Selasa, 09 Desember 2014

Taman Mini Indonesia Indah

Taman Mini Indonesia Indah

Di Jakarta, atau tepatnya lagi di daerah Jakarta Timur anda bisa menemukan sebuah objek wisatabertema budaya Indonesia.Nama objek wisata itu adalah Taman Mini Indonesia Indah (TMII),dimana tempat ini merupakan rangkuman kebudayaan bangsa Indonesia, yang mencakup berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia pada tahun 1975 yang ditampilkan dalam anjungan daerah berarsitektur tradisional,juga menghadirkan aneka busana, tarian dan tradisi daerah.

Objek wisata yang memiliki luas areal sekitar 150 hektar ini dibangun tahun 1972 dan diresmikan pada tanggal 20 April 1975.Berbagai aspek kekayaan alam dan budaya Indonesia sampai pemanfaatan teknologi modern ditampilkan di taman ini.



Aslinya topografi Taman Mini Indonesia Indah sedikit berbukit, namun ini sesuai dengan keinginan perancangnya. Tim perancang memanfaatkan ketinggian tanah yang tidak rata ini untuk menciptakan bentang alam dan lansekap yang kaya, menggambarkan berbagai jenis lingkungan hidup di Indonesia.

Taman
Di Taman ini terdapat 10 macam taman yang menunjukkan keindahan flora dan fauna Indonesia,Dan berikut dibawah ini adalah taman yang wajib anda kunjungi ketika anda berkunjung di ke Taman Mini Indonesia Indah.

  • Taman Ria Atmaja Park, panggung pagelaran musik
  • Taman Budaya Tionghoa Indonesia (tengah dibangun)
  • Taman Anggrek
  • Taman Bunga Keong Emas
  • Akuarium Ikan Air Tawar
  • Taman Bekisar
  • Taman Burung
  • Taman Apotek Hidup
  • Taman Kaktus
  • Taman Melati

Sarana rekreasi
  • Taman Among Putro
  • Istana Anak-anak Indonesia
  • Kereta gantung
  • Taman Ria Atmaja
  • Desa Wisata
  • Kolam renang Snow Bay
  • Perahu Angsa Arsipel Indonesia

Bangunan keagamaan
  • Masjid Pangeran Diponegoro
  • Pura Penataran Agung Kertabhumi
  • Sasana Adirasa Pangeran Samber Nyawa
  • Kuil Konghucu Kong Miao
  • Wihara Arya Dwipa Arama
  • Gereja Katolik Santa Catharina
  • Gereja Protestan Haleluya

Dimanakah Yesus selama tiga hari

Pertanyaan:Pernah kah terfikirkan  Di manakah Yesus dalam tiga hari antara kematian dan kebangkitanNya? Jawaban: 1 Petrus 3:18-19 memaparkan, “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara.” Frasa “menurut Roh” dalam ayat 18 memiliki konstruksi yang persis sama dengan frasa “dalam keadaannya sebagai manusia.” Karena itu nampaknya paling tepat kalau menempatkan kata “roh” dalam lingkup yang sama dengan kata “manusia (daging).” Roh dan daging adalah tubuh dan Roh Kristus. Kata “dibangkitkan menurut Roh” menunjuk pada fakta bahwa karena Dia menanggung dosa kita dan mati maka rohnya sebagai manusia terpisah dari Bapa (Matius 27:46). Kontrasnya adalah antara daging dan roh, sebagaimana dalam Matius 27:41 dan Roma 1:3-4, dan bukan antara tubuh Kristus dan Roh Kudus. Ketika Kristus telah selesai menebus dosa, rohNya kembali kepada persekutuan yang tadinya terputus itu. 1 Petrus 3:18-22 menggambarkan pentingnya kaitan antara penderitaan Kristus (ayat 18) dan kemuliaanNya (ayat 22). Hanya Petrus yang memberi informasi yang spesifik mengenai apa yang terjadi di antara kedua peristiwa itu. Kata “memberitakan” dalam ayat 19 bukan kata yang biasa dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menjelaskan pemberitaan Injil. Secara harafiah kata tsb, berarti membawa berita. Yesus menderita dan mati di salib, tubuhNya menderita kematian, dan rohNya mati ketika Dia dibuat menjadi dosa. Namun rohNya dihidupkan kembali dan Dia serahkan itu kepada sang Bapa. Menurut Petrus, dalam saat-saat antara kematian dan kebangkitanNya, Yesus melakukan pemberitaan khusus kepada “roh-roh yang di dalam penjara.” Dalam merujuk pada orang, Petrus menggunakan istilah “jiwa” dan bukannya “roh” (3:200. Dalam Perjanjian Baru, kata “roh-roh” digunakan untuk menggambarkan para malaikat atau roh-roh jahat, bukan manusia; dan ayat 22 kelihatannya memiliki makna ini. Dalam Alkitab, Yesus tidak pernah dikatakan berkunjung ke neraka. Kata “Hades” menunjuk kepada alam maut, sebuah tempat sementara untuk menantikan kebangkitan. Wahyu 20:11-13, dalam versi Alkitab New American Standard Bible (NASB) dan New International Version (NIV), membedakan keduanya dengan jelas. Neraka adalah tempat yang permanen dan merupakan tempat di mana orang-orang yang tidak percaya dihakimi. Hades adalah tempat yang sementara. Tuhan kita menyerahkan nyawanya kepada Bapa, mati, dan suatu ketika, di antara kematian dan kebangkitanNya, mengunjungi dunia orang mati di mana Dia membawa berita kepada roh-roh (kemungkinan para malaikat yang jatuh; lihat Yudas 6) yang entah bagaimana ada hubungannya dengan zaman sebelum banjir di zaman Nuh. Ayat 20 menyatakan hal ini dengan jelas. Petrus tidak mengatakan apa yang Yesus beritakan kepada roh-roh yang dipenjarakan ini, tapi jelas bukan berita penebusan karena malaikat tidak diselamatkan (Ibrani 2:16). Kemungkinan ini adalah pernyataan kemenangan atas Iblis dan pengikut-pengikutnya (1 Petrus 3:22; Kolose 2:15). Efesus 4:8-10 juga mengindikasikan bahwa Yesus pergi ke “Firdaus” (Lukas 16:20; 23:43) dan membawa ke surga mereka yang percaya kepadaNya sebelum Dia mati. Bagian Alkitab ini tidak memberi banyak detil mengenai apa yang terjadi, namun kebanyakan para sarjana Alkitab sepakat bahwa inilah artinya “Ia membawa tawanan-tawanan.” Jadi, yang dapat dikatakan adalah bahwa Alkitab tidak memberitahukan dengan jelas apa yang Yesus lakukan dalam tiga hari antara kematian dan kebangkitanNya. KelihatanNya, Dia memberitakan berita kemenangan kepada para malaikat yang jatuh dan/atau mereka yang tidak percaya. Apa yang kita tahu dengan pasti adalah bahwa Yesus tidak memberi kesempatan kedua untuk diselamatkan. Alkitab memberitahukan kita bahwa setelah mati kita dihakimi (Ibrani 9:27) dan bukan mendapat kesempatan kedua. Tidak ada jawaban yang jelas apa yang Yesus lakukan di antara saat kematian dan kebangkitanNya. Barangkali ini adalah salah satu misteri yang kita baru dapat mengerti saat kita masuk ke dalam kemuliaan. Baca lebih lanjut: http://www.gotquestions.org/Indonesia/Yesus-tiga-hari.html#ixzz3E3u19kem

