja Sulaiman saja, putra almarhum yang ramah terhadap hambamu ini, tuanku Adonia tidak pernah bercakap-cakap dengan hamba…. O,ya, memang akhir-akhir ini hamba merasa seperti dicurigai oleh beberapa orang terutama kalau tuanku raja memanggil hamba, dan apabila bertemu dengan tuan Adonia, hamba benar-benar merasa takut kepada sorot matanya yang sangat tajam dan menyeramkan itu.” Jawab Abisay mohon perlindungan.
“Tenanglah kamu Abisay, dia pasti tidak akan mengganggu kamu lagi, karena sekarang dia sudah tidak ada lagi.” Kata Sulaiman tegas. :”Dia sudah menjalani hukuman mati sore tadi.” “Ah,…ampun tuanku, jadi karena hamba ini maka tuan Adonia mengalami hukuman,.. oh TUHAN !” seru Abisay “Tidak Abisay, Adonia pantas mendapat hukuman mati, itu tidak ada hubungannya dengan kamu, bila dia dibiarkan begitu maka suatu saat pasti mengganggu keamanan negeri ini, Pemerintahan yang aku pimpin harus bersih dari pejabat yang bermental rendah seperti itu, walaupun dia abangku tapi aku tahu pasti dia telah melecehkan kekuasaanku dengan cara melamarmu bukan? ....... Dasar pengecut dia itu !”Sulaiman menjelaskan. “Sekarang Abisay, untuk amannya lebih baik status kamu dalam Istana ini harus aku perjelas, supaya kamu jadi aman dan tidak dapat diganggu lagi oleh lelaki lain, … Abisay, kamu akan kujadikan….”
“Ampun, tuanku raja,… mohon Tuanku pikirkan lagi, setelah hukuman mati jatuh kepada abang tuanku Adonia karena almarhum meminta hamba ini untuk menjadi istrinya, bagaimana nanti pandangan seisi istana dan seluruh rakyat apabila tuanku raja mendudukkan hamba pada posisi yang lebih lagi, biarkanlah hamba seperti ini, hamba rela dalam posisi apapun, asalkan hamba dapat tetap melayani kebutuhan Tuanku raja, bukankah kedudukan Tuan sebagai rajalah yang lebih penting? biarlah hamba ini hanya membasuh kaki tuanku saja, berada dekat Tuanku itu sudah lebih dari cukup bagi hambamu yang rendah ini.” Abisay memberanikan diri mengungkapkan pendapatnya.
Sulaiman menerenungkan kata-kata Abisay yang baru didengarnya itu, cukup logis, dan tidak emosional, seandainya dia sekarang menjadikan Abisay istri atau gundiknya pastilah akan menjatuhkan posisi dan kewibawaannya dalam istana dan kerajaan, ya apa boleh buat, sekarang terpaksa dia harus menjaga diri juga menahan keinginannya untuk memperistri Abisay, padahal dia sangat menyenangi, mengagumi bahkan mencintai gadis mungil sihitam-manis itu. Sulaiman mengangguk-anggukkan kepala lalu katanya : “Baiklah Abisay, biarlah cinta kita berdua ini hanya menjadi rahasia kita berdua saja, … dan seandainya aku harus menikah, sebenarnya hanya untuk formalitas belaka, hatiku benar-benar melekat padamu Abisay.” Lalu Abisay menjawab sambil menundukan kepala : “Inilah hambamu, jadilah menurut apa yang tuan Raja sabdakan, hamba akan mencoba sekuat-tenaga untuk mengasihi Tuanku Raja.”
Sulaiman merasakan betul sikap kerendahan hati Abisay sehingga dia semakin mengaguminya, namun sangat disayangkan bahwa, sudah tertutup kemungkinan dia memperistri secara resmi gadis yang benar-benar dia cintai, dia terpaksa harus berpetualangan cinta dengan banyak gadis-gadis lain yang belum tahu apakah gadis lain ada yang mampu menggantikan posisi Abisay di hatinya ? Lalu diraihnya kedua tangan gadis itu dengan lembut seperti sepasang pengantin di depan pelaminan katanya dengan penuh kesungguhan katanya : “Abisay, aku mohon dengan sangat agar kamu tetap tinggal di istanaku, mengurus kebutuhan harian di tempat aku bertahta memerintah kerajaan ini, kamu banyak memberi inspirasi kepadaku dalam banyak hal, kamu bisa fokus dalam melakukan pekerjaan, kamu tidak mengejar kedudukan istimewa dalam istanaku, dan kamu rela melayani dengan sepenuh hatimu Abisay, aku sangat mencintaimu.“ Suatu pernyataan yang jujur dari hati seorang Sulaiman Raja Bangsa Israel yang kelak menjadi seorang Raja Legendaris selama puluhan abad di muka bumi.
