Senin, 27 Oktober 2014

Alkitab dan Susunannya

Alkitab dan Susunannya Makna dan Asal Usulnya Sebelum memulai studi masing-masing kitab dalam Alkitab, mari kita memahami Alkitab itu sendiri secara keseluruhan. Mengapa Alkitab disebut demikian, dan mengapa Alkitab juga sering disebut “Kitab Suci”? Kata “Alkitab” berasal dari kata “biblia” yang merupakan bentuk jamak dari kata “kitab” dalam bahasa Latin. Jadi “Alkitab” berarti “koleksi kitab” – tepatnya, enam puluh enam kitab. Kata suci berarti “sesuatu kepunyaan Allah” atau “sesuatu yang berasal dari Allah.” Jadi Kitab Suci, secara harafiah berarti “Kitab-kitab suci dari Allah,” atau “koleksi kitab kepunyaan Allah dan berasal dari Allah.” Alkitab juga disebut sebagai Firman Allah. Mengapa? Karena pernyataan yang dibuat oleh para rasul seperti Petrus dan Paulus. 2 Timotius 3:16-17 adalah contoh yang baik: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Berulang-ulang, kita diyakinkan bahwa Alkitab
bukanlah sekadar koleksi tulisan manusia tentang Allah.
Melainkan, Alkitab memuat Firman Allah sendiri, yang
ditulis melalui pena manusia, mungkin hingga empat puluh
orang atau lebih, dalam kurun waktu antara 1500 hingga
1600 tahun. Proses dengan mana Allah menggerakkan
orang-orang ini untuk menulis kitab-kitab ini disebut
inspirasi, yang secara harafiah berarti “mengilhamkan.”
Dalam 2 Petrus 1:21 Petrus menggambarkannya begini: “…
tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia,
tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas
nama Allah.”
Kata “didorong” di sini memberikan gambaran yang
indah dalam bahasa Yunaninya, yaitu “phero.” Coba Anda
membayangkan berada di sebuah perahu yang didorong
oleh gelombang atau layarnya ditiup angin, maka Anda
menangkap ide inspirasi seperti yang digambarkan oleh
Petrus di sini.
Susunan Alkitab
Setelah membahas apa sebenarnya Alkitab itu, mari
sekarang kita mempelajari bagaimana susunannya.
Bertentangan dengan apa yang mungkin Anda perkirakan,
kitab-kitab ini bukan ditulis secara kronologis, dan juga
bukan dikelompokkan menurut penulisnya. Melainkan,
disusun menurut jenis dan pesannya. Dua kelompok utama
kitab adalah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dulunya
tidak demikian, untuk alasan yang sudah jelas. Di zaman
Yesus misalnya, belum ada pembagian menjadi Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Baru belum ditulis,
jadi kitab-kitab yang ada di zaman Yesus hanya disebut
“Firman Allah” atau “Kitab Suci.” Setelah Perjanjian Baru
ditulis dan dijadikan koleksi kitab-kitab, baru diadakan
pembagian antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru.
Pesan inti Perjanjian Lama adalah bahwa Yesus akan
datang. Pada mulanya, menurut Kitab Suci, Allah dan
manusia hidup harmonis satu dengan yang lain. Akan
tetapi Allah menjadikan manusia makhluk yang dapat
memilih, dan manusia memilih untuk berpaling dari Allah.
Karena Allah tidak mungkin mentolerir pemberontakan
(dosa), Allah berpaling dari manusia. Demikianlah terjadi
semacam “perceraian” antara Allah dengan manusia.
Perceraian di antara Allah dengan manusia inilah masalah
mendasar yang dibahas Kitab Suci.
Dalam Perjanjian Lama, Allah mengatakan kepada
kita, “Apakah engkau akan percaya kepada-Ku, kalau Aku
mengatakan bahwa Aku akan melakukan sesuatu tentang
perceraian itu?” Dalam Perjanjian Baru Allah mengatakan
kepada kita, “Apakah engkau akan percaya kepada-Ku,
kalau Aku mengatakan bahwa Aku telah melakukan

sesuatu tentang perceraian itu?” Sebab Perjanjian Lama
mengatakan, “Yesus akan datang untuk memperdamaikan
perceraian di antara Allah dengan ciptaan-Nya.” Perjanjian
Baru memberitahukan kabar baik ini: Yesus telah datang,
dan ketika Yesus datang, Ia telah memperdamaikan
perceraian di antara Allah dengan manusia.”
Selain pembagian utama antara Perjanjian Lama
dengan Perjanjian Baru, ada pembagian lebih lanjut dari
masing-masing Perjanjian. Kitab-kitab
dalam Perjanjian
Lama terbagi menjadi lima kelompok.
Pertama, ada lima kitab Hukum. Dalam kelima kitab
Hukum ini, Allah menjelaskan apa yang benar dan apa
yang salah, memberi kita standar kebenaran-Nya.
Berikutnya, sepuluh kitab Sejarah, yang pada intinya
menjelaskan bahwa terkadang umat Allah mematuhi
kitab Hukum tersebut dan terkadang tidak. Kisah mereka
menjadi teladan dan peringatan bagi kita. Ayat kunci bagi
seluruh sejarah yang dicatat dalam Alkitab ditemukan
dalam Perjanjian Baru. Paulus mengatakan bahwa segala
yang terjadi pada orang yang kita baca kisahnya dalam
Alkitab adalah untuk menjadi teladan dan peringatan.
Ketika mereka mematuhi Firman yang Allah berikan kepada
mereka, mereka menjadi teladan bagi kita. Ketika mereka
mengikuti kehendak mereka sendiri, mereka menjadi
peringatan bagi kita