Apakah itu Guskompindo?

                                           sebar iklan dengan memasang iklan disini

Pernyataan  guskompido yang ,menjawab  Misi dari  GABUNGAN KOMUNIKASI PEMBERITAAN FIRMAN INDONESIA

“ GUSKOMPIDO  Sangat  berusaha memuliakan Tuhan Yesus Kristus dengan menyediakan jawaban-jawaban  pertanyaan yang berdasarkan Alkitab, dapat diterapkan dan dijawab secara cepat terhadap pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hal-hal kerohanian  melalui Internet.”

 Guskmpindo  adalah pelayanan  dengan sukarela dari orang-orang yang berdedikasi dan terlatih yang memiliki keinginan untuk membantu orang-orang lain didalam pengertian mereka akan Allah, Alkitab, keselamatan dan topik-topik rohani lainnya. Kami adalah orang-orang Kristen Protestan, konservatif, injili, fundamental dan bukan berdasarkan denominasi. Kami memandang semua itu  diri kami sebagai lembaga bukan gerejawi, yang bersama-sama dengan gereja menolong orang menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan sekitar ke rohanian .

Dengan berdoa  kepaada Allah dan dengan riset yang menyeluruh, kami berusaha sebaik-baiknya menjawab pertanyaan-pertanyaan tsb dengan cara yang berdasarkan Alkitab. Tujuan kami bukanlah membuat Anda setuju dengan kami, namun untuk menunjukkan pada Anda apa yang Alkitab katakan sehubungan dengan pertanyaan-pertanyaan Anda.

Anda dapat yakin bahwa pertanyaan-pertanyaan Anda dijawab oleh orang-orang Kristen yang terlatih dan berdedikasi, yang mencintai Tuhan serta berkeinginan untuk menolong Anda dalam berjalan denganNya. Para staf penulis kami meliputi pada pendeta, pembina pemuda, misionari, konselor Alkitab, mahasiswa seminari/sekolah Alkitab, dosen seminari dan orang-orang awam yang mempelajari Firman Tuhan. Semua jawaban diteliti kembali oleh Presiden dan Pendiri kami untuk memastikan kebenaran dan ketepatannya secara Alkitabiah. Dia memiliki gelar Master dalam bidang Teologia Kristen dan gelar Sarjana dalam bidang Studi Biblika.

Semoga Allah memberkati Anda dengan limpahnya saat Anda berusaha untuk mempelajari FirmanNya dan bertumbuh dalam berjalan denganNya! (Roma 11:36).

Kebijakan Privasi:Kami tidak akan pernah memberikan alamat email Anda atau informasi pribadi Anda pada situs, pelayanan ataupun perusahaan manapun.


 

Rabu, 12 November 2014

Menangislah dengan orang yang menangis...”


silahkan mampir di toko on line kami

“Menangislah dengan orang yang menangis...”