Cinta yang suci dan murni tidak mempersoalkan status dan posisi, tetapi karena manusia hidup dalam dunia yang harus mentaati hukum dan aturan, maka bila cinta yang suci dan murni itu tidak dilindungi oleh hukum, maka suatu saat bisa goyah dan gugur, demikian juga kisah cinta antara Abisay dan Sulaiman pada akhirnya, kisah cinta mereka hanya menjadi rahasia saja, tidak banyak orang yang bisa mengetahuinya, bahkan kisah dalam buku inipun akan sulit dimengerti apa-lagi bila kurang fokus dalam membaca dan menyelidiki Kitab Perjanjian Lama yang terdapat dalam ALKITAB, Kitab Kidung Agung sangat sulit dimengerti maknanya, karena banyak berisikan surat percintaan atara sepasang Kekasih yang sedang kasmaran cinta, banyak penafsir hanya mengibaratkan sebagai hubungan kasih antara ALLAH dan umatNYA.
6. Pesta-pesta Pernikahan Raja Sulaiman
Setelah setahun memimpin menjadi Raja, Sulaiman mencoba mengembangkan perekonomian Negara dengan berbisnis dengan Negara tetangga, terutaman dengan Negara Mesir yang sudah sangat maju dalam banyak bidang Ekonomi, Firaun penguasa tertinggi Kerajaan Mesir sangat simpatik kepada Sulaiman, seorang pemimpin muda yang cakap dan berwibawa, penuh hikmat dan bijaksana dalam bersikap. Pada suatu kesempatan yang istimewa Firaun memperkenalkan putrinya yang sangat cantik kepada Sulaiman, dia sangat anggun, dengan pakaian Putri Kerajaan yang mewah Sulaiman menyambutnya dengan penuh rasa hormat.
“ Wahai Putri nan cantik jelita dari Mesir, sungguh kagum diriku menyaksikan begitu sempurnanya ciptaan ALLAH yang maha tinggi takkala menyaksikan keelokan parasmu dinda… “ sambut Sulaiman dengan pantun yang membuat hati putri Firaun tersanjung, namun sebagai gadis muda dia agak tersipu malu menerima pujian yang sangat mendadak itu.
“ Terima-kasih Raja muda, hatiku sangat tersanjung karena pujian yang begitu indah, senang sekali kiranya selalu berada dekat dengan kebaikanmu yang melekat dalam hati ini.” Balas Putri Firaun penuh semangat.
Suatu dialog dari kalangan atas, lain sekali dengan dialog bersama Abisay, gadis sederhana dari desa yang selama hampir dua tahun dikenalnya, dan dalam setahun terakhir menjadi sangat dekat dengan hatinya, Abisay tetap gadis polos, karena dia tidak mengecap pendidikan formal, lain sekali kondisinya dengan putri Firaun yang berpendidikan tinggi dan tubuhnya dirawat secara khusus, dia memiliki kulit yang putih mulus seperti layaknya bidadari yang baru turun dari kayangan, harum semerbak karena selalu mandi dalam rempah-rempah dan minyak narwastu menyelimuti seluruh kulitnya.
Firaun dan juga Sulaiman sama-sama paham bahwa, hubungan bisnis akan bisa berjalan lebih langgeng bila ada ikatan hubungan lain yang mendampinginya, yaitu hubungan keluarga yang sengaja dibentuk melalui suatu pernikahan, karena itu mereka mengadakan kesepakatan dalam hal ini, apalagi memang Sulaiman saat itu masih belum memiliki istri untuk menjadi Permaisurinya, dan juga Sulaiman sangat senang melihat kecantikan Putri Firaun dengan kulitnya yang putih mulus, pikirannya selintas membayangkan bahwa gadis ini pasti berbeda dengan gadis yang selama ini dikenalnya yaitu Abisay yang berkulit hitam karena terbakar sinar matahari sejak remajanya ketika ia hidup di desa.
“ Sulaiman, Raja muda Israel, “ kata Firaun sambil mendekati Sulaiman, lalu sambungnya : “ Bagaimana putriku ? cantik kan ?.... kalau kamu berkenan, dia boleh menjadi milikmu,…… dia sudah kudidik untuk bisa menjadi istri yang sangat piawai menyenangkan suami,…. Bagaimana ? apa kamu setuju ? “ Tanya Firaun menggoda.
“ Ngg….. apa ada persyaratan khusus ? “ Sulaiman balik bertanya secara hati-nati. “Ah,,….. kita ini kan pemimpin Negara yang bertetangga, dan bersahabat, sejak almarhum ayahmu baginda Raja Daud, kami tidak pernah bersengketa, bahkan senang berdagang dan saling berbagi keuntungan, apalagi sekarang, bukankah baru saja kami mengirim para ahli bangunan untuk membantu bangsamu merencanakan pembangunan Bait Allah ? kita ini berkerabat bro,…… ayolah, jangan ragu-ragu memilih pasanganmu, .. nyaman lho kalau sudah punya istri, ada yang mengurusi keperluan pribadimu, dan kita, aku dan kau bisa lebih banyak berbisnis yang lebih menguntungkan lagi. … Bagaimana ? “ desak Firaun bersemangat.