Kita menemukan perkataan ini dalam Roma 12:15. Di mulai dari ayat ke-14, kita membaca:
Roma 12:14-15
“Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”
“Menangislah dengan orang yang menangis”, kata Firman Allah. Orang-orang di sekitar kita atau kita sendiri seringkali mengalami keadaan-keadaan yang sulit; keadaan yang menimbulkan kesedihan serta tangisan. Apa yang harus kita lakukan ketika diperhadapkan dengan keadaan seperti itu? Kita seharusnya memiliki belas kasihan dan pengertian, “Menangislah dengan orang yang menangis”. Ketika ketiga sahabat Ayub menjenguk Ayub, mereka mengoyak jubah mereka serta menangis bersama-sama dengan Ayub (Ayub 2:11-13). Ketika Yesus pergi untuk menjenguk keluarga Lazarus, ia pun menangis (Yohanes 11:35). Sebagaimana 1 Korintus 12:25-26 katakan kepada kita:
1 Korintus 12:24-26
“Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” 
Seringkali ada seorang anggota tubuh yang memperoleh penghormatan khusus. Marilah kita turut bersukacita bersamanya. Dan, seringkali ada seorang anggota tubuh yang menderita. Marilah kita turut menderita bersamanya. Sebagaimana dikatakan oleh Yakobus tentang orang-orang yang menderita, seperti para janda dan anak yatim piatu:
Yakobus 1:27
“Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”
Adakah seorang saudara kita yang berada dalam kesusahan? Janganlah kita menghindarinya. Menderitalah bersama-sama dengannya. Firman Tuhan berkata bahwa ada waktu untuk menangis dan ada waktu untuk tertawa (Pengkhotbah 3:4). Ini bukan berlaku hanya untuk beberapa orang dari antara kita tetapi untuk kita semua. Jadi, ketika seorang saudara mengalami waktu di mana ia menangis, janganlah kita bersikap acuh tak acuh terhadapnya, tetapi marilah kita menderita bersamanya. Sebaliknya, ketika ada seorang saudara yang mengalami waktu penuh tawa dan sukacita, janganlah kita cemburu terhadapnya, tetapi bersukacitalah bersamanya.



Roh Kudus: “Penolong yang lain”

silahkan mampir





Roh Kudus: “Penolong yang lain”

Di dalam Yohanes pasal 14-16, tak lama sebelum penangkapan-Nya oleh orang Yahudi, kita membaca bagaimana Yesus memberikan instruksi dan penghiburan terakhir-Nya kepada para murid. Ia tidak akan ada lagi bersama-sama dengan mereka. Memang mereka masih akan melihat-Nya lagi setelah kebangkitan-Nya tetapi hanya untuk sementara waktu, sampai kenaikan-Nya kepada Bapa. Fakta bahwa Yesus akan pergi kepada Bapa bisa berarti para murid akan ditinggalkan-Nya sendiri … kecuali bila Ia mengirimkan seorang pengganti, seorang yang akan menggantikan tempat-Nya, atau Ia akan datang dalam “bentuk yang lain.” Dan, seperti yang akan kita lihat, tepat seperti itulah yang terjadi! Sekalipun secara fisik Yesus tidak lagi hadir, Ia sesungguhnya jauh lebih hadir dari sebelumnya! Bagaimana caranya? Melalui Penolong, yaitu Roh Kudus. Penolong ini mengambil tempat Yesus sepenuhnya, melakukan apa yang akan Yesus lakukan apabila Ia hadir secara fisik bagi setiap murid-Nya. Mengenai murid, yang saya maksud bukan hanya mereka yang hadir di Taman Getsemani pada malam hari itu. Selain mereka, saya terlebih lagi merujuk kepada kita! Tidak ada seorang pun dari kita yang pernah bertemu langsung dengan Yesus, dalam darah dan daging, sebagaimana para murid bertemu dengan-Nya. Namun, oleh karena Sang Penolong, oleh karena Roh Kudus, kita tidak ditinggalkan tanpa Dia. Yohanes 14:15-18 mengatakan kepada kita:

Yohanes 14:15-18
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”

Di sini, Yesus Kristus sedang berbicara mengenai Roh Kudus dan Ia mengambarkan-Nya sebagai seorang Penolong yang lain. Meskipun Yesus akan pergi, Ia sebenarnya tidak meninggalkan mereka sendirian. Ia akan mengirimkan seorang Penolong YANG LAIN atau seorang yang akan menggantikan tempat-Nya, seorang yang akan melakukan apa yang akan Ia lakukan apabila Ia berada bersama dengan mereka, seorang yang menjadi pengganti kehadiran-Nya secara fisik. Meskipun Ia tidak lagi hadir secara fisik bersama dengan mereka, Ia hadir secara spiritual, melalui Sang Penolong. Dengan kata lain, memiliki Roh Kudus sama seperti memiliki Yesus. Dan bagi mereka yang mengikuti Yesus, Roh Kudus melakukan apa yang Yesus lakukan kepada murid-murid-Nya ketika Ia hadir secara fisik yaitu mengajar mereka, membimbing mereka, dan menghibur mereka. Itulah sebabnya Ia disebut Penolong YANG LAIN. Penolong pertama adalah Yesus dalam kehadiran-Nya secara fisik. Selang beberapa hari setelah kenaikan Yesus, Roh Kudus, Penolong kedua atau “Penolong yang lain,” yang menggantikan tempat Yesus sebagai Penolong yang Pertama, datang. Sebagaimana Barnes katakan dalam penafsirannya:

“Tatkala Yesus hidup bersama-sama dengan mereka, Ia telah menjadi penasihat, pembimbing, dan sahabat bagi mereka. Ia mengajar mereka, menanggung prasangka mereka dan ketidakmengertian mereka, serta memberikan penghiburan di saat mereka berputus asa. Tetapi, Ia akan segera meninggalkan mereka… Penolong yang lain akan diberikan sebagai ganti ketidakhadiran-Nya, atau untuk melakukan tugas-tugas-Nya terhadap mereka yang akan Ia lakukan apabila Ia tetap tinggal bersama dengan mereka. Dari sini kita dapat belajar sebagian dari tugas Roh Kudus, yaitu untuk mengajar dan menghibur semua orang Kristiani, tugas yang dilakukan oleh Yesus dalam kehadiran-Nya secara fisik…” (Albert Barnes’ Notes on the Bible).