Sulaiman dalam pikirannya mengatakan, kalau soal keperluan pribadi sebenarnya ia sudah punya Abisay yang sudah sangat tahu segalanya, tapi memang betul juga dia harus punya permaisuri, karena Abisay tak mungkin tampil di muka umum, baik penampilan maupun posisinya tidak memungkinkan untuk menjadi permaisuri, sedangkan putri Firaun bisa memperkuat hubungan bisnis dan juga politik luar negeri akan lebih berkembang pesat, meskipun dalam hal cinta masih harus dibuktikan dalam kehidupan selanjutnya.
“ Baiklah, Tuan Firaun yang terhormat, saya Sulaiman Raja Israel bermaksud akan meminang Putri Firaun untuk menjadi istriku, Permaisuri Kerajaan Israel, namun kami butuh waktu dan juga aku akan mohon restu dari ibunda dahulu. “ Sulaiman mengambil keputusannya saat itu juga.
“ Well, ……. Aku sangat senang dengan keputusanmu yang bijaksana ini, kiranya ALLAH memberkatimu, sekarang silahkan bila mau berdansa dengan Putriku, Sulaiman ………. Nikmatilah hari ini dengan hati yang gembira …… “ Firaun sangat puas dengan negosiasinya kali ini, dan untuk memantapkan rencananya maka didekatinya Bethsyeba, ibunda Raja Sulaiman.
” Selamat malam, madam.. “ sapa Firaun, mendekati dengan gelas anggur di kedua tangannya, “ Inilah anggur suka-cita dan keberhasilan, satu gelas kuberikan khusus untukmu Ibunda raja “ Puji Firaun dengan senyuman yang menggoda.
Bethsyeba yang sangat berpengalaman melihat prilaku orang, terutama lelaki tua yang penuh dengan taktik, membalas dengan hati-hati : “ Terima kasih Tuan Firaun, wah aku sangat tersanjung dengan penawaran ini, pastilah kiranya ada sesuatu yang sangat penting yang mau tuan utarakan selain minuman segar ini bukan ?”
” Sungguh luar biasa ibunda dari Sulaiman, pantaslah kalau anaknya sangat piawai dalam banyak hal, saya mau mengajak kita sama-sama menyaksikan sesuatu yang sangat indah, …….. lihatlah di sana, .. di tengah ruang dansa.“ sambil menggiring Bethsyeba Firaun memperlihatkan Sulaiman dan Putrinya sedang berdansa berduaan. “Bukankah mereka berdua merupakan pasangan yang serasi ?”kata-kata Firaun yang penuh dengan nada ingin mempengaruhi pikiran Bethsyeba.
Bethsyeba mengerti betul maksud dan tujuan hati Firaun, maka dijawabnya secara diplomatis : ” Sulaiman, Putraku dialah yang akan menentukan sendiri pilahannya, bila Baginda senang dia menjadi menantu Baginda, pastilah harus ada usaha kuat untuk mendapatkan hati Sulaiman yang sangat istimewa bukan ? “
“ Ternyata sungguh mengagumkan pemikiranmu, pantaslah menjadi ibunda Raja yang penuh hikmat dan bijaksana, jangan kuatir…. Aku pasti akan memberikan banyak fasilitas dan keleluasaan untuk turut memajukan Kerajaan Israel pada masa mendatang, Akupun sudah mempersiapkan Putriku ini untuk bisa menjadi istri Sulaiman yang sangat piawai dalam hal menyenangkan suaminya, kami bangsa Mesir sudah sangat terlatih dalam hal bercinta …. “ Firaun memberikan jaminan bantuan dan dengan kerelingan mata nakal yang menggoda, seorang calon kakek membujuk seorang calon nenek untuk berbesan-ria. Suatu tindakan yang sering dijumpai sampai abad 21, banyak keluarga Kalangan Birokrat dan Bisnis menjodohkan putra-putri mereka demi kepentingan politik atau keuntungan bisnis belaka. Mereka kadang-kadang memandang dengan sebelah mata tentang hati anak-anaknya, apakah benih cinta memang bisa tumbuh bersemi dalam rumah tangga yang baru itu ? semua itu seakan terabaikan demi mencapai kepuasan dari kekuasaan atau kemewahan belaka yang mereka banggakan.
Di tempat lain, Sulaiman masih terus asyik berdansa dengan Putri Firaun. Diperhatikannya gadis yang berada di hadapaannya, matanya, hidungnya, daun telinganya dan kulitnya, semuanya terawat dengan baik sehingga terlihat putih, mulus, halus dan harum. Sangat mempesona tentunya, namun dia tidak bisa melihat hati gadis itu, kalau sekedar membaca pikiran bisa melalui sorotan mata dan merekahnya bibir pasangannya itu, putri Firaun ini pastilah seorang gadis yang berpendidikan cukup tinggi meski tidak terlalu pintar, agak sedikit emosional bila menghadapi sesuatu, terlihat jelas piawai dalam hal rayu-merayu namun mudah dipengaruhi pendapatnya bila dengan strategi yang tepat. Lain sekali dengan Abisay sihitam manis yang selama ini dicintainya secara rahasia. “Suatu hari, pasti aku akan berkunjung ke Mesir mengunjungi Istanamu untuk meminangmu Putri Firaun.” Kata Sulaiman penuh kepastian, “Kamu mau kan mendampingiku untuk menjadi permaisuri ?“ Putri Firaun menjawab dengan anggukan kepala serta senyum manis. Hampir semua wanita menjawab ya dengan bahasa tubuh saja, diam dan tersenyum itu adalah bukti persetujuan.
Menjelang Hari Pesta Pernikahan Raja Sulaiman dengan Putri Firaun, maka disiapkanlah syair nyanyian berikut :
“ Dengan kuda betina dari pada kereta-kereta Firaun kuumpamakan engkau, manisku. Moleklah pipimu di tengah-tengah perhiasan-perhiasan dan lehermu di tengah kalung kalung. Kami akan membuat bagimu perhiasan-perhiasan emas dengan manik-manik perak.
Sementara sang raja duduk pada mejanya, semerbak bau narwastuku. Bagiku kekasihku bagaikan sebungkus mur, tersisip diantara buah dadaku. Bagiku kekasihku setangkai bunga pacar di kebun-kebun anggur En-Gedi.
Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu. Lihatlah , tampan engkau, kekasihku, sungguh menarik; sungguh sejuk petiduran kita. Bunga mawar dari Saron aku, bunga bakung di lembah-lembah. “ (Kidung Agung 1 : 9 – 17)
Ketika pasanggan pengantin diarak berkeliling istana, dan rakyat menyambut dengan antusias, dari atas Kereta Kerajaan bersandinglah Raja Sulaiman bersama dengan Putri Firaun, dilambai-lambaikanya tangan dan bunga tinggi-tinggi, tapi mata Sulaiman diam-diam terarah ke salah satu jendela di antara menara istana, di sana ada sepasang mata yang selalu menatapnya dari kejauhan, mata jernih dari seorang gadis sihitam-manis yang selama ini dan akan masih terus selalu mengikuti perasaan hatinya ke mana dan apapun keadaannya. Sambil melambaikan tangan sebagai tanda ucapan selamat, Abisay memberikan senyum, entah apa yang berkecamuk dalam hatinya, apakah dia bisa turut bahagia? tapi ada sedikit rasa cemburu melihat Raja muda dan tampan itu yang biasa dilayaninya kini melangsungkan pernikahan dengan Putri Firaun.
Cinta yang tulus sanggupkah merelakan kekasihnya melangsungkan pernikahan dengan wanita lain ? demi kebahagiaan kekasih dan kepentingan kerajaan ………
7. Gaya Hidup Perkawinan Majemuk
Masa bulan madu sudah berlalu, Sulaiman sudah kembali kepada kesibukan seperti semula, mengatur pemerintahan kerajaan dalam istananya. Suatu malam yang sangat melelahkan menyebabkan dia teringat kembali kepada Abisay yang sudah cukup lama tidak dikunjunginyanya.
Pada suatu kesempatan mereka saling berbagi pengalaman yang dialami masing-masing “ Alangkah bahagianya Tuanku Raja sekarang, pastilah banyak pengalaman baru yang indah selama ini” sapa Abisay penuh rasa hormat, tapi mengandung keingin-tahuan dan mencoba membuka hati Pemuda yang dikaguminya, tapi sekarang sudah benar-benar milik Putri Firaun yang belum lama dinikahinya.
“Pengalaman yang menyenangkan tentu, tapi……” Sulaiman ragu-ragu untuk mengutarakan sesuatu yang bersifat sangat pribadi. Abisay merasa ada sesuatu yang ingin diungkapkan, tapi dengan sabar Abisay tidak memaksa Sulaiman meneruskan kata-katanya, bahkan mencoba mengalihkannya kepada sesuatu yang terjadi dalam dirinya dan kata hatinya selama ditinggal pergi oleh Sulaiman berbulan–madu, Katanya : “ Hamba selama ini rasanya ada sesuatu yang hilang tuan, ternyata tidak mudah ya hidup berjauhan dengan sesuatu yang kita senangi dan kasihi, bagaimana kalau Tuan ? “ Abisay mencoba memancing perhatian dan komentar Sulaiman.
” Kalau boleh memilih, semua orang pasti akan memilih selalu dekat dengan yang disenangi dan dikasihinya, meskipun demikian kadang kadang juga kita bisa kecewa, karena yang kita senangi dan kasihi itu ternyata tidak bisa memenuhi harapan kita. “ Jawab Sulaiman hati-hati. “ Jadi, sekarang apa ada sesuatu yang mengecewakan Tuanku selama ini? …… Apa hamba ini yang mengecewakan Tuanku? Ampuni hamba tuan…” Sambil sujud dihadapan Sulaiman. “ Sudah,.. sudah, bukan, bukan kamu Abisay, bukan kamu yang mengecewakan ….. “ Kata Sulaiman mulai membuka diri untuk menceritakan sesuatu yang selama ini dialami dalam pernikahan yang baru dijalaninya.