Oleh karena itu saudara saudari yang terkasih di dalam Kristus: Anda tidak dibiarkan sendirian. Yesus tidak tinggal jauh dari Anda. Ia sangat dekat dengan Anda, melalui Penolong, yang ada di dalam Anda! Sebagaimana Kolose 1:26-27 katakan:

“yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!”

Kristus ADA DI DALAM ANDA saudara saudariku. Penolong itu ada di dalam Anda! Mengapa Ia ada di sana? Untuk melakukan apa yang Kristus lakukan apabila Ia hadir secara fisik. Inilah pelayanan Roh Kudus sebagaimana yang digambarkan oleh Yesus:

Yohanes 14:26
“tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku,Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Yohanes 15:26
“Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.”

Yohanes 16:7
“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”

Kehadiran Roh Kudus di dalam hati kita jauh lebih bermanfaat daripada kehadiran Yesus secara fisik di bumi!

Yohanes 16:8-15
“Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum. Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”

Inilah pelayanan luar biasa dan realitas yang indah mengenai Roh Kudus.
Banyak orang tidak benar-benar percaya akan peran aktif Roh Kudus dalam kehidupan para murid Kristus. Mereka pada dasarnya percaya bahwa mereka telah ditinggalkan sendirian sebagai yatim piatu dan berusaha bagaimana agar dapat hidup bagi-Nya! Tetapi Yesus berkata bahwa kita TIDAK ditinggalkan sebagai yatim piatu! Roh Kudus menggantikan tempat-Nya, dengan menjadi “Penolong yang lain,” atau seorang Penolong yang menggantikan tempat Penolong pertama, yaitu Yesus.
Sebagian orang beranggapan Roh Kuduslah yang bekerja ketika mereka melihat hal-hal yang belum pernah dilakukan oleh Yesus, hal-hal yang tidak selaras dengan Firman Tuhan. Apakah hal-hal ini benar-benar dilakukan oleh Roh Kudus? Jawabannya BUKAN. Apa yang Roh Kudus lakukan selalu selaras dengan Firman Allah. Sesuatu yang tidak selaras dengan Firman pastilah bukan dilakukan oleh Roh Kudus.
Untuk menutup artikel ini: Yesus yang pergi kepada Bapa-Nya tidak membiarkan kita sendirian. Ia mengirimkan seorang Pengganti yang melakukan apa yang akan Yesus lakukan apabila Ia hadir secara fisik kepada setiap kita. Pengganti ini adalah Roh Kudus dan beberapa dari misi Roh Kudus adalah mengajar dan mengingatkan (Yohanes 14:26), mengarahkan dan membimbing (Kisah Para Rasul 16:6-10) dan menghibur (Kisah Para Rasul 9:31). Ia bukanlah “roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban” (2 Timotius 1:7). Sungguh anugerah yang luar biasa dari Bapa yang karena kasih-Nya telah mengaruniakan Roh Kudus kepada mereka yang percaya kepada Anak-Nya serta kebangkitan-Nya dari kematian.

Roma 5:5
“kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.


guskompindo share pertobatan

belanja on line

Pertobatan

Dalam kitab Hakim-hakim pasal 10, kita mendapati catatan tentang orang-orang Israel yang berperang melawan bani Amon. Ayat 6 menggambarkan keadaan rohani orang Israel pada zaman itu:

Hakim-hakim 10:6
“Orang Israel itu melakukan pula apa yang jahat di mata TUHAN; mereka beribadah kepada para Baal dan para Asytoret, kepada para allah orang Aram, para allah orang Sidon, para allah orang Moab, para allah bani Amon dan para allah orang Filistin,tetapi TUHAN ditinggalkan mereka dan kepada Dia mereka tidak beribadah.”

Seperti yang sudah sering mereka lakukan sebelumnya, kembali orang Israel meninggalkan Tuhan serta beribadah kepada para allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka. Tuhan tidak bersikap acuh dengan kejahatan mereka. Ayat 7-9 mengatakan kepada kita:

Hakim-hakim 10:7-9
“Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel, dan Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan orang Filistin dan bani Amon. Dalam tahun itu juga orang Israel ditindas dan diinjak mereka; delapan belas tahun lamanya mereka memperlakukan demikian semua orang Israel yang di seberang sungai Yordan di tanah orang Amori yang di Gilead. Dan bani Amonpun menyeberangi sungai Yordan untuk berperang melawan suku Yehuda, suku Benyamin dan keturunan Efraim, sehingga orang Israel sangat terdesak”

Buah dari perilaku bangsa Israel adalah penindasan yang kejam. Pada akhirnya, orang-orang yang allahnya mereka sembah telah menjadi penindas mereka. Untunglah dalam keadaan yang sangat terdesak itu, mereka kembali kepada Tuhan. Ayat 10 mengatakan:

Hakim-hakim 10:10
“Lalu berserulah orang Israel kepada TUHAN, katanya: "Kami telah berbuat dosa terhadap Engkau, sebab kami telah meninggalkan Allah kami lalu beribadah kepada para Baal."