“ Syukurlah kalau bukan hamba pelakunya tuan, tapi siapapun dia yang mengecewakan Tuanku, pastilah ada kesempatan baginya untuk memperbaiki bukan ? “ Abisay mencoba memberikan penghiburan dan harapan baru. “ Tidak Abisay, yang ini tidak bisa diperbaiki dan tidak bisa diulangi lagi. “ Jawab Sulaiman tegas, namun masih belum bisa mengungkapkan apa sebenarnya yang terjadi dalam kehidupannya. Abisay sadar bahwa tidak mudah seorang pria “cur-hat” kepada orang lain, apa-lagi kepada seorang perempuan, namun Abisay punya pengalaman tentang hal ini selama dia merawat Alm. Raja Daud, banyak sekali hal-hal yang didengarnya dari Raja Daud, Tentang kemelut keluarga berdarah yang terus menerus, itu semua Raja mengutarakannya selama sambil menikmati pijatan tangan Abysah. Sekarang dia mencoba juga cara yang sama, maka dengan lembut Abisay menawarkan perawatan, katanya hati-hati: “Ampun tuanku raja, kalau hamba masih diperkenan untuk mengendurkan otot-otot tuanku yang pegal… “ Sulaiman diam sejenak lalu katanya: “ Baiklah Abisay, ayo bersiap-siaplah, ada ruang terapi baru yang saya buat di sebelah ruangan pribadiku. “
Mereka memasuki suatu ruangan yang baru, penuh dekorasi eksotik gaya Mesir kuno, bahan dinding dari pualam, dengan lampu tempel di setiap sudut dinding, suasana agak remang-remang, di tengah ada sebuah kolam air yang tidak terlalu luas, cukup untuk 4-5 orang saja, di sana disiapkan permadani halus di atas lantai kayu aras yang licin mengkilap, juga ada beberapa baskom air dan juga tempat pembakaran minyak aroma terapi untuk memberikan suasana yang menyenangkan dan romantik, disain interior yang mengagumkan dirancang oleh para ahli interior yang berpengalaman dari Mesir, semua dekorasi indah bagaikan ruang SPA pada abad 21.
Setelah Sulaiman merasa nyaman dan hatinya tenang, dia mulai membuka diri untuk berkata-kata sambil diterapi oleh Abisay : “dengarlah, aku mau mengatakan sesuatu padamu.“ “ Katakanlah tuan, hamba selalu bersedia untuk mendengarkan tuanku.“ sahut Abisay lembut “ Waktu malam pertama aku berhubungan dengan istriku ternyata kudapati bahwa dia sudah tidak suci lagi… Abisay…..”Katanya mengeluh, “Akupun jadi serba salah, karena peristiwa itu adalah sudah hari ke 7 pernikahan, karena pada malam pertama saya menunggunya sementara dia masih cemar-kain, waktu aku menanyakan siapa yang pernah menodainya dia hanya menangis , aku tak tega mendesaknya terus.”
“ Jadi bagaimana dong? ” Tanya Abisay polos.
“Setelah aku selidiki, ternyata memang semua gadis Mesir terutama kalangan ningrat diharuskan menyerahkan kesuciannya kepada dewa Matahari mereka sebut dewa RA.” Jawab Sulaiman.
“Bagaiman caranya ya?” Abysah semakin bingung. “Katanya sih dalam upacara-upacara khusus mereka disuruh menduduki arca ukiran yang berbentuk lelaki dewasa dan darah keperawanannya dicampur dengan minyak lalu dibakar tepat waktu matahari terbenam di tepi pantai laut.”Sulaiman menjelaskan. Abisay mendengar sambil merasa ngeri. Kasihan betul gadis bangsa Mesir itu, mereka diperlakukan tidak wajar dengan aturan yang dibuat-buat. Memang dalam kehidupan ini tidak jarang manusia membuat aturan supaya sesamanya melakukan sesuatu dengan dalih kewajiban agama, padahal untuk menguntungkan seseorang atau sekelompok dan merugikan banyak orang lain.
“Sungguh, hamba sangat merasakan keprihatinan tuanku dan juga tuan Putri Firaun.” Hibur Abisay sebisanya sambil terus memberikan pijatan lembut di punggung Sulaiman “hamba tidak mampu memberikan penghiburan lebih selain dari pada yang hamba bisa persembahkan ini tuanku.”
“ Dengarlah Abisay, kamu melayani aku dengan cara ini sudah merupakan hal yang sangat bermakna bagiku, karena duduk diam untuk mendengarkan adalah lebih indah bagiku dari-pada sibuk dengan banyak hal yang bisa mendatangkan kekecewaan.” Kata-kata ini ternyata tidak hanya diucapkan oleh Sulaiman, seribu tahun kemudian disampaikan juga kepada Marta, saudaranya Maria yang ditegur oleh sahabatnya (Yesus) karena terlalu sibuk dan sempat menyalahkan saudaranya yaitu Maria yang lebih fokus mendengarkan perkataanNya.
”Abisay, pahamilah, aku tidak bisa mengatakan hal-hal pribadiku ini selain padamu, karena aku hanya percaya kepadamu, dan aku sangat mengasihimu.” Abisay memejamkan matanya dan merenungkan kata-kata tulus yang didengarnya, ada tetesan air mata mengalir di pipinya, entah apakah itu air mata kebahagiaan atau air-mata kesedihan ? dia sendiri tidak bisa menjawabnya, yang pasti sekarang bukan kedudukan yang dia cari seperti Putri Firaun yang jadi Permaisuri raja, tetapi tempat dalam lubuk hati Sulaiman yang dia tempati secara sembunyi, tak seorangpun yang tahu selain yang bersangkutan saja, maukah kita juga memiliki hubungan kasih yang demikian dengan Pencipta kita ? ALLAH menghendaki kita mengasihiNya secara pribadi yaitu meskipun jauh di mata tetapi dekat di HATI.
Pengalaman kurang menyenangkan atau bahkan mengecewakan bisa berakibat panjang bagi kehidupan, apalagi terhadap seseorang yang suka menggunakan cara konpensasi sebagai alat keseimbangan hidupnya, memang cara konpensasi ini tidak semuanya jelek, tapi kalau dilakukan secara tidak terkendali alias liar, maka akan menghasilkan suatu kehidupan yang ekstrim. Dalam pikiran Sulaiman yang merasa tidak puas itu kini mencoba mencari gadis-gadis lain yang bisa memenuhi hasrat keinginan yang terpendam.
Taktik “ TITIP -PIPIS”
Sulaiman menemukan seorang gadis Yerusalem yang cantik, bersih, terawat karena dari kalangan bangsawan, tidak pernah tahu lelaki karena sangat dlindungi oleh keluarganya, perempuan type demikian bagaikan malaikat yang merasa segan disentuh oleh lelaki, sehingga ketika melewati malam pertamanya ada peristiwa yang agak menggelikan.
”Ayolah sayang, aku sudah tdak sabar menuggumu.” rayu Sulaiman pada istri barunya itu. “Aduh, kanda……. maafkan dinda ya, rasanya malu sekali dinda untuk melepas baju tidur ini di hadapan kakanda, jangan sekarang ya,………. dinda butuh waktu.” Sambil memelas menghampirinya dengan penuh permohonan, Sulaiman jadi turut merasa iba lalu katanya : “Baik, kanda selalu siap menunggu, sekarang kita tidur bersama dulu saja ya, aku berjanji tidak akan memaksa dinda.” Jawabnya dengan senyum penuh pengertian. Lalu tidur berdampingan, namun istrinya tetap masih menolak juga tidur dalam dekapan, dengan alasan gerah dan jadi tidak bisa tidur.
Satu jam kemudian, Sulaiman membangunkan istrinya lalu katanya : “ Sayang, aku kebelet pipis (kencing) nih, antar aku yuk “ ajaknya dengan lembut tapi sedikit memaksa sambil menarik tangan istrinya, yang ternyata memang belum tertidur karena merasa tegang sehingga jadi kebelet pipis juga, jadi mereka sama-sama ke toilet, ternyata di toilet istrinya juga turut buang air kecil, setelah itu mereka kembali ke peraduan bersama. Namun tetap ajakkan ke toilet bersama belum bisa merubah hati istrinya yang masih malu-malu itu. Sulaiman harus tetap sabar mencari cara dan taktik apa yang lebih jitu untuk mengatasi hal ini, sambil berbaring dia berpikir terus.
Pada malam kedua istrinya masih saja belum mau menyerah, maka sebagaimana pada malam pertama, kali ini waktu tengah malam dibangunkan lagi istrinya dengan alasan yang sama yaitu minta diantar ke toilet karena alas an yang sama yaitu kebelet pipis.
Barulah pada malam yang ketiga taktiknya mulai dijalankan yaitu ketika tengah malam membangunkan istrinya untuk diajak ke toilet, Sulaiman mengeluhkan sakit kepala sehingga tidak sanggup bangun untuk berjalan menuju toilet, dia pura-pura terhuyung-huyung dan kembali ke tempat pembaringan, sambil terus mengatakan kebelet pipis, tentu saja istrinya jadi bingung katanya : “ Ayolah, kanda tidak boleh buang air di kamar tidur, nanti bau kemana-mana.” “Ah dinda, kanda pening sekali kepala ini, kanda tidak bisa berjalan, bagaimana nanti kalau jatuh.” Keluh Sulaiman sambil memegang kepalanya. “ Yaah bagaimana dong ? Dinda harus bagaimana untuk menolong kanda ?” istrinya menyerah. “Begini saja, Kanda titipkan saja pipisnya pada dinda ya, nanti setelah itu barulah dinda buang ke toilet, bagaimana?” “Bisa gitu ?” ucap istrinya ragu-ragu, “Ya, kita coba saja yuk…….? “ bujuk Sulaiman mulai menjalankan taktiknya. ”mmm….Baiklah….,” sahut istrinya menyerah. Maka dengan semangat tapi penuh hati-hati maka dimulailah aksinya melancarkan TITIP-PIPIS pada istrinya itu. Proses “titip-pipis” ini ternyata tidak sebentar, mereka terlibat dalam hubungan yang sangat intim berdua.