Sebagaimana anak yang hilang dalam Injil Lukas memutuskan untuk pulang – mengakui dosanya – setelah daerah yang tadinya kaya dilanda bencana kelaparan, demikian pula bangsa Israel, dalam keadaan sangat terdesak, mereka kembali kepada Tuhan serta mengakui dosa-dosa mereka terhadap-Nya. Ayat 11-14 mencatat bagaimana jawaban Allah:

Hakim-hakim 10:11-14
“Tetapi firman TUHAN kepada orang Israel: "Bukankah Aku yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir, orang Amori, bani Amon, orang Filistin, orang Sidon, suku Amalek dan suku Maon yang menindas kamu, ketika kamu berseru kepada-Ku? Tetapi kamu telah meninggalkan Aku dan beribadah kepada allah lain; sebab itu Aku tidak akan menyelamatkan kamu lagi. Pergi sajalah berseru kepada para allah yang telah kamu pilih itu; biar merekalah yang menyelamatkan kamu, pada waktu kamu terdesak."

Israel adalah umat pilihan Allah. Dia telah menyelamatkan mereka berkali-kali, namun kembali mereka mengkhianati-Nya. Apakah Tuhan masih mau mengampuni mereka? Apakah pengampunan-Nya sudah habis dan Ia akan menolak orang Israel untuk selama-lamanya? Ayat 15-16a mengatakan apa yang orang Israel lakukan setelah mendengar jawaban dari Tuhan:

Hakim-hakim 10:15-16a
“Kata orang Israel kepada TUHAN: "Kami telah berbuat dosa. Lakukanlah kepada kami segala yang baik di mata-Mu. Hanya tolonglah kiranya kami sekarang ini!" Dan mereka menjauhkan para allah asing dari tengah-tengah mereka, lalu mereka beribadah kepada TUHAN.”

Kali pertama orang Israel datang kepada Tuhan, para allah asing masih tetap ada di tengah mereka. Mereka mengakui dosa mereka. Namun, apakah mereka sungguh-sungguh bertobat sementara mereka masih tetap memegang allah asing mereka? Pengakuan dosa tidak selalu berarti pertobatan dari dosa. Pertobatan yang sejati berasal dari hati yang terdalam, dan disertai dengan perubahan hati. Dalam ayat ke-10, orang-orang Israel mengaku bahwa mereka telah berdosa namun para allah asing mereka tidak mereka tinggalkan! Saya percaya inilah sebabnya Allah berkata kepada mereka, “Pergi sajalah berseru kepada para allah yang telah kamu pilih itu”. Para allah itu masih ada di tengah mereka!! Baru kemudian dalam ayat 16, orang Israel menjauhkan para allah itu dan mulai beribadah kepada Tuhan. Segera sesudah itu, kita membaca bagaimana reaksi Tuhan:

Hakim-hakim 10:16
“Maka TUHAN tidak dapat lagi menahan hati-Nya melihat kesukaran mereka.”

Begitu orang Israel sungguh-sungguh bertobat – dan pertobatan ini sekarang jelas terlihat melalui tindakan mereka – Allah pun kembali membebaskan mereka. Begitu mereka bertobat, Tuhan tidak dapat lagi menahan hati-Nya melihat kesukaran mereka. Hakim-hakim 11-12 menceritakan bagaimana Ia membebaskan mereka dari tangan bani Amon. Dia tidak melakukannya karena kebenaran mereka atau karena Ia yakin bahwa mereka tidak akan menyimpang lagi kelak. Faktanya, dalam pasal 13 kita melihat bagaimana mereka ternyata kembali menyimpang. Allah mau membebaskan mereka hanya karena Ia mengasihi mereka, dan begitu mereka kembali kepada-Nya dengan hati yang jujur, Dia pun mau mengampuni, terlepas dari apa yang telah mereka kerjakan di masa lalu, terlepas dari apa yang akan mereka lakukan di masa depan.

Pertobatan – dalam kasus Ahab
Saya senang membaca kitab-kitab sejarah dalam Perjanjian Lama. Isinya bagaikan biografi-biografi singkat yang menunjukkan bagaimana Tuhan bekerja dengan berbagai macam orang, baik yang jahat maupun yang baik. Dalam 1 Raja-raja, kita mendapati catatan tentang seorang raja yang sangat jahat bernama Ahab. 1 Raja-raja 16:30-33 dan 21:25 memberikan kepada kita catatan tentang “riwayat hidup” dan ……..”prestasi” raja ini:

1 Raja-raja 16:30-33
“Ahab bin Omri melakukan apa yang jahat di mata TUHAN lebih dari pada semua orang yang mendahuluinya. Seakan-akan belum cukup ia hidup dalam dosa-dosa Yerobeam bin Nebat, maka ia mengambil pula Izebel, anak Etbaal, raja orang Sidon, menjadi isterinya, sehingga ia pergi beribadah kepada Baal dan sujud menyembah kepadanya. Kemudian ia membuat mezbah untuk Baal itu di kuil Baal yang didirikannya di Samaria. Sesudah itu Ahab membuat patung Asyera, dan Ahab melanjutkan bertindak demikian, sehingga ia menimbulkan sakit hati TUHAN, Allah Israel, lebih dari semua raja-raja Israel”

Dan 1 Raja-raja 21:25
“Sesungguhnya tidak pernah ada orang seperti Ahab yang memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, karena ia telah dibujuk oleh Izebel, isterinya. Bahkan ia telah berlaku sangat keji dengan mengikuti berhala-berhala, tepat seperti yang dilakukan oleh orang Amori yang telah dihalau TUHAN dari depan orang Israel.”