Pada malam ke-empat, ditengah malam, maka sekarang giliran sang istrilah yang sebaliknya membangunkan Sulaiman. ”Ada apa dinda? Sekarang kok dinda yang membangunkan kanda ?” maka dengan hati-hati tapi penuh harap istrinya berkata : “Kanda sudah tiga kali kebelet pipis aja,…. Kok malah skarang ini tidur saja, … apa kanda mau titip pipis lagi pada dinda…… ?” Ah ternyata ketagihan juga rupanya sang-istri oleh ulah dan taktik cerdik suaminya dalam hal yang satu ini.
Memang dalam dunia ini ada banyak sekali orang yang tidak mau atau takut dan ragu-ragu mencoba sesuatu yang masih baru atau asing bagi dirinya, padahal perkara itu memberikan suatu yang menyenangkan, perlu diberi motivasi juga kadang-kadang diperdaya atau bahkan dipaksa untuk melakukan sesuatu, dan ternyata kalau sudah punya pengalaman menyenangkan, malahan bisa menjadi ketagihan atau ketergantungan. Perkara ini bisa dialami oleh siapa saja, lelaki atau perempuan, tua atau muda, orang berpendidikan tinggi atau rendah, semua rata-rata mengalami hal yang serupa. Karena itu benarlah perkataan : “Carilah ! …. Maka engkau akan mendapat. Ketuklah ! ….. maka pintu akan dibukakan bagimu.”
Di dalam dunia, semua manusia diberi kesempatan untuh hidup dan berusaha memperoleh apa yang diinginkannya, segala upaya bisa dilakukan menurut pilihannya, bila dengan sungguh-sunguh dikerjakan, niscaya ia bisa berhasil.
Bersama dengan Sepuluh Penari Perut.
Pada kesempatan lain, ketika mengadakan kunjungan resmi ke Negeri orang Amori, maka dalam pesta malam yang gemerlap dalam sebuah Gedung bernama D’Amor yang berarti “TEMPAT-BERCINTA” maka disajikanlah pertunjukan tari perut yang sangat erotis, dan untuk memberikan suatu penyambutan meriah maka ditampilkanlah sepuluh gadis penari yang sangat terampil dalam gaya yang glamour, menjelang usai tarian itu, Sulaiman sebagai tamu kehormatan digiring oleh para penari perut memasuki ruangan khusus yang indah, di tengah kamar ini terdapat sebuah balai-balai yang sangat indah, tetapi hanya cukup untuk berbaring seorang saja, bahkan bentuknya sangat sempit dan posisinya miring agak landai, tidak mendatar seperti tempat tidur biasa.
Sulaiman dipersilahkan berbaring dalam posisi terlentang, dan dengan cekatan sambil menari semua penari melucuti pakaiannya dan membungkusnya dengan selendang yang selama ini dipakai oleh para penari, yang tersisa hanya muka dan bagian tubuh yang penting saja. Dalam posisi demikianlah dibaringkan tubuh lelaki yang terbungkus selendang para penari, kemudian satu persatu secara bergilir para penari itu bergoyang-goyang di atas bagian tubuhnya yang penting itu, namun ketika sudah hampir “memuncak” segera dilepaskannya, lalu diganti dengan penari lain, demikian sampai kesepuluh penari mendapat giliran, suatu atraksi erotis yang cukup liar bila disaksikan, sepuluh mengeroyok dengan penuh gairah dan cukup brutal, sampai pada saat terakhir setelah lebih dari satu jam dan yang sangat membuat mual adalah acara menampungkan cairan tubuh yang dikeluarkan ke dalam sebuah cawan perak lalu dicampurkan dengan anggur merah kemudian secara beramai-ramai diperebutkan untuk dicicipi oleh para penari itu.
Kadang-kadang kalau kita masuk dalam suatu situasi di mana kita tidak bisa melawan arus kehidupan, maka kita dipaksa untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita sukai, dalam keadaan demikian banyak orang yang membiarkan saja dirinya terhanyut oleh situasi lingkungannya, yang bersangkutan seolah-olah tidak berdaya keluar sendiri dari arena itu, perlu ada penolong lain dan menarik dia keluar. Manusia dalam dunia yang penuh dengan lumpur dosa juga sama, perlu ada Juru-Selamat yang mampu menolongnya ke luar dari pusaran dosa yang menjeratnya semakin lama semakin dalam dan berakhir di akhirat, Banyak usaha manusia untuk mencoba keluar sendiri dari pusaran dosa berakhir dengan kekecewaan karena seperti ada tertulis : “Celakalah orang yang mengandalkan sesama manusia dan kekuatannya sendiri, tetapi orang yang berharap kepada Tuhan akan memperoleh kekuatan baru, bagai sayap burung rajawali yang terbang tinggi.”