Ahab digambarkan sebagai raja Israel yang paling jahat. Tidak ada seorang pun yang dapat menandingi kejahatannya. Elia datang menemui raja ini dalam 1 Raja-raja 21. Di sana kita membaca:

1 Raja-raja 21:20-22
“Kata Ahab kepada Elia: "Sekarang engkau mendapat aku, hai musuhku?" Jawabnya: "Memang sekarang aku mendapat engkau, karena engkau sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel. Dan Aku akan memperlakukan keluargamu sama seperti keluarga Yerobeam bin Nebat dan seperti keluarga Baesa bin Ahia, oleh karena engkau menimbulkan sakit hati-Ku, dan oleh karena engkau mengakibatkan orang Israel berbuat dosa.”

Inilah keputusan Allah terhadap Ahab. Dia dan keluarganya akan mengalami akhir yang sangat mengerikan. Namun, jangan berpikir bahwa hal ini menyenangkan hati Allah. Sebagaimana dikatakan dalam Yehezkiel 18:23:

Yehezkiel 18:23
“Apakah kaupikir Aku TUHAN Yang Mahatinggi senang kalau orang yang jahat mati? Sama sekali tidak! Aku ingin ia meninggalkan dosa-dosanya supaya ia tetap hidup.” (IBIS)

Yang membuat Allah senang bukanlah menghakimi orang jahat, melainkan melihat mereka bertobat. Siapa pun yang sungguh-sungguh bertobat dapat diterima oleh-Nya. Namun, apakah hal yang sama berlaku untuk Ahab, seorang raja Israel yang paling jahat? Ayat 27-29 mengatakan:

1 Raja-raja 21:27-29
“Segera sesudah Ahab mendengar perkataan itu, ia mengoyakkan pakaiannya, mengenakan kain kabung pada tubuhnya dan berpuasa. Bahkan ia tidur dengan memakai kain kabung, dan berjalan dengan langkah lamban. Lalu datanglah firman TUHAN kepada Elia, orang Tisbe itu: "Sudahkah kaulihat, bahwa Ahab merendahkan diri di hadapan-Ku? Oleh karena ia telah merendahkan diri di hadapan-Ku, maka Aku tidak akan mendatangkan malapetaka dalam zamannya; barulah dalam zaman anaknya Aku akan mendatangkan malapetaka atas keluarganya."

Penghakiman Tuhan adalah atas seluruh keluarga Ahab. Namun, fakta bahwa Ahab merendahkan dirinya di hadapan Tuhan sudah cukup untuk menunda pelaksanaan hukuman atas kejahatan besar yang telah ia dan keluarganya lakukan. Sayangnya, di kemudian hari, ia dan keluarganya terus saja melakukan kejahatan mereka – seperti yang tercatat dalam 1 Raja-raja 22 dan 2 Raja-raja 3:1-3 – dan keputusan Tuhan yang telah diumumkan oleh Elia sebelumnya, terjadi di zaman Yoram, anak laki-laki Ahab (lihat 2 Raja-raja 9-10). Yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwa Tuhan siap untuk menunda datangnya penghakiman begitu Ahab, si raja yang sangat jahat ini, mulai merendahkan dirinya di hadapan Tuhan serta berduka atas kejahatan yang telah ia lakukan. Allah memang tidak menginginkan kematian orang jahat. Yang Ia inginkan adalah agar mereka bertobat dengan sungguh-sungguh dan kembali kepada-Nya.

Pertobatan: Dalam kasus Manasye
Ahab bukan satu-satunya raja Israel yang jahat. Sesungguhnya, ada banyak raja lain yang bertingkah laku seperti Ahab. Salah satunya adalah Manasye anak raja Hizkia. Kita membaca ringkasan tentang kerajaannya dalam 2 Tawarikh 33:2,9:

2 Tawarikh 33:2
“Ia [Manasye] melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalaukan TUHAN dari depan orang Israel.”

dan 2 Tawarikh 33:9
“Tetapi Manasye menyesatkan Yehuda dan penduduk Yerusalem, sehingga mereka melakukan yang jahat lebih dari pada bangsa-bangsa yang telah dipunahkan TUHAN dari depan orang Israel.”

Tampaknya, kejahatan Manasye raja Yehuda sebanding dengan kejahatan Ahab. Kejahatan keduanya melebihi kejahatan bangsa-bangsa yang pernah mendiami tanah itu sebelumnya! Atas kejahatannya, Tuhan telah menegur Manasye dan rakyatnya namun mereka tidak menghiraukan teguran itu: mereka TIDAK MAU BERTOBAT. Ayat 10-11 menceritakan kepada kita:

2 Tawarikh 33:10-11
“Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Manasye dan rakyatnya, tetapi mereka tidak menghiraukannya. Oleh sebab itu [hasil dari respons mereka] TUHAN mendatangkan kepada mereka panglima-panglima tentara raja Asyur yang menangkap Manasye dengan kaitan, membelenggunya dengan rantai tembaga dan membawanya ke Babel.”

Tuhan mencoba menegur raja dan rakyatnya. Dia tidak ingin melihat Manasye mengalami keadaannya yang mengerikan tersebut. Namun, tanpa pertobatan, hal ini tidak bisa dihindari. Untunglah, sebagaimana yang terjadi dengan orang-orang Israel dalam Hakim-hakim 10, penindasan yang dialami Manasye menjadi sebuah titik balik baginya, karena ia kemudian mulai mencari Tuhan!

2 Tawarikh 33:12-13a
“Dalam keadaan yang terdesak ini, ia [Manasye] berusaha melunakkan hati TUHAN, Allahnya; ia sangat merendahkan diri di hadapan Allah nenek moyangnya, dan berdoa kepada-Nya.”

Ketika Manasye masih hidup dalam keadaan damai di Yerusalem, dia tidak menghiraukan teguran Allah. Sekarang saat dibelenggu, giliran Manasye yang mulai berbicara kepada Allah, yaitu dengan sangat merendahkan dirinya di hadapan Allah. Mari kita lihat apakah Allah mendengarkan permohonannya:

2 Tawarikh 33:13
“[Setelah Manasye sangat merendahkan dirinya di hadapan Allah] Maka TUHAN mengabulkan doanya, dan mendengarkan permohonannya. Ia membawanya kembali ke Yerusalem dan memulihkan kedudukannya sebagai raja. Dan Manasye mengakui, bahwa TUHAN itu Allah.”

Di Yerusalem, Manasye adalah juara dalam hal kejahatan. Namun, ketika dalam keadaan terdesak ia kembali kepada Tuhan, Tuhan tidak memperhitungkan kejahatannya di masa lalu. Sebaliknya “Tuhan mengabulkan doanya” bahkan memulihkan kedudukannya sebagai raja.

Pertobatan: Dalam kasus Niniwe
Kasus ini adalah topik utama dalam kitab Yunus yang pendek. Tuhan berbicara kepada Yunus dan memberinya sebuah tugas yang spesifik. Ayat 1 dan 2 berkata:

Yunus 1:1-2
“Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku."

Mungkin kita semua telah mengetahui apa yang dilakukan Yunus pada awalnya serta bagaimana ia tidak menaati perintah Tuhan. Namun, dalam pasal ke-3 kita melihat bahwa pada akhirnya ia pergi juga ke Niniwe:

Yunus 3:1-4
“Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu." Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan."

Melalui Yunus, Allah ingin memperingatkan orang-orang Niniwe tentang penghakiman yang akan terjadi apabila mereka tidak bertobat. Ayat 5-9 menceritakan bagaimana reaksi orang-orang Niniwe setelah menerima peringatan dari Tuhan tersebut.

Yunus 3:5-9
“Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.”

Kebalikan dari Manasye, orang-orang Niniwe memperhatikan apa yang Allah katakan, bahkan raja dan para pembesarnya memerintahkan kepada semua orang untuk berpuasa dan berdoa. Kemudian ayat 10 menceritakan apa yang Allah lakukan:

Yunus 3:10
“Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu [bukan cuma kata-kata mereka], yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.”

Allah tidak jadi melakukan apa yang telah dirancangkan-Nya terhadap Niniwe, dan ini dikarenakan orang-orang Niniwe bertobat. Apa yang menunjukkan bahwa mereka sungguh-sungguh bertobat? Perbuatan mereka, serta fakta bahwa mereka berbalik dari tingkah laku mereka yang jahat. Pertobatan yang sejati bukan hanya merasa menyesal atas apa yang telah kita perbuat, tetapi harus disertai dengan tindakan, disertai dengan perbuatan yang merupakan hasil dari pertobatan itu (yaitu tidak lagi melakukan apa yang menyakiti hati Tuhan dan melakukan apa yang menyenangkan hati-Nya).

Pertobatan: Kesimpulan
Meskipun dosa menjadi penghalang jalan manusia kepada Allah, pertobatan akan membuka jalan itu. Bahkan dalam kasus-kasus seberat kasus Ahab dan Manasye, jalan itu terbuka lebar ketika mereka merendahkan diri mereka di hadapan Allah. Oleh karena itu pertanyaannya bukan apakah Tuhan akan mengampuni kita. Ia akan mengampuni kita, jika kita bertobat. Oleh karena itu, jikalau kita berdosa, sudahkah kita bertobat? Bukan hanya bertobat di mulut saja tetapi bertobat dengan sungguh-sungguh di dalam hati kita. Apakah kita berduka dan menangis atas dosa-dosa kita, ataukah dengan hati yang tetap keras kita menipu diri sendiri dengan menganggapnya tidak masalah, dengan melakukan pembenaran atas dosa kita, alih-alih bertobat dari dosa-dosa itu? Inilah yang dinasihatkan oleh Yakobus:

Yakobus 4:8-10
“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”

Dalam semua kasus yang telah kita lihat di atas, pertobatan selalu disertai dengan perubahan hati, dengan perasaan berduka atas dosa, dan dengan merendahkan diri di hadapan Allah.

Biarlah Tuhan membukakan mata kita dan kita membukakan hati kita kepada-Nya, menjadikannya transparan, tanpa ada apa pun yang tersembunyi di dalamnya. Biarlah kita berhenti membenarkan dosa kita. Biarlah kita mendekat kepada-Nya serta bertobat dan Ia pun akan mendekat kepada kita.