Kunjungkan Kehormatan Ratu dari Negeri Syeba
Ketenaran Raja Sulaiman meluas ke berbagai pelosok negeri, bahkan terkenal sampai semua Negara-negara sahabat mengaguminya, banyak syair, puisi dan kidung digubahnya, hingga pada suatu saat ada seorang Ratu yang cantik rupawan dari Negeri Syeba berkenan bertamu ke Istana Kerajaan. Sang Ratu membawa banyak sekali hadiah-hadiah dan perhiasan yang indah-indah untuk dipersembahkan kepada Raja Sulaiman.
Penyambutan sangat meriah diadakan dalam Istana Kerajaan, berbagai tarian dan atraksi mengiringi perjamuan malam itu. Sang Ratu ingin sekali membuktikan bahwa Raja Sulaiman benar-benar penuh hikmat dan kepintaran seperti yang selama ini diberitakan semua orang, maka saat itu dia berkata : ”Kekagumanku sangat tinggi terhadap paduka Raja Sulaiman, saya menyaksikan betapa rapih dan tertibnya semua para pelayanmu menyajikan acara malam ini, makanan dan minuman yang sangat lezat, para penari yang begitu terampil, dan semua orang disekitar sini yang sangat sopan, semuanya melebihi apa yang dibicarakan dan bayanganku selama ini, senang sekali bisa berkenalan dengan Paduka.” Puji sang Ratu pada Sulaiman.
“Saya merasa sangat tersanjung dengan pujianmu Ratu negeri Syeba, saya hanya mencoba menerapkan teori-teori kehidupan yang untuk selama ini banyak orang kurang mau mengikutinya, sebenarnya yang patut mendapat pujian terlebih dulu adalah para leluhur kita yang secara tradisi mengajarkan teori-teori kehidupan itu, kami selalu mempelajari hukum-hukum yang ditetapkan oleh ALLAH yang diturunkan kepada Nabi Musa berupa Hukum Taurat, jadi semua kemuliaan untuk Nama ALLAH saja.” Balas Sulaiman merendah.
“Bagiku paduka Raja sangat hebat, namun tetap rendah hati, saya ingin sekali menyaksikan hikmat yang paduka miliki dari ALLAH,…. “ lanjut Ratu dengan kalimat yang pasti belum selesai. ”Apa sebenarnya maksud tuanku Ratu? … menyaksikan hikmat ALLAH yang kumiliki ? “
“Benar Raja , di hadapan kita di sebelah sana ada 10 pot bunga, … tadi sore saya meletakan 5 bunga asli dan 5 bunga palsu secara acak ke dalam 10 pot itu, nah sekarang coba bagaimana kita bisa membedakan mana pot yang bunganya asli dan mana yang bunganya palsu ?” kata sang Ratu dengan senyum yang menggoda sambil melirikan matanya yang indah itu. “Ooo, begitu ya, baiklah akan kucoba untuk memilihnya, tapi sebaiknya sekarang kita selesaikan bersantap perjamuan malam ini dulu ya, mari cicipi cock-tail sebagai penutup santapan, cobalah ini buah korma yang diolah secara khusus dan disajikan dengan es yang menyegarkan.”
Setelah selang waktu kira-rira satu jam, Sulaiman berkata pada Ratu: “Nah sekarang tiba saatnya saya mau mencoba memilih pot mana yang bunganya adalah bunga asli.” Kata Sulaiman sambil menunjukan jari telunjuknya kepada deretan pot-pot bunga yang terletak kira-kira 10 meter dari-padanya. ”Yang bunganya asli adalah pot yang nomor satu dari kiri, kemudian nomor tiga, nomor lima……. Nomor tujuh dan delapan.” Jawab Sulaiman penuh keyakinan. Ratu sangat kaget akan ketepatan yang dipilih Sulaiman, bagaimana bisa hal itu terjadi padahal bunga-bunga itu sangat mirip kelihatannya, dan Sulaiman hanya mengamatinya dari jarak yang cukup jauh. “Luar-biasa, Paduka benar-benar hebat, bagaimana bisa memilih begitu tepat padahal bunga palsu itu serupa benar dengan yang asli ? Sulaiman hanya tersenyum saja, padahal dia sebenarnya sudah menugaskan pelayannya untuk melepas sejumlah kupu-kupu kecil untuk terbang mendekati pot-pot bunga, dan dia dari jauh dapat memantau mana bunga asli yang didekati oleh kupu-kupu kecil itu. Akal yang sebenarnya sederhana, tapi bila tepat digunakan dapat meningkatkan performance seseorang dalam kehidupan bermasyarakat, namun banyak orang yang selalu ingin disebut pandai dan cekiawan dengan menunjukan Gelar kesarjanaan dari ilmunya yang dia pikir sudah sangat tinggi, padahal dalam prakteknya sering kali ilmu itu tidak teraplikasikan atau tidak cocok, malahan ilmu yang sederhanalah yang lebih tepat digunakan.
Pada kesempatan lain Sulaiman memperhatikan keindahan Mahkota yang digunakan oleh sang Ratu, lalu katanya : “Sungguh indah Mahkotamu Paduka Ratu, terlebih lagi dengan Ornamen yang melingkar di atasnya, seperti kepala ular Kobra.”
salam bahagia dari Guskompindo
.gif)