Senin, 27 Oktober 2014

Alkitab dan Susunannya

Alkitab dan Susunannya Makna dan Asal Usulnya Sebelum memulai studi masing-masing kitab dalam Alkitab, mari kita memahami Alkitab itu sendiri secara keseluruhan. Mengapa Alkitab disebut demikian, dan mengapa Alkitab juga sering disebut “Kitab Suci”? Kata “Alkitab” berasal dari kata “biblia” yang merupakan bentuk jamak dari kata “kitab” dalam bahasa Latin. Jadi “Alkitab” berarti “koleksi kitab” – tepatnya, enam puluh enam kitab. Kata suci berarti “sesuatu kepunyaan Allah” atau “sesuatu yang berasal dari Allah.” Jadi Kitab Suci, secara harafiah berarti “Kitab-kitab suci dari Allah,” atau “koleksi kitab kepunyaan Allah dan berasal dari Allah.” Alkitab juga disebut sebagai Firman Allah. Mengapa? Karena pernyataan yang dibuat oleh para rasul seperti Petrus dan Paulus. 2 Timotius 3:16-17 adalah contoh yang baik: “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.”

Berulang-ulang, kita diyakinkan bahwa Alkitab
bukanlah sekadar koleksi tulisan manusia tentang Allah.
Melainkan, Alkitab memuat Firman Allah sendiri, yang
ditulis melalui pena manusia, mungkin hingga empat puluh
orang atau lebih, dalam kurun waktu antara 1500 hingga
1600 tahun. Proses dengan mana Allah menggerakkan
orang-orang ini untuk menulis kitab-kitab ini disebut
inspirasi, yang secara harafiah berarti “mengilhamkan.”
Dalam 2 Petrus 1:21 Petrus menggambarkannya begini: “…
tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia,
tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas
nama Allah.”
Kata “didorong” di sini memberikan gambaran yang
indah dalam bahasa Yunaninya, yaitu “phero.” Coba Anda
membayangkan berada di sebuah perahu yang didorong
oleh gelombang atau layarnya ditiup angin, maka Anda
menangkap ide inspirasi seperti yang digambarkan oleh
Petrus di sini.
Susunan Alkitab
Setelah membahas apa sebenarnya Alkitab itu, mari
sekarang kita mempelajari bagaimana susunannya.
Bertentangan dengan apa yang mungkin Anda perkirakan,
kitab-kitab ini bukan ditulis secara kronologis, dan juga
bukan dikelompokkan menurut penulisnya. Melainkan,
disusun menurut jenis dan pesannya. Dua kelompok utama
kitab adalah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dulunya
tidak demikian, untuk alasan yang sudah jelas. Di zaman
Yesus misalnya, belum ada pembagian menjadi Perjanjian
Lama dan Perjanjian Baru. Perjanjian Baru belum ditulis,
jadi kitab-kitab yang ada di zaman Yesus hanya disebut
“Firman Allah” atau “Kitab Suci.” Setelah Perjanjian Baru
ditulis dan dijadikan koleksi kitab-kitab, baru diadakan
pembagian antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru.
Pesan inti Perjanjian Lama adalah bahwa Yesus akan
datang. Pada mulanya, menurut Kitab Suci, Allah dan
manusia hidup harmonis satu dengan yang lain. Akan
tetapi Allah menjadikan manusia makhluk yang dapat
memilih, dan manusia memilih untuk berpaling dari Allah.
Karena Allah tidak mungkin mentolerir pemberontakan
(dosa), Allah berpaling dari manusia. Demikianlah terjadi
semacam “perceraian” antara Allah dengan manusia.
Perceraian di antara Allah dengan manusia inilah masalah
mendasar yang dibahas Kitab Suci.
Dalam Perjanjian Lama, Allah mengatakan kepada
kita, “Apakah engkau akan percaya kepada-Ku, kalau Aku
mengatakan bahwa Aku akan melakukan sesuatu tentang
perceraian itu?” Dalam Perjanjian Baru Allah mengatakan
kepada kita, “Apakah engkau akan percaya kepada-Ku,
kalau Aku mengatakan bahwa Aku telah melakukan

sesuatu tentang perceraian itu?” Sebab Perjanjian Lama
mengatakan, “Yesus akan datang untuk memperdamaikan
perceraian di antara Allah dengan ciptaan-Nya.” Perjanjian
Baru memberitahukan kabar baik ini: Yesus telah datang,
dan ketika Yesus datang, Ia telah memperdamaikan
perceraian di antara Allah dengan manusia.”
Selain pembagian utama antara Perjanjian Lama
dengan Perjanjian Baru, ada pembagian lebih lanjut dari
masing-masing Perjanjian. Kitab-kitab
dalam Perjanjian
Lama terbagi menjadi lima kelompok.
Pertama, ada lima kitab Hukum. Dalam kelima kitab
Hukum ini, Allah menjelaskan apa yang benar dan apa
yang salah, memberi kita standar kebenaran-Nya.
Berikutnya, sepuluh kitab Sejarah, yang pada intinya
menjelaskan bahwa terkadang umat Allah mematuhi
kitab Hukum tersebut dan terkadang tidak. Kisah mereka
menjadi teladan dan peringatan bagi kita. Ayat kunci bagi
seluruh sejarah yang dicatat dalam Alkitab ditemukan
dalam Perjanjian Baru. Paulus mengatakan bahwa segala
yang terjadi pada orang yang kita baca kisahnya dalam
Alkitab adalah untuk menjadi teladan dan peringatan.
Ketika mereka mematuhi Firman yang Allah berikan kepada
mereka, mereka menjadi teladan bagi kita. Ketika mereka
mengikuti kehendak mereka sendiri, mereka menjadi
peringatan bagi kita